AIR
FOTO & VIDEO
MAI
MASYARAKAT ADAT
VIDEO
WAWANCARA
West Papua
Masyarakat Adat Independent (MAI) meminta kepada Pemda Kab Mimika, PT.Freeport Indonesia, PT.Perkebunan Agro Lestari agar bertanggung jawab terhadap krisis air di Kabupaten Mimika.
Tampilkan postingan dengan label West Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label West Papua. Tampilkan semua postingan
PUISI
SASTRA DAN BUDAYA
West Papua
Oleh: yesaya gobay
Ku telah di bentuk dan di atur olehnya.
Sebagai ciptaan yang paling mulia.
Gunung gunung yang indah,
hijaunya dedaun daun yang rimbah dan pohon pohon yang menjulang tinggi di sana ku di tempatkan.
Ras ku melanesia. Aku papua.
Aku memiliki bangsa yang besar, dan memiliki suku dan budaya yang erat di dalamnya.
Aku berbeda dengan tetangga sebelahan ku. Beda yang sangat jauh.
Beda ras, beda kulit, beda rambut, hingga beda sejarah.
namun adanya kepentingan
yang mempersamakan dan menganeksasi ku.
Aku bukan miskin namun aku di miskinkan. Karena hadirnya aneksasi.
Aku kaya alam ku melimpah.
Banyak orang mementingkan alam ku dan tak mementingkan ku.
Banyak orang, kaya dari kekayaan ku dan aku di miskinkan di tanah ku sendiri.
seolah olah aku tak punya apa apa.
Aku sayang alam ku, aku cinta negeri ku.
Semangat ku terus ada di jalan jalan,
untuk menyuarahkan kebenaran.
_____** "Muno Gembel bali"
Bangga jadi papua
Oleh: yesaya gobay
Ku telah di bentuk dan di atur olehnya.
Sebagai ciptaan yang paling mulia.
Gunung gunung yang indah,
hijaunya dedaun daun yang rimbah dan pohon pohon yang menjulang tinggi di sana ku di tempatkan.
Ras ku melanesia. Aku papua.
Aku memiliki bangsa yang besar, dan memiliki suku dan budaya yang erat di dalamnya.
Aku berbeda dengan tetangga sebelahan ku. Beda yang sangat jauh.
Beda ras, beda kulit, beda rambut, hingga beda sejarah.
namun adanya kepentingan
yang mempersamakan dan menganeksasi ku.
Aku bukan miskin namun aku di miskinkan. Karena hadirnya aneksasi.
Aku kaya alam ku melimpah.
Banyak orang mementingkan alam ku dan tak mementingkan ku.
Banyak orang, kaya dari kekayaan ku dan aku di miskinkan di tanah ku sendiri.
seolah olah aku tak punya apa apa.
Aku sayang alam ku, aku cinta negeri ku.
Semangat ku terus ada di jalan jalan,
untuk menyuarahkan kebenaran.
_____** "Muno Gembel bali"
ARTIKEL
FREEPORT
OPINI
West Papua
Oleh: Deteanus Abugau
Kepentingan untuk rakyat Papua memerlukan pertimbangkan antar Tujuh wilayah yang mendiami di Tanah Papua dan melihat hadirnya perusahan Freeport di tengah suku-suku yang mendiami area Freeport atau pun kepada para pekerja Orang Asli Papua, perlu mempertanyakan apakah Freeport akan merusak seluruh Papua ataukah hanya area Freeport pada masa yang akan datang? dan yang paling terutama kesadaran penting untuk suku Amungme dan Kamoro menyangkut pada anak cucu berikutnya, di manakah mereka akan hidup untuk mencari makan dan minum serta tempat berburu, bila Freeport di tutup dan apakah lingkungan alam freeport akan kembali semula seperti tahun 1960-an dengan jaminan penuh. Tetapi di sayangkan para penguasa Freeport akan membiarkan dan tidak akan ganti rugi alam menjadi semula dan tidak menafkahi kehidupan dua suku tersebuat lagi, karena merupakan acountabilitas lagi. Maka dengan ringkas saya menulis bagian dari catatan untuk kesadaran demi anak cucu kedepan.
Sejarah PT. Freeport Indonesia masuk ke tanah Amungsa dan Bumi Kamoro penuh dengan kebohongan terhadap orang-orang tua . Penipuan untuk merampas hak-hak warisan leluhur contoh terjadi pada tahun 1960-an dimana Gunung Nemangkawi yang berlimpa ganda dengan Emas, Perak, Timah, Solibidium, yang ditutupi oleh salju abadi ditukar dengan 1 kaleng korner, tembakau & Kampak untuk menguasai tempat kedua suku tersebut.
Hal serupa terjadi di Kuala Kencana pada tahun 1994 pemerintah dengan paksa (todong dengan senjata) terhadap masyarakat adat untuk menyerahkan tanah adat kepada pemerintah agar dipergunakan untuk kepentingan PT. Freeport Indonesia bersama para kapitalis. Tanah dengan ukuran 25,000 hekter dibayar (sebagai rekognisi) kepada masyarakat adat Kamoro dari Iwaka dengan:
1. 150 Drem kosong
2. Rumah berbahan dasar triplex
3. Renovasi gedung gereja
4. Memberi bantuan obat
Apakah ganti rugi diatas sebanding dengan tanah seluas 25,000 hekter? wahhh....SADIS...PT. Freeport Indonesia mengakui dirinya bahwa sudah tidak punya hutang lagi kepada Masyarakat adat pemilik hak ulayat Kuala Kencana yaitu Amungme dari Arowanop dan Kamoro dari Iwaka.
Potret Gunung NemangKawi Dulu & Sekarang.Freeport McMoRan adalah perusahan tambang asal Amerika Serikat & pertama di Indonesia.Maka Kehadiran Freeport di tanah Amungsa bumi kamoro tentu saja melalui negara Indonesia.Namun demikian Negara sudah mengubah potret Nemangkawi ini, seperti Gunung 1 tertampak. Maka negara sudah menampar wajah orang Papua secara serius & berkelanjutan tidak ada harapan untuk hidup lagi kedepannya.
Akan tetapi kondisi belakangan ini & kini terlihat bahwa negara melalu seperangkat regulasinya bernyanyi sedemikian keras & bernyaring sedemikian kurang ajar.Tanpa mereka dipahami ujung dari permainan atau kisruh Negara Freeport belakangan ini sebagai kebodohan.
Hai!! Marilah generiasi Amungme & Kamoro serta orang Papua melihat bersama hak kesucian. Penghilangan hak suci Amungme bukanlah perkara kecil bagi negara ini ¶ korporasi, tapi mutlak di perjuangkan dengan cara2 yang bermartabat, demi keadilan bagi bangsa Papua.
Nemangkawi ada di tanah Amungsa& bumi Kamoro...,
Gunung Nemangkawi di Tanah Amungsa dan Bumi Kamoro
Analisis Pribadi, Ketika saya menganalisa sejarah pelepasaan tanah Kuala Kencana pada tahun 1994 adalah CACAT HUKUM dimana pada saat itu Papua menjadi daerah Daerah Operasi Militer (DOM) sehingga orang-orang tua tidak punya kekuatan untuk mempertahankan pendapat mereka. Lebih disayangkan lagi melihat orang-orang tua yang tidak tahu membaca, menulis dan tidak tahu berbahasa Indonesia (buta huruf).
"Dulu Zaman Presiden Soeharto" pelanggaran HAM terhadap Masyarakat sipil orang Papua sangat tinggi sampai dengan kehilangan jutaan nyawa, dan orang Indonesia tidak merasa bahwa masyarakat Papua itu bagian dari Negara kesatuan Republik Indonesia NKRI melainkan orang Papua bukan pemilik tanah Freeport itu sendiri.
Sekarang Pemerintah Pusat Mendekatkan degan masyarakat Papua untuk mendukung agar Operasi penambangan Freeport ini, diolah oleh Pemerintah Indonesia."Pernyataan Saya" Masyarakat Papua tidaksepakat bila orang Amerikamengola Freeport melaluiPemerintah Indonesia, terutama harus selesaikan masalah pelanggaran HAM di Tanah Papua dari tahun 60an sampai dengan 90an di area PT. Freeport dan rakyat yang terancam melalui PT. Freeport sehingga untuk selanjutnya akan di atur bersama Pemerintah Indonesia kelola Penambangan PT.Freeport di tanah Papua atau kah ditutup.
Kalau sebelum selesaikan persoalan itu mohon sabar dalam kegiatan aksi demo,dukungan pemerintah dll. Pasti Tuhan punya waktu untuk kami Masyarakat Papua.
" Heran" Selama 50th Freeport berada di tanah Amungsa.Tidak ada kontirbusi berupa apapun bagi masyarakat Papua maupunmasyaratlokal sesuai kesepakatan MOU tahun 1974. Saat ini Masyarakat hak ulayat merasa dirugikan oleh Freeport McMoran. Itu artinya bahwa" SETAN"sudah makan" Jantung dan uluh hati Papua pada umumnya dan khususnya suku Amungme &bumiKamoro. Saat ini berbagai macam manusia di belahanduniaberbicara tentang Freeport baik dari kalangan petinggi Negara,suku,ras pemerintah Daerah,lembaga adat,menamai masyarakat Lokal, tokoh pemuda maupun kaum Intektual. Semua elemen ini bukan untuk menyelamatkan orang Papuadankeduasuku yang sedang sakit tetapi mengurus kepentingan masing2 demi ekonomi keluarga.
setiap orang Papuamaupun 2 suku yang berdomisili di areal mimikamenyatakanbahwa : Freeport Tutup.dalamhaliniTerlihat ada sebagian orang Papua menyatakan tutup FREEPORT & sebagian menyatakan dilanjutkan Kontrak karya FREEPORT di tanah Amungsa-bumi Kamoro di Timika atau dinasionalisasikan.
Mereka yang menyatakan tutup Freeport adalah mereka memahamipersoalan yang terjadiditanah Papua agar memintahsolusi Pemerintah pusat. Artinya tutup Freeport dan memilih memintahakmenentukannasibsendiri bagi Rakyat Papua Barat di karenakan hadirnya PT.Freeport sebagai pembungkaman sejarah Papua Barat yang mana telah merdeka dan proklamsikan pada 1 Desember 1961. Dan ketakutan hilangnya hutan, gegarnya budaya kedua suku, limbah dari freeport menyebar seluruh Papua, dampak kemiskinan akan terasa. Di bandingkan yang nasionalisasi mereka hanya sebagai kepentingan ekonomi keluarga dan kepentingan negara kolonial Indonesia serta kepentingan kaum kapitalist dan imprealist.
Masyarakat adat Amungme & kamoro di areal konsesi Freeport berhak menarik tanah adat ditangan negara ini. Atau berhak memilih & membelah Freeport. Karena alasan adat & budaya.
Tapi juga berhak menukar SDA ke negara lain dengan sesuatu yang lebih luas dengan Waktu tertentu.
Pemerintah pusat jangan lupakan bahwa di sudut Gunung Nemangkawi (Carstenzs) ada pemiliknya. Cukup kami menderita kerugian selama 50 tahun karena KK I tahun 1967 - 1990 dan KK II tahun 1991 - 2021, pemerintah pusat tidak melibatkan masyarakat pemilik Hak Ulayat. Masa itu, memang terjadi demikian karena kami belum mengerti (masyarakat awam), sekarang kami mengerti (terpelajar). Pemerintah mengambil manfaat dari tanah kami/harta kekayaan kami digeruk tanpa memberikan kompensasi seimbang.
Kami sangat menghargai UUD 1945 Pasal 33. Namun negara juga perlu mengerti keberadaan suku amungme dan suku kamoro. Karena kekayaan yang negara ambil bukan barang yang bisa dapat diperbarui, mineral yang diambil adalah mineral yang tidak dapat diperbarui, sehingga yang mana negara telah tidak membantu kebangkitan masyarakat pemilik hak ulayat artinya negara sedang menciptakan penderitaan permanent bagi anak cucu kedepan kedua suku tersebut dan lebih khusus juga oaran Papua. Bila mana negara bersama entitas bisnis membangun masyarakat dan memberikan sebagaian hak selaku pemilik hak ulayat, menghormati negara bahwa ada niat baik membangun kehidupan dan masa depan kami karena disaat perusahaan tutup, kami tetap kuat berdiri di atas kaki kami sendiri. Namun selama 50 tahun (1967 - 2017) kami telah menderita kerugian, kehilangan dan jatuh miskin. Sekarang mau terulang kembali sejarah kelam tersebut.
Saya minta LSM yang bertindak sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat tidak diperkenankan memperkeruh situasi di Timika dengan berusaha merangkul kepala-kepala suku yang notabene bukan berasal dari masyarakat Amungme dan Kamoro. Berikan harapan-harapan yang kosong. MEEPAGO dan LAPAGO relevan bicara mengenai wilayah adat Bomberai.saya akui bahwa ada 2 - 3 orang asli Amungme yang ikut kelompok tersebut tetapi itu tidak cukup representatif dari masyarakat Amungme dari Mbrum Mbram - Delematagal dan wilayah Kamoro dari Nakai - Waripi.
Perlu menghimbau bahwa masyarakat kecil (akar rumput) tidak menginginkan pemerintah pusat membawa masalah dalam kehidupan Orang Papua. Kami bicara fakta dan data bukan berbohong.
saya tidak keberatan sekali pun bila negara punya kebijakan untuk kepentingan nasional, namun saya minta yang menjadi ukuran tidak hanya kepentingan nasional. Negara mengambil kebijakan selain kepentingan pusat menjadi pertimbangan, kepentingan orang lokal juga harus dipertimbangkan. PP No. 1 Tahun 2017, tentang IUPK dalam rangka penerapan UU No. 4 Tahun 2009, Tentang Minerba. Sehubungan dengan kebijakan tersebut, minta Menteri Koordinator Kemaritiman dan Menteri ESDM mempertimbangkan agenda merubah KK menjadi IUPK karena kebijakan tersebut akan menyulitkan masyarakat penerima manfaat dari PTFI. Mohon mempertimbangkan hal tersebut dengan arif dan bijaksana. Dan lebih pentingnya ditutup dan tidak nasionalisasikan lagi, biar area Freeport kembali semula untuk mempertahankan anak cucuk berikutnya.
Sayang Suku Amungme dan Suku Kamoro
Sayang Tanah Papua
Sayang Papua Merdeka
Sayang Rakyat Papua
PT.Freeport dalam Kewaspadaan
Oleh: Deteanus Abugau
Kepentingan untuk rakyat Papua memerlukan pertimbangkan antar Tujuh wilayah yang mendiami di Tanah Papua dan melihat hadirnya perusahan Freeport di tengah suku-suku yang mendiami area Freeport atau pun kepada para pekerja Orang Asli Papua, perlu mempertanyakan apakah Freeport akan merusak seluruh Papua ataukah hanya area Freeport pada masa yang akan datang? dan yang paling terutama kesadaran penting untuk suku Amungme dan Kamoro menyangkut pada anak cucu berikutnya, di manakah mereka akan hidup untuk mencari makan dan minum serta tempat berburu, bila Freeport di tutup dan apakah lingkungan alam freeport akan kembali semula seperti tahun 1960-an dengan jaminan penuh. Tetapi di sayangkan para penguasa Freeport akan membiarkan dan tidak akan ganti rugi alam menjadi semula dan tidak menafkahi kehidupan dua suku tersebuat lagi, karena merupakan acountabilitas lagi. Maka dengan ringkas saya menulis bagian dari catatan untuk kesadaran demi anak cucu kedepan.
Sejarah PT. Freeport Indonesia masuk ke tanah Amungsa dan Bumi Kamoro penuh dengan kebohongan terhadap orang-orang tua . Penipuan untuk merampas hak-hak warisan leluhur contoh terjadi pada tahun 1960-an dimana Gunung Nemangkawi yang berlimpa ganda dengan Emas, Perak, Timah, Solibidium, yang ditutupi oleh salju abadi ditukar dengan 1 kaleng korner, tembakau & Kampak untuk menguasai tempat kedua suku tersebut.
Hal serupa terjadi di Kuala Kencana pada tahun 1994 pemerintah dengan paksa (todong dengan senjata) terhadap masyarakat adat untuk menyerahkan tanah adat kepada pemerintah agar dipergunakan untuk kepentingan PT. Freeport Indonesia bersama para kapitalis. Tanah dengan ukuran 25,000 hekter dibayar (sebagai rekognisi) kepada masyarakat adat Kamoro dari Iwaka dengan:
1. 150 Drem kosong
2. Rumah berbahan dasar triplex
3. Renovasi gedung gereja
4. Memberi bantuan obat
Apakah ganti rugi diatas sebanding dengan tanah seluas 25,000 hekter? wahhh....SADIS...PT. Freeport Indonesia mengakui dirinya bahwa sudah tidak punya hutang lagi kepada Masyarakat adat pemilik hak ulayat Kuala Kencana yaitu Amungme dari Arowanop dan Kamoro dari Iwaka.
Potret Gunung NemangKawi Dulu & Sekarang.Freeport McMoRan adalah perusahan tambang asal Amerika Serikat & pertama di Indonesia.Maka Kehadiran Freeport di tanah Amungsa bumi kamoro tentu saja melalui negara Indonesia.Namun demikian Negara sudah mengubah potret Nemangkawi ini, seperti Gunung 1 tertampak. Maka negara sudah menampar wajah orang Papua secara serius & berkelanjutan tidak ada harapan untuk hidup lagi kedepannya.
Akan tetapi kondisi belakangan ini & kini terlihat bahwa negara melalu seperangkat regulasinya bernyanyi sedemikian keras & bernyaring sedemikian kurang ajar.Tanpa mereka dipahami ujung dari permainan atau kisruh Negara Freeport belakangan ini sebagai kebodohan.
Hai!! Marilah generiasi Amungme & Kamoro serta orang Papua melihat bersama hak kesucian. Penghilangan hak suci Amungme bukanlah perkara kecil bagi negara ini ¶ korporasi, tapi mutlak di perjuangkan dengan cara2 yang bermartabat, demi keadilan bagi bangsa Papua.
Nemangkawi ada di tanah Amungsa& bumi Kamoro...,
Gunung Nemangkawi di Tanah Amungsa dan Bumi Kamoro
Analisis Pribadi, Ketika saya menganalisa sejarah pelepasaan tanah Kuala Kencana pada tahun 1994 adalah CACAT HUKUM dimana pada saat itu Papua menjadi daerah Daerah Operasi Militer (DOM) sehingga orang-orang tua tidak punya kekuatan untuk mempertahankan pendapat mereka. Lebih disayangkan lagi melihat orang-orang tua yang tidak tahu membaca, menulis dan tidak tahu berbahasa Indonesia (buta huruf).
"Dulu Zaman Presiden Soeharto" pelanggaran HAM terhadap Masyarakat sipil orang Papua sangat tinggi sampai dengan kehilangan jutaan nyawa, dan orang Indonesia tidak merasa bahwa masyarakat Papua itu bagian dari Negara kesatuan Republik Indonesia NKRI melainkan orang Papua bukan pemilik tanah Freeport itu sendiri.
Sekarang Pemerintah Pusat Mendekatkan degan masyarakat Papua untuk mendukung agar Operasi penambangan Freeport ini, diolah oleh Pemerintah Indonesia."Pernyataan Saya" Masyarakat Papua tidaksepakat bila orang Amerikamengola Freeport melaluiPemerintah Indonesia, terutama harus selesaikan masalah pelanggaran HAM di Tanah Papua dari tahun 60an sampai dengan 90an di area PT. Freeport dan rakyat yang terancam melalui PT. Freeport sehingga untuk selanjutnya akan di atur bersama Pemerintah Indonesia kelola Penambangan PT.Freeport di tanah Papua atau kah ditutup.
Kalau sebelum selesaikan persoalan itu mohon sabar dalam kegiatan aksi demo,dukungan pemerintah dll. Pasti Tuhan punya waktu untuk kami Masyarakat Papua.
" Heran" Selama 50th Freeport berada di tanah Amungsa.Tidak ada kontirbusi berupa apapun bagi masyarakat Papua maupunmasyaratlokal sesuai kesepakatan MOU tahun 1974. Saat ini Masyarakat hak ulayat merasa dirugikan oleh Freeport McMoran. Itu artinya bahwa" SETAN"sudah makan" Jantung dan uluh hati Papua pada umumnya dan khususnya suku Amungme &bumiKamoro. Saat ini berbagai macam manusia di belahanduniaberbicara tentang Freeport baik dari kalangan petinggi Negara,suku,ras pemerintah Daerah,lembaga adat,menamai masyarakat Lokal, tokoh pemuda maupun kaum Intektual. Semua elemen ini bukan untuk menyelamatkan orang Papuadankeduasuku yang sedang sakit tetapi mengurus kepentingan masing2 demi ekonomi keluarga.
setiap orang Papuamaupun 2 suku yang berdomisili di areal mimikamenyatakanbahwa : Freeport Tutup.dalamhaliniTerlihat ada sebagian orang Papua menyatakan tutup FREEPORT & sebagian menyatakan dilanjutkan Kontrak karya FREEPORT di tanah Amungsa-bumi Kamoro di Timika atau dinasionalisasikan.
Mereka yang menyatakan tutup Freeport adalah mereka memahamipersoalan yang terjadiditanah Papua agar memintahsolusi Pemerintah pusat. Artinya tutup Freeport dan memilih memintahakmenentukannasibsendiri bagi Rakyat Papua Barat di karenakan hadirnya PT.Freeport sebagai pembungkaman sejarah Papua Barat yang mana telah merdeka dan proklamsikan pada 1 Desember 1961. Dan ketakutan hilangnya hutan, gegarnya budaya kedua suku, limbah dari freeport menyebar seluruh Papua, dampak kemiskinan akan terasa. Di bandingkan yang nasionalisasi mereka hanya sebagai kepentingan ekonomi keluarga dan kepentingan negara kolonial Indonesia serta kepentingan kaum kapitalist dan imprealist.
Masyarakat adat Amungme & kamoro di areal konsesi Freeport berhak menarik tanah adat ditangan negara ini. Atau berhak memilih & membelah Freeport. Karena alasan adat & budaya.
Tapi juga berhak menukar SDA ke negara lain dengan sesuatu yang lebih luas dengan Waktu tertentu.
Pemerintah pusat jangan lupakan bahwa di sudut Gunung Nemangkawi (Carstenzs) ada pemiliknya. Cukup kami menderita kerugian selama 50 tahun karena KK I tahun 1967 - 1990 dan KK II tahun 1991 - 2021, pemerintah pusat tidak melibatkan masyarakat pemilik Hak Ulayat. Masa itu, memang terjadi demikian karena kami belum mengerti (masyarakat awam), sekarang kami mengerti (terpelajar). Pemerintah mengambil manfaat dari tanah kami/harta kekayaan kami digeruk tanpa memberikan kompensasi seimbang.
Kami sangat menghargai UUD 1945 Pasal 33. Namun negara juga perlu mengerti keberadaan suku amungme dan suku kamoro. Karena kekayaan yang negara ambil bukan barang yang bisa dapat diperbarui, mineral yang diambil adalah mineral yang tidak dapat diperbarui, sehingga yang mana negara telah tidak membantu kebangkitan masyarakat pemilik hak ulayat artinya negara sedang menciptakan penderitaan permanent bagi anak cucu kedepan kedua suku tersebut dan lebih khusus juga oaran Papua. Bila mana negara bersama entitas bisnis membangun masyarakat dan memberikan sebagaian hak selaku pemilik hak ulayat, menghormati negara bahwa ada niat baik membangun kehidupan dan masa depan kami karena disaat perusahaan tutup, kami tetap kuat berdiri di atas kaki kami sendiri. Namun selama 50 tahun (1967 - 2017) kami telah menderita kerugian, kehilangan dan jatuh miskin. Sekarang mau terulang kembali sejarah kelam tersebut.
Saya minta LSM yang bertindak sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah pusat tidak diperkenankan memperkeruh situasi di Timika dengan berusaha merangkul kepala-kepala suku yang notabene bukan berasal dari masyarakat Amungme dan Kamoro. Berikan harapan-harapan yang kosong. MEEPAGO dan LAPAGO relevan bicara mengenai wilayah adat Bomberai.saya akui bahwa ada 2 - 3 orang asli Amungme yang ikut kelompok tersebut tetapi itu tidak cukup representatif dari masyarakat Amungme dari Mbrum Mbram - Delematagal dan wilayah Kamoro dari Nakai - Waripi.
Perlu menghimbau bahwa masyarakat kecil (akar rumput) tidak menginginkan pemerintah pusat membawa masalah dalam kehidupan Orang Papua. Kami bicara fakta dan data bukan berbohong.
saya tidak keberatan sekali pun bila negara punya kebijakan untuk kepentingan nasional, namun saya minta yang menjadi ukuran tidak hanya kepentingan nasional. Negara mengambil kebijakan selain kepentingan pusat menjadi pertimbangan, kepentingan orang lokal juga harus dipertimbangkan. PP No. 1 Tahun 2017, tentang IUPK dalam rangka penerapan UU No. 4 Tahun 2009, Tentang Minerba. Sehubungan dengan kebijakan tersebut, minta Menteri Koordinator Kemaritiman dan Menteri ESDM mempertimbangkan agenda merubah KK menjadi IUPK karena kebijakan tersebut akan menyulitkan masyarakat penerima manfaat dari PTFI. Mohon mempertimbangkan hal tersebut dengan arif dan bijaksana. Dan lebih pentingnya ditutup dan tidak nasionalisasikan lagi, biar area Freeport kembali semula untuk mempertahankan anak cucuk berikutnya.
Sayang Suku Amungme dan Suku Kamoro
Sayang Tanah Papua
Sayang Papua Merdeka
Sayang Rakyat Papua
ARTIKEL
OPINI
West Papua
Oleh: benny magal.
Saya akan bercerita sedikit tentang ingatan (akan) penderitaan, orang pintar dong (mereka) bilang Memoria passionis. Memoria Passionis ini diperkenalkan oleh seorang bapak Teolog Jerman, J. B. Metz. Dalam analisisnyaa, beliau mengatakan bahwa teori ingatan penderitaan itu adalah aras yang membawa setiap manusia untuk melihat kembali segala bentuk penderitaan yang pernah terjadi di masa lalu. Masa lalunya dipenuhi dengan Ingatan – ingatan penderitaan, sejaka usianya 16 tahun, beliau direkrut sebagai kurir oleh pemerintah NAZI dan mengalami goncangan jiwa yang berat pada saat kembali ke kota kelahirannya, lantaran kawan sebayanya dibunuh. Ratapan dan tangisan tanpa kata yang tidak dapat didamaikan menghantui jalan hidupnya. Tempat dia lahir, kejadian-kejadian yang menyedihkan seperti pembunuhan terhadap golongan Yahudi yang jutaan jumlahnya, dan suasana kota itu menjelang kejadian-kejadian tragis di situ sangat berpengaruh dalam hidup dan pergumulan teologinya. Namun begitu, dalam teori ingatan penderitaan, setiap manusia dengan segala penderitaan yang pernah dialami, harus maju dan lawan dan terus menjadi lebih baik.
Apa yang dirasakan Teolog Jerman, J. B. Metz, tidak jauh beda dengan apa yang sa alami dan sebagian teman teman Papua lainya. Tulisan ini menjadi bagian dari penderitaan yang telah di hitam putihkan dan Sa ingin berbagi pengalaman kehidupan. pengalaman ini menggisyakan tentang bagaimana institusi negara berperan dalam kehidupan masyarakat Amungme di kala itu. Saya melihat, saya merasakan, dan saya menjadi korban itulah yang akan menjadi dinamika tulisan ini. Didalam tulisan ini, lebih banyak saya ambil berdasarkan pengalam pribadi, memori masa lalu yang masih semar- semar. Dan juga saya banyak mendengar tentang cerita orang tua, ketika duduk minum kopi didepan teras rumah atau ditungku api. Bahasa daerah selalu menjadi bagian dari percakapan orang tua. Kadang mereka bercerita tentang mereka dipukul lalu mereka saling menertawai, kadang juga mereka bercerita sambil menangis. Mereka adalah pelaku sejarah dan saya akan menulis setiap sejarah tua itu.
Entahlah, jika mungkin menurut anda (pembaca) nantinya menilai ini seperti apa? obejektif atau subjektif tulisan ini. Disini saya hanya mau berbagai cerita tentang masa lalu. masa lalu yang tidak boleh dilupakan, Jasmerah !! kata bapak founder kita Soekarno. Silahkan bagaiaman nantinya anda simpulkan bagaimana institusi negara berperan saat itu? bagaimana Freeport dan Militer memperluas hegemonynya di tengah tengah masyakarat Amungme saat itu.
selamat membaca!
Di depan pintu terdengar suara gesekan sepatu laras dan suara ketokan pintu (ketoknya dengan sepatu) agak sedikit kasar dengan bertutur “ buka pintu cepat!! Siapa sini yang disebut Mama Yosepha Alomang?? Cepat bilang!!” sambil menodong Moncong setrum senjata jenis Mosser didepan wajah Mama dan tanta saya. Karena begitu paksa dengan suara yang keras dan gertakan moncong senjata, mama saya berdiri dan Mama saya menjawab “Saya Yosepah Alomang, kenapa? Kao mau apa!! dengan suara yang sangat lantang. Lalu ada beberapa Anggota ABRI yang dibelakang mungkin sebagai komandannya mengatakan“itu bukan mama Yosepah Alomang! Cepat cari di sampai dapat ! dan bawa dia ke Mabes”.
Waktu itu jam 10:09 kurang tepatnya begitu, saya ingat betul saya sedang makan pisang goreng didepan teras rumah Kwamki Baru (lorong Amole). Saya melihat 2 mobil milik perusahan Freeport berlogo Toyota yang ditumpangi oleh ABRI. 1 Mobil parkir agak sedikit jauh dari rumah dan satunya persis disamping rumah. Mereka ada 5 orang, 1 didalam mobil dan 4 nya menuju ke rumah. Kalau mobil yang parkir jauh saya tidak melihat pergerakan orang dari mobil tersebut. Karena saya takut saya masuk ke rumah dan saya kasih tahu mama. Dengan keadaan terbata bata mama mengeser kain orden, ternyata benar. Mama memberitahukan beberapa kakak laki laki dan kemenakan untuk keluar lewat belakang rumah. Karena waktu itu mungkin mama pikir akan sangat berbahaya jika ada para lelaki, kalau laki laki ketemu laki mungkin akan ada percikan api namun kalau perempuan sama laki laki mungkin percikan itu sedikit diredem. Hasilnya pun seperti kalimat pada paragraf pertama.
Dua Paragraf diatas itu merupakan beberapa rekaman jejak, saya ingat jelas. Mama saya dipaksa keluar dan dipaksa cari kakak perempuan yang bernama Yosepah Alomang. Yosepah Alomang meruapakan seorang figur yang saat itu menjadi ketakutan konglomerat Freeport dan pihak yang berkepentingan. Freeport telah masuk sejak 1967 dan telah merusak tanah adat Suku Amungme, membuat hampir 1.000 lebih banyak yang lari keluar dari daerahnya Tembagapura (kampung Waa) dan bersembunyi di hutan – hutan belantara, banyak yang mati di hutan karena kelaparan, kena penyakit malaria. Masyarakat takut, karena saat itu Freeport ditumpangi militer masuk dan memaksa keluar masyarakat pemilik Nemangkawi (Tembagapura). Akhirnya masyarakat membuka kampung baru seperti Agimuga, dan mungkin juga Jila, Bela Alama. Jika duduk dengan orang tua hal ini sering diceritakan.
Karena itulah muncul seorang figur yaitu kakak Yosepah Alomang selain Kelly Kwalik dihutan. Saya pikir menjadi tantangan para elit kekuasaan karena beliau mampu menyadarkan dan mampu memobilisasi seluruh eleman masyarakat saat itu bahwa kita harus lawan ketidakadilan, lawan kerusakan lingkungan, lawan militeristik yang sewenang wenang. Sehingga berbagai hasilpun dicapai, protes dan demo besar besar terhadap Freeport, perusakan fasilitas freeport. Banyak hal yang mungkin menjadi ketakutan Freeport dan keputusannya adalah tangkap, penjarakan, hilangkan yang berani melawan.
Pada tahun 1977 Militer Masuk di Kwamki Baru dan mendarat di Airport Timika dengan Pesawat Herkules besar. Saya tanya kepada bapa adik saya, “Bapa ini tentara dari mana yang masuk ini”? Bapa saya, Paulus Magal mengatakan bahwa “ Anak jaga lihat besok lusa tentara itu yang nanti makan kita“ kemudian saya bertanya lagi, kenapa mereka mau makan kita jadi? Bapa bilang, “mau mengamankan Timika jadi mereka datang” (seorang mama Papua)
Kalimat diatas merupakan dialog seorang mama, Yosepah Alomang bersama Bapa adiknya Paulus Magal yang merupakan kakak dan tete saya. Mereka berdua merupakan gambaran dari korban kehadiran Militer yang tujuannya untuk mengamankan Daerah Operasi Pertambangan (DOP). Pengirimian terus dilakuakan untuk menjaga agar masyarakat atau Gerakan Pemberontak yang dicap oleh Aparat sebagai OPM tidak menggangu pengoperasian. Banyak sekali penembakan yang sering terjadi di daerah Pengoperasian Freeport yang menurut hemat saya itu merupakan manipulasi. Saya pikir Freeport menjadi proyek aparat. Sampai saat ini Keamanan diarea Freeport terus diperketat. Dari Mile 32 hingga tambang terbuka (overbound) sepanjang lika liku jalan beberapa meter pasti ada post militer.
Saya banyak dengar dari Mama tentang kasus kasus yang telah melibatkan peran militer dalam menjaga perusahan besar ini. Pernah mama bercerita di tahun 1977 masih teringat di benak mama, kehadiran Militer dengan ditumpangi kepentingan ekonomi Negara ini. Mengundang kelu- kesah yang menyakitkan sebagian masyarakat asli Amungme dan Kamoro. Sejak itu, mama bilang bahwa kehidupan Masyarakat Amungme dan Kamoro mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan itu terlihat pada formasi struktur kehidupan masyarakat Amungme & Kamoro yang dulunya adalah Pekerja keras untuk mendapatkan makanan namun hal itu telah hilang secara perlahan lahan, masyarakat sekarang hidupnya sangat Konsumtif. Freeport membawa masuk wanita – wanita dari luar untuk memuaskan napsu para pekerja, sekarang disebut KM10. Banyak anak anak muda yang suka Mabuk mabuk, keluarga menjadi berantakan. Mama bilang ini merupakan hasil dari kehadiran Freeport.
Freeport dan Militer dan dihiasi gerakan pengibaran bendera di gereja tiga raja menjadi cerita hidup saya. Umur saya waktu itu menjelang 9 tahun. Sehingga saya masih terbayang bayang sendiri kekerasan waktu itu. Freeport dan Militer menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Setelah kejadian yang menimpah keluarga saya kini situasinya beranjak naik diakhiran tahun 1990 – 2000 situasi di mana gencar – gencarnya masyarakat Papua memperjuangkan kembali kemerdekaan bangsa Papua setelah diredup oleh rejim soeharto selama 32 tahun. Waktu itu saya ingat betul didepan gereja katolik Tiga raja (Katederal) Massa berkumpul lalu mendirikan Pos satgas mengelilingi gereja, dalam pos itu setiap daerah dari kepala burung hingga ekor burung mengambil bagian. Berkumpul bernyanyi, menari, bercerita bersering menjadi kegiatan keseharian masyarakat saat itu.
Ketika memasuki bulan Januari, tepatnya tanggal 7 – 8 tidak dapat dibendung kemarahaan para Aparatur negara (brimob,kavaleri, infantri, dll.) tepat di depan gereja tiga raja lengkap dengan peralatan bersenjata (tank, senjata mesin besar, gas air mata, gernat dll). Semua peralatan itu terarah ke aksi yang dilakukan oleh masyarakat di dalam gereja. Saat itu saya berpikir kita akan ditembak mati habis. Karena situasi saat itu diandaikan seperti katak didalam tempurung. Lalu tepatnya jam 10 pagi, pagar depan gereja sudah bersesakan dan muncul aksi dorong mendorong pagar antara Satgas Papua dan pihak keamanan. Saat itu bendera bintang kejora sudah ada diatas tiang bendara, sehingga muncul kemarahan dari pihak keamanan untuk melepaskan bendera itu, salah satu cara adalah harus masuk. Peristiwa itu berujung pada penembakan, pembubaran, perusakan hingga memakan korban yang begitu besar. Mama saya jatuh tersungkur dipukul dibagian pinggang atas dengan pantat senjata sehingga mama pingsan. Mama dibawa lari ke rumah sakit karitas begitu juga korban lainya. Ada beberapa yang matanya rusak karena gas air mata, ada juga kakinya patah karena kena tembakan dan gernat. Saya pikir ini hal yang sudah dibiasakan oleh tindakan aparat yang sangat brutal dan membabi buta.
Institusi negara (militerisme) saat sangat berperan penting, di orde baru negara telah hadir hingga sampai pada struktur kecil dalam masyarakat. Struktur hirarki masih sangat jelas. Hampir mereka yang berada di setiap instansi di Papua beckgroundnya militer bahkan tentangga saya yang saat ini menjabat sebagai Ketua RT merupakan pensiunan militer. Sejak kecil saya dengan teman teman sering menjuluki Aparat Militer dengan istilah“kacang ijo” entalah saya tidak tahu kenapa bisa begtu, namun pastinya warna pakiannya tidak jauh beda dengan “Es kajang Ijo”.
Papua tanpa militer itu seperti burung tanpa sayap. Jika burung tidak ada sayap maka burung tersebut tidak akan terbang. Hal yang sama terjadi di Papua, Papua dianggap sekumpulan burung kecil tanpa sayap yang perlu dipaksa untuk bisa terbang. Namun sampai saat inipun burung tersebut bisa terbang namun sengaja dibuat tidak bisa terbang, itu logika sederhananya.
Akhir dari cerita pengalaman ini saya mau katakan bahwa banyak orang yang mengalami apa yang saya alami atau bahkan lebih parah. Cerita pengalaman hidup ini hanya sebagian kecil dari beribuh – ribuh cerita orang Papua yang ada dipedalaman, perbatasan, belantara hutan, sudah dihiliang tertelang rayap tanah. Saya anak muda yang masih hidup akan terus bercerita dan berbagi kesakitan mereka kepada mereka yang mungkin nasibnya sama diluar dari bangsa ini
*……*
Sa Masih Ingat Waktu itu; Luka Memoria Passionis
Oleh: benny magal.
Saya akan bercerita sedikit tentang ingatan (akan) penderitaan, orang pintar dong (mereka) bilang Memoria passionis. Memoria Passionis ini diperkenalkan oleh seorang bapak Teolog Jerman, J. B. Metz. Dalam analisisnyaa, beliau mengatakan bahwa teori ingatan penderitaan itu adalah aras yang membawa setiap manusia untuk melihat kembali segala bentuk penderitaan yang pernah terjadi di masa lalu. Masa lalunya dipenuhi dengan Ingatan – ingatan penderitaan, sejaka usianya 16 tahun, beliau direkrut sebagai kurir oleh pemerintah NAZI dan mengalami goncangan jiwa yang berat pada saat kembali ke kota kelahirannya, lantaran kawan sebayanya dibunuh. Ratapan dan tangisan tanpa kata yang tidak dapat didamaikan menghantui jalan hidupnya. Tempat dia lahir, kejadian-kejadian yang menyedihkan seperti pembunuhan terhadap golongan Yahudi yang jutaan jumlahnya, dan suasana kota itu menjelang kejadian-kejadian tragis di situ sangat berpengaruh dalam hidup dan pergumulan teologinya. Namun begitu, dalam teori ingatan penderitaan, setiap manusia dengan segala penderitaan yang pernah dialami, harus maju dan lawan dan terus menjadi lebih baik.
Apa yang dirasakan Teolog Jerman, J. B. Metz, tidak jauh beda dengan apa yang sa alami dan sebagian teman teman Papua lainya. Tulisan ini menjadi bagian dari penderitaan yang telah di hitam putihkan dan Sa ingin berbagi pengalaman kehidupan. pengalaman ini menggisyakan tentang bagaimana institusi negara berperan dalam kehidupan masyarakat Amungme di kala itu. Saya melihat, saya merasakan, dan saya menjadi korban itulah yang akan menjadi dinamika tulisan ini. Didalam tulisan ini, lebih banyak saya ambil berdasarkan pengalam pribadi, memori masa lalu yang masih semar- semar. Dan juga saya banyak mendengar tentang cerita orang tua, ketika duduk minum kopi didepan teras rumah atau ditungku api. Bahasa daerah selalu menjadi bagian dari percakapan orang tua. Kadang mereka bercerita tentang mereka dipukul lalu mereka saling menertawai, kadang juga mereka bercerita sambil menangis. Mereka adalah pelaku sejarah dan saya akan menulis setiap sejarah tua itu.
Entahlah, jika mungkin menurut anda (pembaca) nantinya menilai ini seperti apa? obejektif atau subjektif tulisan ini. Disini saya hanya mau berbagai cerita tentang masa lalu. masa lalu yang tidak boleh dilupakan, Jasmerah !! kata bapak founder kita Soekarno. Silahkan bagaiaman nantinya anda simpulkan bagaimana institusi negara berperan saat itu? bagaimana Freeport dan Militer memperluas hegemonynya di tengah tengah masyakarat Amungme saat itu.
selamat membaca!
Di depan pintu terdengar suara gesekan sepatu laras dan suara ketokan pintu (ketoknya dengan sepatu) agak sedikit kasar dengan bertutur “ buka pintu cepat!! Siapa sini yang disebut Mama Yosepha Alomang?? Cepat bilang!!” sambil menodong Moncong setrum senjata jenis Mosser didepan wajah Mama dan tanta saya. Karena begitu paksa dengan suara yang keras dan gertakan moncong senjata, mama saya berdiri dan Mama saya menjawab “Saya Yosepah Alomang, kenapa? Kao mau apa!! dengan suara yang sangat lantang. Lalu ada beberapa Anggota ABRI yang dibelakang mungkin sebagai komandannya mengatakan“itu bukan mama Yosepah Alomang! Cepat cari di sampai dapat ! dan bawa dia ke Mabes”.
Waktu itu jam 10:09 kurang tepatnya begitu, saya ingat betul saya sedang makan pisang goreng didepan teras rumah Kwamki Baru (lorong Amole). Saya melihat 2 mobil milik perusahan Freeport berlogo Toyota yang ditumpangi oleh ABRI. 1 Mobil parkir agak sedikit jauh dari rumah dan satunya persis disamping rumah. Mereka ada 5 orang, 1 didalam mobil dan 4 nya menuju ke rumah. Kalau mobil yang parkir jauh saya tidak melihat pergerakan orang dari mobil tersebut. Karena saya takut saya masuk ke rumah dan saya kasih tahu mama. Dengan keadaan terbata bata mama mengeser kain orden, ternyata benar. Mama memberitahukan beberapa kakak laki laki dan kemenakan untuk keluar lewat belakang rumah. Karena waktu itu mungkin mama pikir akan sangat berbahaya jika ada para lelaki, kalau laki laki ketemu laki mungkin akan ada percikan api namun kalau perempuan sama laki laki mungkin percikan itu sedikit diredem. Hasilnya pun seperti kalimat pada paragraf pertama.
Dua Paragraf diatas itu merupakan beberapa rekaman jejak, saya ingat jelas. Mama saya dipaksa keluar dan dipaksa cari kakak perempuan yang bernama Yosepah Alomang. Yosepah Alomang meruapakan seorang figur yang saat itu menjadi ketakutan konglomerat Freeport dan pihak yang berkepentingan. Freeport telah masuk sejak 1967 dan telah merusak tanah adat Suku Amungme, membuat hampir 1.000 lebih banyak yang lari keluar dari daerahnya Tembagapura (kampung Waa) dan bersembunyi di hutan – hutan belantara, banyak yang mati di hutan karena kelaparan, kena penyakit malaria. Masyarakat takut, karena saat itu Freeport ditumpangi militer masuk dan memaksa keluar masyarakat pemilik Nemangkawi (Tembagapura). Akhirnya masyarakat membuka kampung baru seperti Agimuga, dan mungkin juga Jila, Bela Alama. Jika duduk dengan orang tua hal ini sering diceritakan.
Karena itulah muncul seorang figur yaitu kakak Yosepah Alomang selain Kelly Kwalik dihutan. Saya pikir menjadi tantangan para elit kekuasaan karena beliau mampu menyadarkan dan mampu memobilisasi seluruh eleman masyarakat saat itu bahwa kita harus lawan ketidakadilan, lawan kerusakan lingkungan, lawan militeristik yang sewenang wenang. Sehingga berbagai hasilpun dicapai, protes dan demo besar besar terhadap Freeport, perusakan fasilitas freeport. Banyak hal yang mungkin menjadi ketakutan Freeport dan keputusannya adalah tangkap, penjarakan, hilangkan yang berani melawan.
Pada tahun 1977 Militer Masuk di Kwamki Baru dan mendarat di Airport Timika dengan Pesawat Herkules besar. Saya tanya kepada bapa adik saya, “Bapa ini tentara dari mana yang masuk ini”? Bapa saya, Paulus Magal mengatakan bahwa “ Anak jaga lihat besok lusa tentara itu yang nanti makan kita“ kemudian saya bertanya lagi, kenapa mereka mau makan kita jadi? Bapa bilang, “mau mengamankan Timika jadi mereka datang” (seorang mama Papua)
Kalimat diatas merupakan dialog seorang mama, Yosepah Alomang bersama Bapa adiknya Paulus Magal yang merupakan kakak dan tete saya. Mereka berdua merupakan gambaran dari korban kehadiran Militer yang tujuannya untuk mengamankan Daerah Operasi Pertambangan (DOP). Pengirimian terus dilakuakan untuk menjaga agar masyarakat atau Gerakan Pemberontak yang dicap oleh Aparat sebagai OPM tidak menggangu pengoperasian. Banyak sekali penembakan yang sering terjadi di daerah Pengoperasian Freeport yang menurut hemat saya itu merupakan manipulasi. Saya pikir Freeport menjadi proyek aparat. Sampai saat ini Keamanan diarea Freeport terus diperketat. Dari Mile 32 hingga tambang terbuka (overbound) sepanjang lika liku jalan beberapa meter pasti ada post militer.
Saya banyak dengar dari Mama tentang kasus kasus yang telah melibatkan peran militer dalam menjaga perusahan besar ini. Pernah mama bercerita di tahun 1977 masih teringat di benak mama, kehadiran Militer dengan ditumpangi kepentingan ekonomi Negara ini. Mengundang kelu- kesah yang menyakitkan sebagian masyarakat asli Amungme dan Kamoro. Sejak itu, mama bilang bahwa kehidupan Masyarakat Amungme dan Kamoro mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan itu terlihat pada formasi struktur kehidupan masyarakat Amungme & Kamoro yang dulunya adalah Pekerja keras untuk mendapatkan makanan namun hal itu telah hilang secara perlahan lahan, masyarakat sekarang hidupnya sangat Konsumtif. Freeport membawa masuk wanita – wanita dari luar untuk memuaskan napsu para pekerja, sekarang disebut KM10. Banyak anak anak muda yang suka Mabuk mabuk, keluarga menjadi berantakan. Mama bilang ini merupakan hasil dari kehadiran Freeport.
Freeport dan Militer dan dihiasi gerakan pengibaran bendera di gereja tiga raja menjadi cerita hidup saya. Umur saya waktu itu menjelang 9 tahun. Sehingga saya masih terbayang bayang sendiri kekerasan waktu itu. Freeport dan Militer menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Setelah kejadian yang menimpah keluarga saya kini situasinya beranjak naik diakhiran tahun 1990 – 2000 situasi di mana gencar – gencarnya masyarakat Papua memperjuangkan kembali kemerdekaan bangsa Papua setelah diredup oleh rejim soeharto selama 32 tahun. Waktu itu saya ingat betul didepan gereja katolik Tiga raja (Katederal) Massa berkumpul lalu mendirikan Pos satgas mengelilingi gereja, dalam pos itu setiap daerah dari kepala burung hingga ekor burung mengambil bagian. Berkumpul bernyanyi, menari, bercerita bersering menjadi kegiatan keseharian masyarakat saat itu.
Ketika memasuki bulan Januari, tepatnya tanggal 7 – 8 tidak dapat dibendung kemarahaan para Aparatur negara (brimob,kavaleri, infantri, dll.) tepat di depan gereja tiga raja lengkap dengan peralatan bersenjata (tank, senjata mesin besar, gas air mata, gernat dll). Semua peralatan itu terarah ke aksi yang dilakukan oleh masyarakat di dalam gereja. Saat itu saya berpikir kita akan ditembak mati habis. Karena situasi saat itu diandaikan seperti katak didalam tempurung. Lalu tepatnya jam 10 pagi, pagar depan gereja sudah bersesakan dan muncul aksi dorong mendorong pagar antara Satgas Papua dan pihak keamanan. Saat itu bendera bintang kejora sudah ada diatas tiang bendara, sehingga muncul kemarahan dari pihak keamanan untuk melepaskan bendera itu, salah satu cara adalah harus masuk. Peristiwa itu berujung pada penembakan, pembubaran, perusakan hingga memakan korban yang begitu besar. Mama saya jatuh tersungkur dipukul dibagian pinggang atas dengan pantat senjata sehingga mama pingsan. Mama dibawa lari ke rumah sakit karitas begitu juga korban lainya. Ada beberapa yang matanya rusak karena gas air mata, ada juga kakinya patah karena kena tembakan dan gernat. Saya pikir ini hal yang sudah dibiasakan oleh tindakan aparat yang sangat brutal dan membabi buta.
Institusi negara (militerisme) saat sangat berperan penting, di orde baru negara telah hadir hingga sampai pada struktur kecil dalam masyarakat. Struktur hirarki masih sangat jelas. Hampir mereka yang berada di setiap instansi di Papua beckgroundnya militer bahkan tentangga saya yang saat ini menjabat sebagai Ketua RT merupakan pensiunan militer. Sejak kecil saya dengan teman teman sering menjuluki Aparat Militer dengan istilah“kacang ijo” entalah saya tidak tahu kenapa bisa begtu, namun pastinya warna pakiannya tidak jauh beda dengan “Es kajang Ijo”.
Papua tanpa militer itu seperti burung tanpa sayap. Jika burung tidak ada sayap maka burung tersebut tidak akan terbang. Hal yang sama terjadi di Papua, Papua dianggap sekumpulan burung kecil tanpa sayap yang perlu dipaksa untuk bisa terbang. Namun sampai saat inipun burung tersebut bisa terbang namun sengaja dibuat tidak bisa terbang, itu logika sederhananya.
Akhir dari cerita pengalaman ini saya mau katakan bahwa banyak orang yang mengalami apa yang saya alami atau bahkan lebih parah. Cerita pengalaman hidup ini hanya sebagian kecil dari beribuh – ribuh cerita orang Papua yang ada dipedalaman, perbatasan, belantara hutan, sudah dihiliang tertelang rayap tanah. Saya anak muda yang masih hidup akan terus bercerita dan berbagi kesakitan mereka kepada mereka yang mungkin nasibnya sama diluar dari bangsa ini
*……*
ARTIKEL
OPINI
West Papua
Oleh: Bisem Abugau***
Perusahan yang sedang proses untuk di ekplorasi di Intan Jaya tersebut berasal dari perusahan PT. MONI SEJAHTERA LANGOWAN yang akan melakukan Satu Juta Hektar Tanah adat moni untuk eksploitasi emas, tembaga, uranium, perak dan lainnya. Dari batas wilayah seluruh tanah di Intan Jaya akan di ekplorasi secara menta dari garis batas antara Distrik Biandoga, Wandai, Homeyo dan menyusul pada distrik lainnya. Sebelum berdirinya perusahan ini, mempunyai sejarah tersendiri ketika ekspedisi Geologs dari Belanda tahun 1936 menemukan 5 titik tempat bahwa daerah moni terdapat unsur hara tanah yang bermanfaat bagi dunia, seperti dimuat di Majalah Geological Scientist of America tahun 2005. Sehingga, kondisi ini mendiamkan secara dunia World Hidden Weald. Dan Pada tahun 2007 PT MONI SEJAHTERA LANGOWAN didirikan. Perusahan ini, telah tentukan garis kordinat atau batas eksploitasi Kordinat : N.3.40.60 and E.136.40.59. Sejak berdirinya, perusahan ini mempunyai dasar hukum yang di keluarkan yaitu akte notaris no.32 yang di notariskan oleh Sri Widodo, SH dengan beralamat Jl. Yos Sudarso No.35 Timika, Papua. Sedangkan SK MENKUM HAM RI PT.Moni Sejahtera Langowan sebagai Pertambangan Khusus AHU-0080722 A.H.01.09 Tahun 2011, yang di sahkan pada 06 Oktober 2011. Sehingga melalui UU MINERBA NO.4 THN 2009. PASAL.135 akan di eksplorasikan.
Dalam berita yang beredar di media sosial bahwa pendiri PT. Moni Sejahter Langowan tersebut dengan melibatkan masyarakat adat tetapi belum tetentu sebagai keterlibatan itu, seperti Welly Maningkas sebagai Direktur Utama dan pensehat lemasmo,Salmon Nagapa sebagai Direktur dan Tokoh Pemuda Moni, Moses Selegani sebagai Komisaris Utama dan kepala suku besar Moni, Bernadus Bagau sebagai Komisaris dan Sekjen Lemasmo, Anggimbau.SH sebagai Direktur Kepala Suku, Matius Somau sebagai Komsaris Kepala Suku, Marten Mayani Komisaris Kepala Suku. Inilah yang mendirikan PT. Moni Sejahtera Langowan untuk mengeksploitasi Alam Kekayaan suku moni, Intan Jaya West Papua. PT. Moni Sejahtera Langowan yang dikendalikan oleh TOBA GROUP yang pemiliknya Jend.Tni Luhut Binsar Panjaitan dan pemilik PT. Moni Sejathera Langowan adalah Welly Maningkas. Perusahan ini telah melakukan hubungan konsorsium bersama perusahan-perusahan raksasa Eropa dengan dana investasi perkiraan 25 Miliar di Hote Grand Tropic Jakarta Barat Tahun 2016 yang di hadiri oleh Grace Lumangkun, Laksdya TNI [Purn] Fred Lonan (mantan Wakasal), Boike Wurarah, Bernad Saisab, Welly Maningkas, Brigjen TNI [Purn] Paulus Prananto (Toba Group), Salmon Nagapa, Vence Nayoan, Heinz Rauball dan para pelaku perusahan-perusahan Eropa.
Dari Melihat kondisi seperti dan Terkait dengan Perusahan Pt.Moni Sejahtera Langowan yang sedang masuk di Intan Jaya wilayah suku Moni maka secara tegas dari Pelajar, Mahasiswa, Masyarakat, Intelektual Intan Jaya dan seluruh lapisan masyarakat PAPUA menolak PT.Moni Sejahtera Langowan. Realitas penolakan ini di pandang dari Sejarah gerakan rakyat West Papua, dan mencatat Papua Barat dipandang oleh dunia Papua adalah sebuah pulau di ujung timur yang begitu berlimpah dengan kekayaan Alam-nya (surga kecil yang jatuh ke Bumi) sehinggga telah sekian Tahun lama-nya Indonesia dijadikan alat untuk eksploitasi besar-besaran di tanah West Papua dan negara-negara yang punya kepentingan atas West Papua menjadi aktor utama terjadilah perebutan West Papua ke dalam bingkai NKRI secara Paksa, secara tidak demokratis.
Oleh sebab itu sementara kita masih dalam penjajahan bingkai NKRI, Rakyat West Papua tidak akan merasa sejahterah, aman, damai, dan tentram kerena sejak 19 Desember 1961 adalah awal mula pemusnaan bangsa West Papua, yang telah merdeka dan telah berdiri sebagai negara sama seperti bangsa lain di dunia sejak 1 Desember 1961.
Dan sekarang, tahun 2019 bangsa West Papua telah 57 tahun bersama kolonialisme Indonesia dan kolonilaime Indonesi masih melakukan eksploitasi dan perampasan ilegal, Pembunuhan, Pemenjaraan, Penangkapan, Intimidasi,teror, tabrak lari dan lain sejenis-nya di atas tanah West Papua hanya karena kepentingan Ekonomi, Poliik, dan Kekuasaan dari kolonalisme Indonesia sertakan negara-negara imprealis yang rakus akan eksploitasi kehidupan rakyat.
Sehingga, Perusahan apa pun yang masuk di tanah West Papua yang ada hanya membawa malapetaka bahaya bagi generasi penerus bangsa West Papua dan lebih khususnya masyarakat di kabupaten Intan Jaya dengan karna persuahan yang akan hadir di tengah wilayah Meepago dan Wilayah Moni. Maka dengan tegas kepada genarsi mudah ini, harsu memiliki Tugas kita bangsa West Papua adalah Persatuan dalam satu komando satu tujuan melawan militerisme, hapuskan kapitalisme, hancurkan imperialisme dan sejenis-nya dan fokus pada perjuangan kemerdekaan West Papua sertakan menolak maupun meminta semua perusahan-perusahan asing yang ada di seluruh tanah West Papua harus tutup dan kekuatan TNI/POLRI organik dan non-organik yang sedang kuasai seluruh tanah Papua harus ditarik kembali ke pangkuan kolonialisme Indonesia itu sendiri.
Sampaikan dan memberikan kesadaran, dan pemahaman kepada keluarga, dan sesama kita di seluruh tanah West Papua dan lebih khusunya Intan jaya , keluarga di dugindoga, kemandoga, mbiandoga dan weandoga. Perusahan tambang Emas terbesar di dunia yang lebih besar dari PT.Freeport seluas 1 juta Haktar yang sedang mau masuk daerah Intan jaya ini harus tolak. Perusahan besar ini akan membawa dampak buruk bagi generasi bangsa West Papua yaitu kekuasaan imprealisme, kapitalisme, militerisme dan lain sejenisnya besar-ran di tanah West Papua terutama di Intan jaya, kalau perusahan ini masuk di Kemandoga, Dugindoga dan Mbiandoga suku moni/migani dan suku wolani mau bawa kemana kalau daerah ini sudah dikuasai militer dengan kekuasaan lahan, dan sewenangan-wenangnya hanya atas kepentingan kolonialisme indonesia atas West Papua.
Suku Moni/Migani dan Wolani mau pindakan lokasi kemana? Intan Jaya adalah daerah yang cukup sempit daerah ini hanya terdapat gunung-gunung yang besar menjulang tinggi sehingga tidak terdapat daratan rendah dan daerah ini hanya dialiri sungai-sungai besar yaitu sungai Mbiabu, Kemabu dan Dogabu Wabu, dismpiang-samping itu masyarakat telah sekin lama hidup mengikuti setiap aliran sungai-sungai besar tersebut sehingga apa bila perusahan tersebut masuk maka untuk pembuangan limbah tambang Emas akan terjadi pencemaran lingkungan hidup masyarakat melalu sungai besar Kemabu sampai di Napan Nabire, West Papua.
Dengan itu, ingatlah bahwa kami mempunyai sebuah bahasa yang musti kita jaga bersama adalah ""Aga maine dune data aumba menene dogee nae dogoo, agati jinggiga menego dudigi magamigi dapoga mimbuame"" Orang tua-tua kami yang sudah tanda-tangan maka secara tegas juga kami Pelajar, Mahasiswa, Intelektual dan masyarakat Intan Jaya dengan tegas menolak serta tidak mengizinkan Perusahan apapun masuk di Intan Jaya karena setiap perusahan yang hadir di Papua ini membawa dampak buruk bagi generasi penerus bagi bangsa West Papua. Karena alam West Papua dan segalah isi-nya adalah titipan maha pencipta (TUHAN) bagi leluhur kami khususnya rakyat West Papua di Intan jaya dan seluruh tanah West Papua menjaga kekayaan yang ada bukan untuk bangsa dan negara-negara lain. Sebab, tanah leluhur ini yang punya adalah bangsa West Papua itu sendiri.
Pada Dasarnya, bahwa eksploitasi tersu sedang di lakukan oleh kolonialisme Indoensia dengan caranya mereka, yang secara licik serta merta pembohongan terhadap masyarakat yang dilakukan oleh kolonialisme Indonesia untuk menjalankan aset mereka di West Papua dengan mencuri ataupun mengeksploitasi sumber daya alam West Papua tanpa melihat sumber daya yang lainnya sekita eksploitasi yang di lakukan oleh kolonialisme Indonesia seprti kasus Freeport yang memakan korban nyawa manusia West Papua yang kini berjuamlahan ribuan orang serta hukum adat Amugme dan kamoro di rusaki oleh kolonialisme Indonesia dan negara-negara imprealisme yang melakukan eksplotasi tanpa memperhatian wilayah adat pemilik serta limbah Freeport menjalar ke seluruh tanah West Papua.
Dengan, demikian kita harus waspada terhadap perusahan dan eksploitasi yang akan masuk ini di Intan jaya untuk melakukan tambang terbesar lebih besar Freepot dari pada di Intan Jaya yang akan di bangun tersebut. Sehingga kebutuhan kita bersama adalah menolak segala bentuk eksploitasi yang akan di lakukan di Intan jaya dan seluruh pelosok-pelosok West Papua untuk genersai massa depan rakyat melanesia West Papua.
Penulis adalah Pemerhati Intan Jaya
Sumber:
http://wwwmaleakitipagauj.blogspot.com/2016/06/ptmoni-sejahtera-langowan.html
Menolak dan Hentikan Eksploitasi Alam Di Intan Jaya, West Papua
Oleh: Bisem Abugau***
Perusahan yang sedang proses untuk di ekplorasi di Intan Jaya tersebut berasal dari perusahan PT. MONI SEJAHTERA LANGOWAN yang akan melakukan Satu Juta Hektar Tanah adat moni untuk eksploitasi emas, tembaga, uranium, perak dan lainnya. Dari batas wilayah seluruh tanah di Intan Jaya akan di ekplorasi secara menta dari garis batas antara Distrik Biandoga, Wandai, Homeyo dan menyusul pada distrik lainnya. Sebelum berdirinya perusahan ini, mempunyai sejarah tersendiri ketika ekspedisi Geologs dari Belanda tahun 1936 menemukan 5 titik tempat bahwa daerah moni terdapat unsur hara tanah yang bermanfaat bagi dunia, seperti dimuat di Majalah Geological Scientist of America tahun 2005. Sehingga, kondisi ini mendiamkan secara dunia World Hidden Weald. Dan Pada tahun 2007 PT MONI SEJAHTERA LANGOWAN didirikan. Perusahan ini, telah tentukan garis kordinat atau batas eksploitasi Kordinat : N.3.40.60 and E.136.40.59. Sejak berdirinya, perusahan ini mempunyai dasar hukum yang di keluarkan yaitu akte notaris no.32 yang di notariskan oleh Sri Widodo, SH dengan beralamat Jl. Yos Sudarso No.35 Timika, Papua. Sedangkan SK MENKUM HAM RI PT.Moni Sejahtera Langowan sebagai Pertambangan Khusus AHU-0080722 A.H.01.09 Tahun 2011, yang di sahkan pada 06 Oktober 2011. Sehingga melalui UU MINERBA NO.4 THN 2009. PASAL.135 akan di eksplorasikan.
Dalam berita yang beredar di media sosial bahwa pendiri PT. Moni Sejahter Langowan tersebut dengan melibatkan masyarakat adat tetapi belum tetentu sebagai keterlibatan itu, seperti Welly Maningkas sebagai Direktur Utama dan pensehat lemasmo,Salmon Nagapa sebagai Direktur dan Tokoh Pemuda Moni, Moses Selegani sebagai Komisaris Utama dan kepala suku besar Moni, Bernadus Bagau sebagai Komisaris dan Sekjen Lemasmo, Anggimbau.SH sebagai Direktur Kepala Suku, Matius Somau sebagai Komsaris Kepala Suku, Marten Mayani Komisaris Kepala Suku. Inilah yang mendirikan PT. Moni Sejahtera Langowan untuk mengeksploitasi Alam Kekayaan suku moni, Intan Jaya West Papua. PT. Moni Sejahtera Langowan yang dikendalikan oleh TOBA GROUP yang pemiliknya Jend.Tni Luhut Binsar Panjaitan dan pemilik PT. Moni Sejathera Langowan adalah Welly Maningkas. Perusahan ini telah melakukan hubungan konsorsium bersama perusahan-perusahan raksasa Eropa dengan dana investasi perkiraan 25 Miliar di Hote Grand Tropic Jakarta Barat Tahun 2016 yang di hadiri oleh Grace Lumangkun, Laksdya TNI [Purn] Fred Lonan (mantan Wakasal), Boike Wurarah, Bernad Saisab, Welly Maningkas, Brigjen TNI [Purn] Paulus Prananto (Toba Group), Salmon Nagapa, Vence Nayoan, Heinz Rauball dan para pelaku perusahan-perusahan Eropa.
Dari Melihat kondisi seperti dan Terkait dengan Perusahan Pt.Moni Sejahtera Langowan yang sedang masuk di Intan Jaya wilayah suku Moni maka secara tegas dari Pelajar, Mahasiswa, Masyarakat, Intelektual Intan Jaya dan seluruh lapisan masyarakat PAPUA menolak PT.Moni Sejahtera Langowan. Realitas penolakan ini di pandang dari Sejarah gerakan rakyat West Papua, dan mencatat Papua Barat dipandang oleh dunia Papua adalah sebuah pulau di ujung timur yang begitu berlimpah dengan kekayaan Alam-nya (surga kecil yang jatuh ke Bumi) sehinggga telah sekian Tahun lama-nya Indonesia dijadikan alat untuk eksploitasi besar-besaran di tanah West Papua dan negara-negara yang punya kepentingan atas West Papua menjadi aktor utama terjadilah perebutan West Papua ke dalam bingkai NKRI secara Paksa, secara tidak demokratis.
Oleh sebab itu sementara kita masih dalam penjajahan bingkai NKRI, Rakyat West Papua tidak akan merasa sejahterah, aman, damai, dan tentram kerena sejak 19 Desember 1961 adalah awal mula pemusnaan bangsa West Papua, yang telah merdeka dan telah berdiri sebagai negara sama seperti bangsa lain di dunia sejak 1 Desember 1961.
Dan sekarang, tahun 2019 bangsa West Papua telah 57 tahun bersama kolonialisme Indonesia dan kolonilaime Indonesi masih melakukan eksploitasi dan perampasan ilegal, Pembunuhan, Pemenjaraan, Penangkapan, Intimidasi,teror, tabrak lari dan lain sejenis-nya di atas tanah West Papua hanya karena kepentingan Ekonomi, Poliik, dan Kekuasaan dari kolonalisme Indonesia sertakan negara-negara imprealis yang rakus akan eksploitasi kehidupan rakyat.
Sehingga, Perusahan apa pun yang masuk di tanah West Papua yang ada hanya membawa malapetaka bahaya bagi generasi penerus bangsa West Papua dan lebih khususnya masyarakat di kabupaten Intan Jaya dengan karna persuahan yang akan hadir di tengah wilayah Meepago dan Wilayah Moni. Maka dengan tegas kepada genarsi mudah ini, harsu memiliki Tugas kita bangsa West Papua adalah Persatuan dalam satu komando satu tujuan melawan militerisme, hapuskan kapitalisme, hancurkan imperialisme dan sejenis-nya dan fokus pada perjuangan kemerdekaan West Papua sertakan menolak maupun meminta semua perusahan-perusahan asing yang ada di seluruh tanah West Papua harus tutup dan kekuatan TNI/POLRI organik dan non-organik yang sedang kuasai seluruh tanah Papua harus ditarik kembali ke pangkuan kolonialisme Indonesia itu sendiri.
Sampaikan dan memberikan kesadaran, dan pemahaman kepada keluarga, dan sesama kita di seluruh tanah West Papua dan lebih khusunya Intan jaya , keluarga di dugindoga, kemandoga, mbiandoga dan weandoga. Perusahan tambang Emas terbesar di dunia yang lebih besar dari PT.Freeport seluas 1 juta Haktar yang sedang mau masuk daerah Intan jaya ini harus tolak. Perusahan besar ini akan membawa dampak buruk bagi generasi bangsa West Papua yaitu kekuasaan imprealisme, kapitalisme, militerisme dan lain sejenisnya besar-ran di tanah West Papua terutama di Intan jaya, kalau perusahan ini masuk di Kemandoga, Dugindoga dan Mbiandoga suku moni/migani dan suku wolani mau bawa kemana kalau daerah ini sudah dikuasai militer dengan kekuasaan lahan, dan sewenangan-wenangnya hanya atas kepentingan kolonialisme indonesia atas West Papua.
Suku Moni/Migani dan Wolani mau pindakan lokasi kemana? Intan Jaya adalah daerah yang cukup sempit daerah ini hanya terdapat gunung-gunung yang besar menjulang tinggi sehingga tidak terdapat daratan rendah dan daerah ini hanya dialiri sungai-sungai besar yaitu sungai Mbiabu, Kemabu dan Dogabu Wabu, dismpiang-samping itu masyarakat telah sekin lama hidup mengikuti setiap aliran sungai-sungai besar tersebut sehingga apa bila perusahan tersebut masuk maka untuk pembuangan limbah tambang Emas akan terjadi pencemaran lingkungan hidup masyarakat melalu sungai besar Kemabu sampai di Napan Nabire, West Papua.
Dengan itu, ingatlah bahwa kami mempunyai sebuah bahasa yang musti kita jaga bersama adalah ""Aga maine dune data aumba menene dogee nae dogoo, agati jinggiga menego dudigi magamigi dapoga mimbuame"" Orang tua-tua kami yang sudah tanda-tangan maka secara tegas juga kami Pelajar, Mahasiswa, Intelektual dan masyarakat Intan Jaya dengan tegas menolak serta tidak mengizinkan Perusahan apapun masuk di Intan Jaya karena setiap perusahan yang hadir di Papua ini membawa dampak buruk bagi generasi penerus bagi bangsa West Papua. Karena alam West Papua dan segalah isi-nya adalah titipan maha pencipta (TUHAN) bagi leluhur kami khususnya rakyat West Papua di Intan jaya dan seluruh tanah West Papua menjaga kekayaan yang ada bukan untuk bangsa dan negara-negara lain. Sebab, tanah leluhur ini yang punya adalah bangsa West Papua itu sendiri.
Pada Dasarnya, bahwa eksploitasi tersu sedang di lakukan oleh kolonialisme Indoensia dengan caranya mereka, yang secara licik serta merta pembohongan terhadap masyarakat yang dilakukan oleh kolonialisme Indonesia untuk menjalankan aset mereka di West Papua dengan mencuri ataupun mengeksploitasi sumber daya alam West Papua tanpa melihat sumber daya yang lainnya sekita eksploitasi yang di lakukan oleh kolonialisme Indonesia seprti kasus Freeport yang memakan korban nyawa manusia West Papua yang kini berjuamlahan ribuan orang serta hukum adat Amugme dan kamoro di rusaki oleh kolonialisme Indonesia dan negara-negara imprealisme yang melakukan eksplotasi tanpa memperhatian wilayah adat pemilik serta limbah Freeport menjalar ke seluruh tanah West Papua.
Dengan, demikian kita harus waspada terhadap perusahan dan eksploitasi yang akan masuk ini di Intan jaya untuk melakukan tambang terbesar lebih besar Freepot dari pada di Intan Jaya yang akan di bangun tersebut. Sehingga kebutuhan kita bersama adalah menolak segala bentuk eksploitasi yang akan di lakukan di Intan jaya dan seluruh pelosok-pelosok West Papua untuk genersai massa depan rakyat melanesia West Papua.
Penulis adalah Pemerhati Intan Jaya
Sumber:
http://wwwmaleakitipagauj.blogspot.com/2016/06/ptmoni-sejahtera-langowan.html
PUISI
SASTRA DAN BUDAYA
West Papua
Karya, Oskar H. Gie
Ketika jalan trans
dibangun sana-sini
hidup kami tergusur
Ketika pangkalan militer
bertambah banyak jumblahnya
nyawa kami terusir
setiap hari
Jika pergusuran lahan
meningkat tereksploitasi
kami yang sisa-sisa
hidup berpindah-pindah
tinggal di hutan rimbah
Kalau ditembaki lagi
oleh aparat militer
ea.. kami akan mati
punah di negeri sendiri
Oh' kawan kemanusiaan
kami ini rakyat
pemilik tanah negeri ini
kami butuh perlawanan
Ayo gabung ke kami
biar mengusir penindasan ini
Nyayian alam rimbah
Karya, Oskar H. Gie
Ketika jalan trans
dibangun sana-sini
hidup kami tergusur
Ketika pangkalan militer
bertambah banyak jumblahnya
nyawa kami terusir
setiap hari
Jika pergusuran lahan
meningkat tereksploitasi
kami yang sisa-sisa
hidup berpindah-pindah
tinggal di hutan rimbah
Kalau ditembaki lagi
oleh aparat militer
ea.. kami akan mati
punah di negeri sendiri
Oh' kawan kemanusiaan
kami ini rakyat
pemilik tanah negeri ini
kami butuh perlawanan
Ayo gabung ke kami
biar mengusir penindasan ini
PUISI
SASTRA DAN BUDAYA
West Papua
Oleh : Caken Ruban
Di kala sang Fajar terbit d atas alammu
Dikala tangisan bayi mungil merengek minta setetes air susu ibunya
Disaat suara tawa tersendat penuh tangis nan pilu
Kau merasuk masuk ke surga duniamu, memecah nyanyian peradaban, menuntun langkah perjuangan, menebus amanat kemerdekaan.
Sebelum siang berganti senja,
Sebelum burung mambesak melayang ke pangkuan ibunya, sebelum bintang kejora itu mekar diantara awan biru, kau berdiri, kau berlutut, kau tertidur dengan kata hatimu, dengan impian dan anganmu untuk kebenaran di atas tanahmu.
Datanglah malam yang dingin, dibawah lembah, diatas gunung, di tepi sungai titisan Tuhan.
Kau terbawa dalam heningnya pengorbanan yang mulia, bahwa esok jejak langkahmu tak terhapus, untuk hari esok lirik katamu menjadi harapan, bahwa esok doamu terkabulkan.
Hari yang baru kini ada, lagu, puisi, karya dan dirimu telah tiada.
Namun persembahan hatimu,
Tegarnya roh jiwamu, telah melahirkan jutaan anak anak Cendrawasih, menyatukan darah yang berbeda untuk bersama menggaungkan nyanyian cintamu "Hai Tanahku Papua"
**
Jiwa dan hati untuk papua
Oleh : Caken Ruban
Di kala sang Fajar terbit d atas alammu
Dikala tangisan bayi mungil merengek minta setetes air susu ibunya
Disaat suara tawa tersendat penuh tangis nan pilu
Kau merasuk masuk ke surga duniamu, memecah nyanyian peradaban, menuntun langkah perjuangan, menebus amanat kemerdekaan.
Sebelum siang berganti senja,
Sebelum burung mambesak melayang ke pangkuan ibunya, sebelum bintang kejora itu mekar diantara awan biru, kau berdiri, kau berlutut, kau tertidur dengan kata hatimu, dengan impian dan anganmu untuk kebenaran di atas tanahmu.
Datanglah malam yang dingin, dibawah lembah, diatas gunung, di tepi sungai titisan Tuhan.
Kau terbawa dalam heningnya pengorbanan yang mulia, bahwa esok jejak langkahmu tak terhapus, untuk hari esok lirik katamu menjadi harapan, bahwa esok doamu terkabulkan.
Hari yang baru kini ada, lagu, puisi, karya dan dirimu telah tiada.
Namun persembahan hatimu,
Tegarnya roh jiwamu, telah melahirkan jutaan anak anak Cendrawasih, menyatukan darah yang berbeda untuk bersama menggaungkan nyanyian cintamu "Hai Tanahku Papua"
**
PUISI
SASTRA DAN BUDAYA
West Papua
Oleh: Jefri Wenda*
Di lorong–jalan kesunyian
Tak ada pelita
Tentang hidup dan mati nyaris tak menentu sendirian dalam merampung kisah
Dengan tulus hati–seorang menyapa
Seakan pancaran sinar membebaskan gelap
Datang menghadirkan senyum tawa dan duka
Ibarat ombak yang ceria menari-nari di atas bibir pantai
Atau sang "Bintang Fajar" yang Setia mengantarkan gelap dan menyambut pagi
di ufuk timur
Disaat ku jatuh kawan
Menemani bulan yang sepih
Dengan pancaran sinar yang nyaris pudar
Yang enggn kerlip memunculkan bahagia
Berjuanglah bersamaku
Merampug kisa tak akan hilang tentang seorang kawan
Meski ’kan ditelan waktu
Berjuanglah bersamaku
hadapi takdir dengan penuh bahagia.
Malang, 13 September
Hati seorang kawan
Oleh: Jefri Wenda*
Di lorong–jalan kesunyian
Tak ada pelita
Tentang hidup dan mati nyaris tak menentu sendirian dalam merampung kisah
Dengan tulus hati–seorang menyapa
Seakan pancaran sinar membebaskan gelap
Datang menghadirkan senyum tawa dan duka
Ibarat ombak yang ceria menari-nari di atas bibir pantai
Atau sang "Bintang Fajar" yang Setia mengantarkan gelap dan menyambut pagi
di ufuk timur
Disaat ku jatuh kawan
Menemani bulan yang sepih
Dengan pancaran sinar yang nyaris pudar
Yang enggn kerlip memunculkan bahagia
Berjuanglah bersamaku
Merampug kisa tak akan hilang tentang seorang kawan
Meski ’kan ditelan waktu
Berjuanglah bersamaku
hadapi takdir dengan penuh bahagia.
Malang, 13 September
PUISI
SASTRA DAN BUDAYA
West Papua
Oleh: Melkias Oagay
Saya punya alam begitu besar
Saya punya harta kekayaan alam begitu kaya
Saya punya bumi Papua berlimpah ganda
Tetapi saya hanya menjadi budak dari si iblis imprealis
Tetapi saya hanya menjadi budak si iblis kapitalis
Tetapi saya hanya menjadi korban si iblis militerisme
Kapan kah derita hidupku ini berakhir
Siapa kah yang menhentikan air mataku
Kapan kah aku merasa terbebas dari lilitan jeruji besi ini
Pada siapa kah aku harus mengaduh
Pada siapa kah aku harus berseruh
Pada siapa kah aku harus minta tolong ini
Apakah ini memang dunia hidup anak derita
Apakah ini takdir hidup anak derita
Apakah ini yang harus dirasakan anak derita
Kisah Anak Derita
Oleh: Melkias Oagay
Saya punya alam begitu besar
Saya punya harta kekayaan alam begitu kaya
Saya punya bumi Papua berlimpah ganda
Tetapi saya hanya menjadi budak dari si iblis imprealis
Tetapi saya hanya menjadi budak si iblis kapitalis
Tetapi saya hanya menjadi korban si iblis militerisme
Kapan kah derita hidupku ini berakhir
Siapa kah yang menhentikan air mataku
Kapan kah aku merasa terbebas dari lilitan jeruji besi ini
Pada siapa kah aku harus mengaduh
Pada siapa kah aku harus berseruh
Pada siapa kah aku harus minta tolong ini
Apakah ini memang dunia hidup anak derita
Apakah ini takdir hidup anak derita
Apakah ini yang harus dirasakan anak derita
ARTIKEL
FREEPORT
OPINI
West Papua
Oleh : Gideon M. Adii*
Artikel ini Hasil wawancara dengan seorang yang tidak mau disebutkan namanya, sambil kesal, sambil meneteskan air mata, ia bernada dengan Emosi yang meluap, entah kepada siapa ia geram... entah kepada siapa ia melotot, dan mengeluarkan seuntai kata, yakni: Orang asli Papua sendiri bilang, tahun 1969 itu adalah kasus "The act of no choice". Bagaimana kau memilih dengan senjata di kepalamu? Apakah itu Demokrasi?
Kau katakan itu "pilihan bebas" (Free choice) ? Bahkan Soeharto sudah menjual pegunungan Estberg ke Freeport pada tahun 1967! 2 tahun sebelum Papua dicaplokan ke pangkuan NKRI. Tentu saja tidak ada pilihan kecuali bermufakat di bawah todongan Senjata untuk ikut Indonesia, dengan hak suara di batasi hampir 1 suku satu orang diwakili.
Kini kau dengar selalu "NKRI harga mati". iya, bukan...? Bukan kau yang mati... tetapi orang Papua yang selalu mati dibunuh, dianiaya, di perkosa, disiksa, dibodohi, jika mereka meminta kedaulatannya. Jika Freeport yang menyeret kami masuk ke negeri ini, biarkan Freeport juga keluar bersama kami. Karena Tanpa Freeport mungkin sekarang kau tidak mendengar lagu "Dari Sabang sampai Merauke".
Kau mau mendengar suara orang Papua tentang bagaimana kau berteriak bising soal Freeport...? bacalah ini "Sobat, ko pernah lihat orang rakus, lapar pu cara makan...?". Kamu sama dengan mereka itu. Kamu Bekerja banting tulang, dengan mengorbankan segalanya hanya untuk mendapatkan kekayaan alam Papua, lalu kamu membangun daerah kamu.
Kamu mecintai kekayaan alam kami, tetapi manusianya kamu benci. Kamu memang rakus. Satu lagi "Kalo kam Jago, cabut Freeport dengan gunungnya kasih pindah ke kam pu tempat to". Kekayaan yang harganya Miliaran dolar itu tidak ada artinya kalau kemerdekaan kau rampas. Ambil saja, untuk kau. Bawa ke Negerimu, tidak ada artinya buat kami, biarkan kami Hidup tenang. akhir kata "Kenyataan itu pahit, tapi keadilan itu lebih pahit lagi.."
Jadi berhentilah merasa berhak....
Freeport menyiksa kami
Oleh : Gideon M. Adii*
Artikel ini Hasil wawancara dengan seorang yang tidak mau disebutkan namanya, sambil kesal, sambil meneteskan air mata, ia bernada dengan Emosi yang meluap, entah kepada siapa ia geram... entah kepada siapa ia melotot, dan mengeluarkan seuntai kata, yakni: Orang asli Papua sendiri bilang, tahun 1969 itu adalah kasus "The act of no choice". Bagaimana kau memilih dengan senjata di kepalamu? Apakah itu Demokrasi?
Kau katakan itu "pilihan bebas" (Free choice) ? Bahkan Soeharto sudah menjual pegunungan Estberg ke Freeport pada tahun 1967! 2 tahun sebelum Papua dicaplokan ke pangkuan NKRI. Tentu saja tidak ada pilihan kecuali bermufakat di bawah todongan Senjata untuk ikut Indonesia, dengan hak suara di batasi hampir 1 suku satu orang diwakili.
Kini kau dengar selalu "NKRI harga mati". iya, bukan...? Bukan kau yang mati... tetapi orang Papua yang selalu mati dibunuh, dianiaya, di perkosa, disiksa, dibodohi, jika mereka meminta kedaulatannya. Jika Freeport yang menyeret kami masuk ke negeri ini, biarkan Freeport juga keluar bersama kami. Karena Tanpa Freeport mungkin sekarang kau tidak mendengar lagu "Dari Sabang sampai Merauke".
Kau mau mendengar suara orang Papua tentang bagaimana kau berteriak bising soal Freeport...? bacalah ini "Sobat, ko pernah lihat orang rakus, lapar pu cara makan...?". Kamu sama dengan mereka itu. Kamu Bekerja banting tulang, dengan mengorbankan segalanya hanya untuk mendapatkan kekayaan alam Papua, lalu kamu membangun daerah kamu.
Kamu mecintai kekayaan alam kami, tetapi manusianya kamu benci. Kamu memang rakus. Satu lagi "Kalo kam Jago, cabut Freeport dengan gunungnya kasih pindah ke kam pu tempat to". Kekayaan yang harganya Miliaran dolar itu tidak ada artinya kalau kemerdekaan kau rampas. Ambil saja, untuk kau. Bawa ke Negerimu, tidak ada artinya buat kami, biarkan kami Hidup tenang. akhir kata "Kenyataan itu pahit, tapi keadilan itu lebih pahit lagi.."
Jadi berhentilah merasa berhak....
ARTIKEL
OPINI
West Papua
Oleh : Dewan Nasional Lain Sang
Manusia agar tetap bertahan hidup harus memenuhi syarat-syarat keberlangsungan hidup. Syarat-syarat tersebut yang kita kenal dengan kebutuhan. Tentu saja yang harus didahulukan oleh manusia adalah kebutuhan primer sebagaimana yang telah diajarkan kepada kita sejak duduk di bangku sekolah. Adalah sandang, pangan dan papan yang menjadi kebutuhan primernya manusia. Katakanlah, asal bisa makan, punya pakaian dan tempat tinggal manusia bisa tetap bertahan hidup. Selain kebutuhan primer, terdapat beberapa kebutuhan manusia yang lainnya, yang oleh seorang tokoh hal tersebut bukanlah kebutuhan melainkan keinginan.
Nah, untuk bisa mendapatkan makanan, pakaian dan tempat tinggal, manusia harus ngapain? Tentu saja manusia harus berusaha (tak lupa berdoa) untuk memperoleh ketiga hal tadi. Usaha seperti apa yang harus dilakukan oleh manusia? Tentu saja adalah bekerja atau yang sering dikatakan dengan berproduksi. Dari proses produksi inilah yang kemudian membentuk suatu tatanan masyarakat, apakah proses produksinya secara kolektif atau secara perseorangan dan cenderung merugikan yang lainnya.
Meskipun sebagian berwatak binatang, akan tetapi manusia berbeda dengan binatang, manusia adalah makhluk yang memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi, sehingganya tak heran sejak zaman komunal primitif sampai dengan saat ini proses produksinya selalu berbeda, dari mengumpul dan berburu sampai dengan memukul dan membunuh. Zaman komunal primitif, manusia harus berburu dan mengumpulkan biji-bijian untuk dimakan, dengan alat produksi dari tulang dan batu sebagai pendukung kerja-kerja manusia kala itu. Begitupun dengan pakaian dan tempat tinggal, semuanya masih primitif, begitulah selanjutnya siklus hidup manusia sampai pada suatu masa ditemukanlah sistem pertanian yang kemudian merubah cara manusia berproduksi. Singkatnya, semua selalu berubah sebagai sesuatu yang menyejarah.
Singkat cerita, dengan berkembangnya zaman, sistem barter yang berlaku dalam masyarakat mulai tergerser seiring dengan berlakunya sebuah material yang menjadi alat ukur (emas kemudian uang). Mulai berlakunya emas sebagai alat ukurr merupakan hasil dari perkembangan masyarakat pada waktu itu. Ketika sistem barter berlaku, masyarakat yang tinggal di pesisir akan saling melakukan pertukaran hasil produksi dengan masyarakat yang tinggal di pegunungan. Ikan hasil tangkapan masyarakat yang tinggal di pesisir akan ditukarkan dengan ubi-ubian hasil pertanian dari masyarakat yang tinggal di pengunungan. Kambing seekor ditukar satu buah kelapa, walaupun agak berlebihan setidaknya begitulah gambaran masyarakat waktu itu. Adalah emas yang menjadi alat ukur pertukaran. Misalnya, 1 keping emas setara dengan 1 buah kelapa, sementara 1 ekor kambing setara dengan 10 keping emas, maka 1 ekor kambing setara dengan 10 buah kelapa, kira-kira seperti itulah gambaran umumnya. Singkat cerita, sistem tukar menukar menjadi sistem jual beli yang dikemudian hari Uang mulai berlaku sebagai alat pembayaran yang sah, tidak cukup sampai disitu, uangpun bertransformasi menjadi kapital.
Kita hidup di zaman yang berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya, kita berada di zaman yang terbilang cukup unik dan sangat ribet, kita hidup pada suatu zaman dimana uang dianggap sebagai segalanya, kita hidup pada suatu zaman dimana uang adalah yang maha kuasa. Demikianlah potret kehidupan kita saat ini, “Manusia hidup ketergantungan dengan benda mati (uang)”.
Dulu, untuk mendapatkan makanan manusia harus berburu atau menanam tanaman penghasil bahan makanan, singkatnya manusia bekerja untuk mendapatkan makanan. Untuk mendapatkan pakaian, harus menenun dan menggunakan pakaian dari kulit binatang hasil buruan. Untuk mendapatakan tempat tinggal, manusia harus bekerja membuat rumah atau tempat berteduh lainnya da mencari gua-gua yang aman untuk berlindung. Sekarang, manusia bekerja bukan untuk mendapatkan makanan, malainkan untuk mendapatkan uang yang nantinya dari uang tersebut akan dibelikan makanan. Sama halnya dengan pakaian dan tempat tinggal, manusia tidak lagi bekerja membuat pakaian dan tempat tinggal, melainkan bekerja untuk mendapatkan uang dan nantinya uang hasil kerjanya itulah yang akan digunakan untuk membeli pakaian dan tempat tinggal. Ada orang yang menenun, akan tetapi kain yang ia tenun bukan untuk dipakai melainkan untuk dijual dan nantinya hasil penjualan kain tersebut dipakai untuk membeli pakaian. Ada yang membangun rumah, akan tetapi rumah tersebut bukan miliknya melainkan milik orang lain. Ada apa dengan manusia saat ini? Setidaknya dalam siklus hidup manusia telah ketambahan satu hal. Dulunya untuk mendapatkan makanan, pakaian dan tempat tinggal cukup dengan bekerja, sekarang harus bekerja mencari uang terlebih dahulu dan kemudian uang tersebut untuk membeli makanan, pakaian dan tempat tinggal.
Makanan, pakaian dan tempat tinggal kita semua bisa membuatnya sendiri, lantas kenapa harus mencari uang terlebih dahulu untuk mendapatkan itu semua? Mengapa kita harus membeli sementara kita sendiri bisa membuatnya? Jawaban sederhanaya adalah; tidak semua manusia mempunyai keahlian dalam segala hal, makanya bagi mereka yang tidak pandai menenun harus bekerja untuk mendapatkan uang dan membeli pakaian. Mungkin jawaban itu tidaklah salah, tetapi terlalu sempit kita berpikir jika mengiyakan jawaban seperti itu. Ini bukan persoalan pandai dan tidaknya seseorang dalam menenun tetapi sejauh mana dia berusaha pastilah menenun bukan hal yang mustahil bagi semua manusia. Habibie tidak langsung pandai membuat pesawat tanpa proses belajar, begitupun dengan Edison dan Tesla yang tak mungkin bisa membuat lampu tanpa proses belajar.
Okelah, kalaupun tidak semua manusia bisa menenun kain, mengapa kita tidak hidup saling melengkapi saja satu sama lain? Mengapa seorang ahli tenun harus menjual selembar kain dengan harga yang mahal kepada petani yang bisa menanamkan kapas untuknya dan mengapa seorang petani harus menjual beras dengan harga yang mahal kepada seorang buruh yang mampu membuatkan rumah mewah untuknya?
Akhir kata, kupikir lebih indah sebuah kehidupan dalam Utopia Thomas More.
Penulis adalah Anggota LMDP Gorongtal
Hidup Yang Aneh
Oleh : Dewan Nasional Lain Sang
Manusia agar tetap bertahan hidup harus memenuhi syarat-syarat keberlangsungan hidup. Syarat-syarat tersebut yang kita kenal dengan kebutuhan. Tentu saja yang harus didahulukan oleh manusia adalah kebutuhan primer sebagaimana yang telah diajarkan kepada kita sejak duduk di bangku sekolah. Adalah sandang, pangan dan papan yang menjadi kebutuhan primernya manusia. Katakanlah, asal bisa makan, punya pakaian dan tempat tinggal manusia bisa tetap bertahan hidup. Selain kebutuhan primer, terdapat beberapa kebutuhan manusia yang lainnya, yang oleh seorang tokoh hal tersebut bukanlah kebutuhan melainkan keinginan.
Nah, untuk bisa mendapatkan makanan, pakaian dan tempat tinggal, manusia harus ngapain? Tentu saja manusia harus berusaha (tak lupa berdoa) untuk memperoleh ketiga hal tadi. Usaha seperti apa yang harus dilakukan oleh manusia? Tentu saja adalah bekerja atau yang sering dikatakan dengan berproduksi. Dari proses produksi inilah yang kemudian membentuk suatu tatanan masyarakat, apakah proses produksinya secara kolektif atau secara perseorangan dan cenderung merugikan yang lainnya.
Meskipun sebagian berwatak binatang, akan tetapi manusia berbeda dengan binatang, manusia adalah makhluk yang memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi, sehingganya tak heran sejak zaman komunal primitif sampai dengan saat ini proses produksinya selalu berbeda, dari mengumpul dan berburu sampai dengan memukul dan membunuh. Zaman komunal primitif, manusia harus berburu dan mengumpulkan biji-bijian untuk dimakan, dengan alat produksi dari tulang dan batu sebagai pendukung kerja-kerja manusia kala itu. Begitupun dengan pakaian dan tempat tinggal, semuanya masih primitif, begitulah selanjutnya siklus hidup manusia sampai pada suatu masa ditemukanlah sistem pertanian yang kemudian merubah cara manusia berproduksi. Singkatnya, semua selalu berubah sebagai sesuatu yang menyejarah.
Singkat cerita, dengan berkembangnya zaman, sistem barter yang berlaku dalam masyarakat mulai tergerser seiring dengan berlakunya sebuah material yang menjadi alat ukur (emas kemudian uang). Mulai berlakunya emas sebagai alat ukurr merupakan hasil dari perkembangan masyarakat pada waktu itu. Ketika sistem barter berlaku, masyarakat yang tinggal di pesisir akan saling melakukan pertukaran hasil produksi dengan masyarakat yang tinggal di pegunungan. Ikan hasil tangkapan masyarakat yang tinggal di pesisir akan ditukarkan dengan ubi-ubian hasil pertanian dari masyarakat yang tinggal di pengunungan. Kambing seekor ditukar satu buah kelapa, walaupun agak berlebihan setidaknya begitulah gambaran masyarakat waktu itu. Adalah emas yang menjadi alat ukur pertukaran. Misalnya, 1 keping emas setara dengan 1 buah kelapa, sementara 1 ekor kambing setara dengan 10 keping emas, maka 1 ekor kambing setara dengan 10 buah kelapa, kira-kira seperti itulah gambaran umumnya. Singkat cerita, sistem tukar menukar menjadi sistem jual beli yang dikemudian hari Uang mulai berlaku sebagai alat pembayaran yang sah, tidak cukup sampai disitu, uangpun bertransformasi menjadi kapital.
Kita hidup di zaman yang berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya, kita berada di zaman yang terbilang cukup unik dan sangat ribet, kita hidup pada suatu zaman dimana uang dianggap sebagai segalanya, kita hidup pada suatu zaman dimana uang adalah yang maha kuasa. Demikianlah potret kehidupan kita saat ini, “Manusia hidup ketergantungan dengan benda mati (uang)”.
Dulu, untuk mendapatkan makanan manusia harus berburu atau menanam tanaman penghasil bahan makanan, singkatnya manusia bekerja untuk mendapatkan makanan. Untuk mendapatkan pakaian, harus menenun dan menggunakan pakaian dari kulit binatang hasil buruan. Untuk mendapatakan tempat tinggal, manusia harus bekerja membuat rumah atau tempat berteduh lainnya da mencari gua-gua yang aman untuk berlindung. Sekarang, manusia bekerja bukan untuk mendapatkan makanan, malainkan untuk mendapatkan uang yang nantinya dari uang tersebut akan dibelikan makanan. Sama halnya dengan pakaian dan tempat tinggal, manusia tidak lagi bekerja membuat pakaian dan tempat tinggal, melainkan bekerja untuk mendapatkan uang dan nantinya uang hasil kerjanya itulah yang akan digunakan untuk membeli pakaian dan tempat tinggal. Ada orang yang menenun, akan tetapi kain yang ia tenun bukan untuk dipakai melainkan untuk dijual dan nantinya hasil penjualan kain tersebut dipakai untuk membeli pakaian. Ada yang membangun rumah, akan tetapi rumah tersebut bukan miliknya melainkan milik orang lain. Ada apa dengan manusia saat ini? Setidaknya dalam siklus hidup manusia telah ketambahan satu hal. Dulunya untuk mendapatkan makanan, pakaian dan tempat tinggal cukup dengan bekerja, sekarang harus bekerja mencari uang terlebih dahulu dan kemudian uang tersebut untuk membeli makanan, pakaian dan tempat tinggal.
Makanan, pakaian dan tempat tinggal kita semua bisa membuatnya sendiri, lantas kenapa harus mencari uang terlebih dahulu untuk mendapatkan itu semua? Mengapa kita harus membeli sementara kita sendiri bisa membuatnya? Jawaban sederhanaya adalah; tidak semua manusia mempunyai keahlian dalam segala hal, makanya bagi mereka yang tidak pandai menenun harus bekerja untuk mendapatkan uang dan membeli pakaian. Mungkin jawaban itu tidaklah salah, tetapi terlalu sempit kita berpikir jika mengiyakan jawaban seperti itu. Ini bukan persoalan pandai dan tidaknya seseorang dalam menenun tetapi sejauh mana dia berusaha pastilah menenun bukan hal yang mustahil bagi semua manusia. Habibie tidak langsung pandai membuat pesawat tanpa proses belajar, begitupun dengan Edison dan Tesla yang tak mungkin bisa membuat lampu tanpa proses belajar.
Okelah, kalaupun tidak semua manusia bisa menenun kain, mengapa kita tidak hidup saling melengkapi saja satu sama lain? Mengapa seorang ahli tenun harus menjual selembar kain dengan harga yang mahal kepada petani yang bisa menanamkan kapas untuknya dan mengapa seorang petani harus menjual beras dengan harga yang mahal kepada seorang buruh yang mampu membuatkan rumah mewah untuknya?
Akhir kata, kupikir lebih indah sebuah kehidupan dalam Utopia Thomas More.
Penulis adalah Anggota LMDP Gorongtal
ARTIKEL
OPINI
West Papua
Penulis: Arnold Ev. Meaga*
KEADAAN BUMI DAN ISINYA
Dalam bumi yang di huni oleh makluk hidup, tumbuhan dan atau segala jenis makluk hidup yang ada di bumi ini apapun itu semuanya berdomisili pada tempatnya (Daerah) masing-masing. Singkatnya sang pencipta Alam Semesta (Tuhan) sudah memfasilitasi buminya makluk hidup (Manusia dan sejenisnya) secara terpisah-pisah berdasarkan ras dan etnik dari setiap makluk hidup yang ada pula di dalam perut bumi ini sendiri. Sehingga tempat-tempat yang di huni oleh makluk hidup semuanya sang pencipta alam semesta (Tuhan) sudah pulah memfasilitasi dan menyediakan sumber daya alamnya (SDA) masnig-masing. Sehingga makluk hidup tersebut dapat mempertahankan keberlangsungan hidupnya dengan cara mengelola sumber daya alam dan mengkonsumsinya secara kolektif oleh mereka kelompok makluk hidup yang berdomisili pada wilaya atau daerah tempat bermukimnya itu, dengan cara dan gaya mereka sendiri.
SERAKAHNYA MAKLUK HIDUP (MANUSIA) DI BUMI
Semua manusia mempunyai hak dalam menjalankan aktivitas dalam berpolitik, dalam membagun rana privat, mengembagkan ekonomi mandiri perindividu ataupun kolektif, mendapatkan pendidikan yang layak, bebas bekerja dalam membangun sesuatu secara kolektif, dan banyak kebebasan lainnya yang berkaitan dengan kepentingan manusia itu sendiri. Namun dalam suatu bangsa yang berdomisili pada negarannya masing-masing belum tentu keadaan dan kenyataan sosialnya berada dalam keadaan damai, makmur, dan sejahtera. Melainkan ketidak adilan, ketertindasan, represifitas, pemerkosaan, perbudakan bahkan pembunuhan pun kerap dan selalu terjadi atas bangsa itu sendiri, oleh penguasa yang berkuasa pula atau penjajah yang menjajah bangsa tersebut. Sehingga kontradiktif antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain dapat terjadi ketika bangsa lain mempraktikan penjajahan terhadap bangsa yang lainnya, yang menjadi objek utamanya untuk siap di jajah dari berbagai macam aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu dengan kemajuannya pendidikan, teknologi, kecerdasan manusia, dan kemajuan suatu bangsa dan negara tersebut atas bangsa dan negara lainnya hanya akan membuat bangsa dan negara maju tersebutlah yang layak dan berhak dalam mengurus serta menguasai bangsa dan negara lainnya yang belum maju pula, dalam bidang ekonominya, pendidikannya, kurangnya sumber daya manusianya (SDM), atau singkatnya bangsa-bangsa yang belum maju dalam hal apapun itu. Dengan demikian bangsa tersebut akan dengan muda untuk di jajah dan di eksploitasi dumber daya alamnya oleh mereka bangsa penjajah yang pada hakikatnya sudah maju dalam hal apapun itu. Oleh sebab itu kemajuan suatu bangsa dan negara, akan semakin meningkat pula keserakahannya terhadap bangsa-bangsa yang di anggap lemah olehnya pula (Penjajah).
BUMI PAPUA DAN ISINYA
Bangsa-bangsa yang ada di bawah kolong lagit biru ini, semuanya memiliki buminya masing-masing, yang mana sudah di sediakan oleh sang Khalik atas bangsa-bangsa yang ada pula di bumi ini. Bangsa Indonesia memiliki buminya sendiri yaitu bumi jawa yang di huni oleh bangsa Indonesia ini sendiri dengan etnik yang berbeda dengan bangsa lainnya, bangsa Amerika juga memiliki buminya sendiri, begitupun bangsa Israel memiliki buminya sendiri dan bangsa-bangsa lainnya yang ada pula di bumi ini. Bumi West Papua dan seluruh isinya adalah mutlak milik bangsa West Papua. Bumi West Papua bukan milik bangsa Belanda, bumi West Papua bukan milik bangsa Amerika dan bukan pula milik bangsa Indonesia. Bumi Papua adalah milik bangsa West Papua, bangsa Papualah yang berhak atas bumi West Papua dalam mengelola sumber daya alam (SDM) yang terkandung dalam bumi West Papua itu sendiri. Bangsa lain tidak punya hak sama sekali untuk mengeksploitasi dan merampas bumi West Papua dari bangsa West Papua, sebab semua bangsa-bangsa sudah memiliki buminya masing-masing oleh sang Khalik.
HANCURNYA BUMI PAPUA
Status bumi West Papua saat ini berada pada situasi, kondisi dan keadaan terjajah oleh bangsa yang merasa diri sudah hebat dan sudah pula maju dalam bidang apapun itu, mau teknologi, pendidikan, SDM, ekonomi, sosial budaya dan sebagainya, ialah mereka bangsa Indonesia yang pada hakikatnya baru bebas (Merdeka) dari cengkraman kolonialisme Hindia Belanda setelah dijajah dalam kurun waktu 300 tahun lamanya. Sehingga bangsa Indonesia berasumsi bahwa bangsa West Papua harus di kuasai oleh kita karena bangsa West Papua masi hidup di jaman batu alias belum maju dalam hal apapun. Oleh sebab itu bangsa West Papua diintegrasikan masuk ke dalam bingkai negara kestuan repulik Indonesia pada 1 Mei 1963, secara paksa dan di bawah intimidasi bangsa Indonesia melalui angkatan bersenjata. Sehingga mau tak mau bangsa West Papua dapat di gabungkan dengan bangsa Indonesia (Kolonialisme) menjadi satu-kesatuan. Namun latar belakang historis pengintegrasian bangsa West Papua masuk ke dalam negara dan bangsa Indonesia adalah ilegal.
BUMI PAPUA SURGA BAGI KAPITALISME DAN BORJUASI LOCAL (PAPUA)
Yang mulia tuan pebaca, pada bagian ini hanya akan saya bahas bagaimana cara masuknya kapitalisme asing, nasional, dan lokal berkuasa di atas bumi West Papua dalam mengeksploitasi kandungan sumber daya alam (SDA) yang terkandung pula dalam bumi West Papua itu sendiri.
Tidak di ragukan lagi untuk bumi West Papua dengan sumber daya alamnya (SDA) yang berlimpa pula dalam bumi West Papua itu sendiri. Sehingga membuat para infestor asing, nasional dan lain-lain berbondang-bondang pada berdatangan ke dalam negara kesatuan repulik Indonesia ini, guna menawarkan kontrak kerja dalam rangka penanaman infestasinya di bumi West Papua. terkait ini adapun respon yang pernah di lontarkan oleh wapres Indonesia Boediono menegaskan bahwa, Papua tetap tempat yang aman bagi para investor asing. Tak hanya itu, Papua tetap memiliki potensi bisnis yang baik bagi para investor. Hal ini disampaikan Boediono berkaitan dengan situasi di Bumi Cendrawasih yang sempat memanas. "Papua tetap menarik. Semua kembali kepada investor. Tetap ada high return. Saya tak khawatir karena investor selalu berpikir rasional," kata Boediono di hadapan forum Jakarta Foreign Correspondents Club, Jakarta, Rabu (7/12/2011).
Sebelum Papua menjadi wilaya/daerah yang berotonom, semua kebijakan di kontrol dan di kendalikan oleh negara sentral (Jakarta) apapun itu, mau ekonomi, politik, sosial budaya, sumber daya alam (SDA), pendidikan, dan berbagai macam aturan yang tidak masuk akal pun kerap di terapkan di Papua. Namun pada 2001 Papua di berikan otonomi khusus dan Papua sebagai daerah/wilayah yang berotonom. Lalu sebelum Papua tersebut mendapatkan status sebagai daerah otonom semua kendali atas ijin penanaman investasi dan lain-lain semuanya di atur oleh pemerintah sentral (Jakarta) melalui kementrian/institusi yang berkaitan, sehingga bangsa West Papua tidak ada hak-hak asasinya sama sekali di atas tanah dan negrinya sendiri (West Papua). tetapi setelah Papua menjadi wilayah/daerah otonom pada 2001 sampai dengan saat ini, pemerintah Papua dapat membatasi segala macam aturan yang di keluarkan oleh pemerintah sentral atas Papua. Dan pemerintah Papua dapat pula membuat aturan perda sendiri terkait hal-hal yang dapat membawa jaminan hidup yang baik bagi rakyat bangsa West Papua itu sendiri dan lain-lain. Dalam kontrak penanaman investasi asing untuk wilayah/daerah Papua pun tidak dapat di putuskan oleh negara sentral (Jakarta) karena Papua adalah daerah otonom, sehingga keputusan-keputusan atas perjanjian kontrak investasi haruslah di libatkan pemerintah Papua. Negara sentral tak punya hak dalam mengambil keputusan bahkan tindakan secara sepihak terkait Papua itu sendiri.
Tetapi walaupun daerah/wilayah Papua adalah daerah yang berotonom namun dalam hal apapun masi dan tetap di atur dan di kontrol penuh oleh negara sentral dari berbagai macam aspek ekonomi, sosial budaya, politik, pendidikan bahkan sampai dengan peraturan-peraturan daerah pun (Perda) masi saja terus di intervensi oleh negara sentral. Tetapi untuk saat ini infestor asing, nasional bahkan local dapat mengeksploitasi sumber daya alam di Papua sesuka-sukanya, dan daerah atau wilayah untuk dapat di eksploitasi olehnya pun dapat di petak-petakkan sesukanya. Kenapa demikian, karena para investor ilegal maupun legal hanya dapat membangun relasi mereka dengan orang-orang yang berpengaru di Papua seperti Bupati, Kepala Suku, Tokoh-toko adat, Ondoafi dan sejenisnya terkait ijin usaha investasi yang akan beroperasi di bumi West Papua tersebut. sehingga samapai dengan saat ini, pertumbuhan infestasi asing, nasional dan local pun tumbuh dengan subur di bumi West Papua, mau ilegal sampai dengan legal.
Oleh sebab itu Negara Indonesia sendiri tak mampu dalam menyelesaikan problem yang satu ini pada daerah-daerah yang ada di dalam negri ini sendiri. Pemerintah Papua dan Papua Barat pun tidak optimis dalam mengambil keputusan terkait hal ini, sehingga pemerinta Papua dan Papua Barat juga tak mampu pula dalam mengkonservasikan problem serupa, sebab dengan adanya berbagai macan investor tersebut hanya akan menghancurkan ruang hidup bagi mereka orang-orang Papua.
Sumber Referensi:
http://ekonomi.kompas.com/read/2011/12/07/17020171/wapres.papua.aman.untuk.investasi.asing
Mekanisme Penanaman Investasi Ilegal Dan Legal Di Bumi West Papua
KEADAAN BUMI DAN ISINYA
Dalam bumi yang di huni oleh makluk hidup, tumbuhan dan atau segala jenis makluk hidup yang ada di bumi ini apapun itu semuanya berdomisili pada tempatnya (Daerah) masing-masing. Singkatnya sang pencipta Alam Semesta (Tuhan) sudah memfasilitasi buminya makluk hidup (Manusia dan sejenisnya) secara terpisah-pisah berdasarkan ras dan etnik dari setiap makluk hidup yang ada pula di dalam perut bumi ini sendiri. Sehingga tempat-tempat yang di huni oleh makluk hidup semuanya sang pencipta alam semesta (Tuhan) sudah pulah memfasilitasi dan menyediakan sumber daya alamnya (SDA) masnig-masing. Sehingga makluk hidup tersebut dapat mempertahankan keberlangsungan hidupnya dengan cara mengelola sumber daya alam dan mengkonsumsinya secara kolektif oleh mereka kelompok makluk hidup yang berdomisili pada wilaya atau daerah tempat bermukimnya itu, dengan cara dan gaya mereka sendiri.
SERAKAHNYA MAKLUK HIDUP (MANUSIA) DI BUMI
Semua manusia mempunyai hak dalam menjalankan aktivitas dalam berpolitik, dalam membagun rana privat, mengembagkan ekonomi mandiri perindividu ataupun kolektif, mendapatkan pendidikan yang layak, bebas bekerja dalam membangun sesuatu secara kolektif, dan banyak kebebasan lainnya yang berkaitan dengan kepentingan manusia itu sendiri. Namun dalam suatu bangsa yang berdomisili pada negarannya masing-masing belum tentu keadaan dan kenyataan sosialnya berada dalam keadaan damai, makmur, dan sejahtera. Melainkan ketidak adilan, ketertindasan, represifitas, pemerkosaan, perbudakan bahkan pembunuhan pun kerap dan selalu terjadi atas bangsa itu sendiri, oleh penguasa yang berkuasa pula atau penjajah yang menjajah bangsa tersebut. Sehingga kontradiktif antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain dapat terjadi ketika bangsa lain mempraktikan penjajahan terhadap bangsa yang lainnya, yang menjadi objek utamanya untuk siap di jajah dari berbagai macam aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu dengan kemajuannya pendidikan, teknologi, kecerdasan manusia, dan kemajuan suatu bangsa dan negara tersebut atas bangsa dan negara lainnya hanya akan membuat bangsa dan negara maju tersebutlah yang layak dan berhak dalam mengurus serta menguasai bangsa dan negara lainnya yang belum maju pula, dalam bidang ekonominya, pendidikannya, kurangnya sumber daya manusianya (SDM), atau singkatnya bangsa-bangsa yang belum maju dalam hal apapun itu. Dengan demikian bangsa tersebut akan dengan muda untuk di jajah dan di eksploitasi dumber daya alamnya oleh mereka bangsa penjajah yang pada hakikatnya sudah maju dalam hal apapun itu. Oleh sebab itu kemajuan suatu bangsa dan negara, akan semakin meningkat pula keserakahannya terhadap bangsa-bangsa yang di anggap lemah olehnya pula (Penjajah).
BUMI PAPUA DAN ISINYA
Bangsa-bangsa yang ada di bawah kolong lagit biru ini, semuanya memiliki buminya masing-masing, yang mana sudah di sediakan oleh sang Khalik atas bangsa-bangsa yang ada pula di bumi ini. Bangsa Indonesia memiliki buminya sendiri yaitu bumi jawa yang di huni oleh bangsa Indonesia ini sendiri dengan etnik yang berbeda dengan bangsa lainnya, bangsa Amerika juga memiliki buminya sendiri, begitupun bangsa Israel memiliki buminya sendiri dan bangsa-bangsa lainnya yang ada pula di bumi ini. Bumi West Papua dan seluruh isinya adalah mutlak milik bangsa West Papua. Bumi West Papua bukan milik bangsa Belanda, bumi West Papua bukan milik bangsa Amerika dan bukan pula milik bangsa Indonesia. Bumi Papua adalah milik bangsa West Papua, bangsa Papualah yang berhak atas bumi West Papua dalam mengelola sumber daya alam (SDM) yang terkandung dalam bumi West Papua itu sendiri. Bangsa lain tidak punya hak sama sekali untuk mengeksploitasi dan merampas bumi West Papua dari bangsa West Papua, sebab semua bangsa-bangsa sudah memiliki buminya masing-masing oleh sang Khalik.
HANCURNYA BUMI PAPUA
Status bumi West Papua saat ini berada pada situasi, kondisi dan keadaan terjajah oleh bangsa yang merasa diri sudah hebat dan sudah pula maju dalam bidang apapun itu, mau teknologi, pendidikan, SDM, ekonomi, sosial budaya dan sebagainya, ialah mereka bangsa Indonesia yang pada hakikatnya baru bebas (Merdeka) dari cengkraman kolonialisme Hindia Belanda setelah dijajah dalam kurun waktu 300 tahun lamanya. Sehingga bangsa Indonesia berasumsi bahwa bangsa West Papua harus di kuasai oleh kita karena bangsa West Papua masi hidup di jaman batu alias belum maju dalam hal apapun. Oleh sebab itu bangsa West Papua diintegrasikan masuk ke dalam bingkai negara kestuan repulik Indonesia pada 1 Mei 1963, secara paksa dan di bawah intimidasi bangsa Indonesia melalui angkatan bersenjata. Sehingga mau tak mau bangsa West Papua dapat di gabungkan dengan bangsa Indonesia (Kolonialisme) menjadi satu-kesatuan. Namun latar belakang historis pengintegrasian bangsa West Papua masuk ke dalam negara dan bangsa Indonesia adalah ilegal.
BUMI PAPUA SURGA BAGI KAPITALISME DAN BORJUASI LOCAL (PAPUA)
Yang mulia tuan pebaca, pada bagian ini hanya akan saya bahas bagaimana cara masuknya kapitalisme asing, nasional, dan lokal berkuasa di atas bumi West Papua dalam mengeksploitasi kandungan sumber daya alam (SDA) yang terkandung pula dalam bumi West Papua itu sendiri.
Tidak di ragukan lagi untuk bumi West Papua dengan sumber daya alamnya (SDA) yang berlimpa pula dalam bumi West Papua itu sendiri. Sehingga membuat para infestor asing, nasional dan lain-lain berbondang-bondang pada berdatangan ke dalam negara kesatuan repulik Indonesia ini, guna menawarkan kontrak kerja dalam rangka penanaman infestasinya di bumi West Papua. terkait ini adapun respon yang pernah di lontarkan oleh wapres Indonesia Boediono menegaskan bahwa, Papua tetap tempat yang aman bagi para investor asing. Tak hanya itu, Papua tetap memiliki potensi bisnis yang baik bagi para investor. Hal ini disampaikan Boediono berkaitan dengan situasi di Bumi Cendrawasih yang sempat memanas. "Papua tetap menarik. Semua kembali kepada investor. Tetap ada high return. Saya tak khawatir karena investor selalu berpikir rasional," kata Boediono di hadapan forum Jakarta Foreign Correspondents Club, Jakarta, Rabu (7/12/2011).
Sebelum Papua menjadi wilaya/daerah yang berotonom, semua kebijakan di kontrol dan di kendalikan oleh negara sentral (Jakarta) apapun itu, mau ekonomi, politik, sosial budaya, sumber daya alam (SDA), pendidikan, dan berbagai macam aturan yang tidak masuk akal pun kerap di terapkan di Papua. Namun pada 2001 Papua di berikan otonomi khusus dan Papua sebagai daerah/wilayah yang berotonom. Lalu sebelum Papua tersebut mendapatkan status sebagai daerah otonom semua kendali atas ijin penanaman investasi dan lain-lain semuanya di atur oleh pemerintah sentral (Jakarta) melalui kementrian/institusi yang berkaitan, sehingga bangsa West Papua tidak ada hak-hak asasinya sama sekali di atas tanah dan negrinya sendiri (West Papua). tetapi setelah Papua menjadi wilayah/daerah otonom pada 2001 sampai dengan saat ini, pemerintah Papua dapat membatasi segala macam aturan yang di keluarkan oleh pemerintah sentral atas Papua. Dan pemerintah Papua dapat pula membuat aturan perda sendiri terkait hal-hal yang dapat membawa jaminan hidup yang baik bagi rakyat bangsa West Papua itu sendiri dan lain-lain. Dalam kontrak penanaman investasi asing untuk wilayah/daerah Papua pun tidak dapat di putuskan oleh negara sentral (Jakarta) karena Papua adalah daerah otonom, sehingga keputusan-keputusan atas perjanjian kontrak investasi haruslah di libatkan pemerintah Papua. Negara sentral tak punya hak dalam mengambil keputusan bahkan tindakan secara sepihak terkait Papua itu sendiri.
Tetapi walaupun daerah/wilayah Papua adalah daerah yang berotonom namun dalam hal apapun masi dan tetap di atur dan di kontrol penuh oleh negara sentral dari berbagai macam aspek ekonomi, sosial budaya, politik, pendidikan bahkan sampai dengan peraturan-peraturan daerah pun (Perda) masi saja terus di intervensi oleh negara sentral. Tetapi untuk saat ini infestor asing, nasional bahkan local dapat mengeksploitasi sumber daya alam di Papua sesuka-sukanya, dan daerah atau wilayah untuk dapat di eksploitasi olehnya pun dapat di petak-petakkan sesukanya. Kenapa demikian, karena para investor ilegal maupun legal hanya dapat membangun relasi mereka dengan orang-orang yang berpengaru di Papua seperti Bupati, Kepala Suku, Tokoh-toko adat, Ondoafi dan sejenisnya terkait ijin usaha investasi yang akan beroperasi di bumi West Papua tersebut. sehingga samapai dengan saat ini, pertumbuhan infestasi asing, nasional dan local pun tumbuh dengan subur di bumi West Papua, mau ilegal sampai dengan legal.
Oleh sebab itu Negara Indonesia sendiri tak mampu dalam menyelesaikan problem yang satu ini pada daerah-daerah yang ada di dalam negri ini sendiri. Pemerintah Papua dan Papua Barat pun tidak optimis dalam mengambil keputusan terkait hal ini, sehingga pemerinta Papua dan Papua Barat juga tak mampu pula dalam mengkonservasikan problem serupa, sebab dengan adanya berbagai macan investor tersebut hanya akan menghancurkan ruang hidup bagi mereka orang-orang Papua.
Sumber Referensi:
http://ekonomi.kompas.com/read/2011/12/07/17020171/wapres.papua.aman.untuk.investasi.asing
ARTIKEL
OPINI
West Papua
Oleh: Yesaya gobay
Hidup manusia pada umumnya, saling menghidupi menghidupkan di setiap lini kehidupan di masing masing wilayah, adat, klen/ suku dan budaya serta mempunyai tempat hidup yang layak, juga berbeda beda antara tiap klen/suku yang ada di bumi papua, tetapi saling melengkapi dan saling menjaga kekeluargaan, dan ketergantungan dengan alam di suatu wilayah yang ada di bumi papua.
Alam yang ada dan di miliki oleh setiap klen/suku yang ada, dan di wajibkan mempunyai tanggung jawab yakni untuk memantau, menjaga, melindugi, menghormati hingga mengelolah semua yang ada dan yang terdapat di muka bumi papua, juga Orang papua di jamin utuk menjaga secara baik, mengelolah secara baik untuk kedepannya, dan memelihara apa yang ada, itu adalah tanggung jawab setiap manusia manusia papua sebagai manusia yang sejatih.
Di lain sisi lain orang papua di haruskan untuk bisa membuat sesuatu dari alam yang ada menjadi barang jadi dan barang yang siap di pakai. Agar roda ketergantugan yang di alami rakyat papua dan yang di terapkan kolonialisme indonesia guna menghilagkan manusia papua dengan menjalankan slow sistem itu agar hilang dengan sendirinya dan tidak relevan lagi bagi rakyat papua, manusia papua, dan Pemikiran kita orang papua harus mampu untuk saling menghidupi dan bukan menjadi konsumtor saja melaikan menjadi produktor itulah hal utama yang harus di pikirkan di setiap lini agar kerja kerja kolonialisme di atas tanah papua tidak berjalan sesuai pikiran mereka yang rencananya memusnahkan rakyat papua.
Kenapa ada ketergantungan ?
Secara keseluruhan orang papua mempunyai tempat yang di tetapkan, tempatkan, menjaga melindunggi dan mengelolah alam kaya yang ada di bumi papua, seperti yang di ceritakan diatas. Wilayah wilayah yang ada di duduki orang papua pada umumnya adalah berkulit hitam berambut keriting, ras melanesia bangsa papua barat.
Sejarah mencatat tahun 60an, saat "sukarno suartho" mengumandangkan trikora di alun alun kota djogyakarta, kolonialisme indonesia menduduki wilayah west papua dengan ganas, membawa masuk beribuh militer, tni poli menduduki wilayah west papua hingga menduduki dan merampas merampok semua di bumi papua untuk menjadi bagian dari NKRI.
Akibatnya karena trauma militer, dan karena menganggap/di angap terbelakang maka orang papua sulit atau susah untuk maju, dan kedudukan migran melewati batas batas, artinya terlalu melebihi batas, memenuhi semua lini kehidupan, rakyat papua di buat tidak berdaya, untuk tidak harus mengolah yang ada melainkan menjadi konsumtif aktif dalam segala aspek kehidupan akibatnya ketergantugan terpelihara dan tumbuh subuh di kehidupan manusia papua maka secara tidak sadar maupun sadar rakyat papua di singgkirkan dari tempat, kampung, wilayah yang ada dan menggungsi ke tempat lain seperti orang mingran akhirnya apa yang terjadi, orang papua tidak dapat kesempatan, ruang, tempat, maka terjadilah ketergantugan terus terjaga rapi oleh kolonial, pengharapan dan hanya dapat lihat di pigiran jalan, yang lagi berjalan sembarang sebarang
Kehadiran militer, tni/porli ?
Militer indonesia merampas dan merampok memperkosa di seluruh tanah papua dan mengecap masyarakat adat sebagai masyarakat separatis dan mengistimakannya, seperti pakai pakean adat, dan budaya di ganti dengan ala modern. Juga menguasi di bagian bagian segi kehidupan masyarakat papua dalam bidang apa pun,
Sejak 1963 indonesia masuk menguasai papua dengan kata "integrasi" atau papua "aneksasi" rakyat papua ke dalam bingkai NKRI, saat itu juga indonesia menguasai seluruh wilayah yang ada, saat itulah rakyat papua di bunuh dengan dengan cara, menakut nakuti, mengistima, memperkosa, menyiksa dan membuat rakyat papua tidak dapat bangkit seperti dulu, untuk menjaga, melindungi alam yang ada, hingga memanfaat alam yang ada dengan sebaik mungkin seperti yang dulu sebeum di duduki kolonialisme indonesia atas west papua.
Akibat kehadiran militer indonesia menguasai di setiap segi kehidupan, menciptakan operasi operasi militer, memperaktekkan kekerasan kemanusiaan di atas tanah papua.
Membuat rakyat papua kehaburan, kehancuran, akan kehidupan rakyat papua dari segi kehidupannya, dan meninggalkan kehidupan yang sebenarnya dan mengikuti kehidupan modern alla kolonial yang di atur secara slow sistem. Akhirnya rakyat papua yang sebelumnya mempunyai tanah serta wilayah yang luas tidak lagi di tempati karena takut akan militer yang sudah mengistimakan rakyat papua sebagai objek, akibatnya rakyat papua meninggalkan tempat mereka dan bertahan hidup di kota dan dan jadi kaum miskin yang ada di kota, sedangkan tanah yang ia miliki di jual kepada militer yang telah mengistimakan rakyat tersebut.
Kehadiran pemekaran, menyingkirkan rakyat ?
Mulai masa reformasi, rezim juga di ganti sesuai pemimpinnya juga kepemimpinan. Pada tahun 2001 otsus di terbitkan bagi orang papua untuk memadamkan gerakan perjuangan papua merdeka, saat itu, isu pergerakan papua merdeka lagi panas di seluruh tanah air west papua, pada saat itu juga banyak terjadi teragedi tragedi berdara demi memadamkan gerakan tersebut, dan otsus juga salah satu rayuan dari pergerakan perjuangan tersebut yang di berikan dan di sahkan pada saat itu.
kehadiran pemekaran atau daerah otonomi baru DOB di papua paling ramai di lihat saat ini, banyak perlombahan mempejuangkan pemekaran baik itu provinsi, kabupaten/kota, desa, kampung.
Kasahan kami para elit elit papua di mana? Dan kesalahan kami rakyat tertindas di mana?, melihat dari kedua topik tersebut adalah para elit elit yang memperjuangkan, demi sebuah kursi kosong nantinya bahkan mementingkan diri pribadinya.
Seperti yang di ulas di atas tentang peningkiran rakyat papua dalam segala lini bahwa kehadiran pemekaran menyingkirkan rakyat papua entah dengan secara sadis di bidang apapun itu, ekonomi, sosial, politik, budaya.
Pemekaran membuka ruang untuk semua mingran untuk membuka tempat, dapat memenuhi tempat tempat yang masih kosong.
Dan memberi ruang, meberi tempat, untuk para minggran dapat menguasai tempat tempat tersebut.
Jadi tidak perlu mencari alansan jauh jauh pemekaran di lakukan, masyarakat papua di singkirkan dari tempat mereka, itulah kejahatan kolonialisme untuk meusnahkan orang papua dengan slow sistem, juga Kehadiran pemekaran ini menghancukan, membahayakan, menyigkirkan rakyat papua dari tempat semula, dan menghadirkan imigran dan mengisi semua orang, tempat, aspek, segi yang ada di papua. Itulah agenada kolonialisme.
Penyingkiran Amugme dan kamoro ?
Wilayah papua mempunyai tempat yang luas adanya, tempat tempat tersebut di huni klen/suku yang berada di wilayah tersebut, di timika juga demikan dan juga guna mengetahui penyingkiran amungme dan kamoro di kota timika papua tuan rumah bumi amungsa lebih yang lebih artinya melebih batas.
Kita melihat dan tahu bahwa Penyingkiran tersebut di buat oleh kolonialisme bodok indonesia yang terus merayu rayu dan membudak orang papua, menciptakan ketergantungg terhadap hal hal yang tidak harus rakyat lakukan.
Para imigran yang tadinya masuk dan memenuhi papua di kota timika, Berhasil membuat rayat papua ketergantungan, membuat rakyat papua tak mumpu untuk bangkit, kenapa demikian itu harus terjadi?
Amungme dan kamoro di manjakan dengan lipat lipatan uang di jamin semua segi kehidupan bahkan semuanya di tanggung oleh freeport dan membuat orang amungsa tak mampu berfikir jauh ke depan, bagaimana akan terjadi generasi ke depannya.
Melihat soal di jamin manja oleh freeport, sedangkan banyak peneliti mengatakan timika adalah pusat kemiskinan?
Apa yang terjadi dengan amungsa, kenapa amungsa tidak dapat maju maju, orang kamoro di mana ? Orang amungme di mana?,
Kolonialis, kapitalis menciptakan ketergantugan kepada kit untuk tidak dapat maju, kita hanya tunggu dana freeport kapan di kasih dan kita tidak tau bagaimana menciptakan sesuatu yang baru, menciptakan apa saja kita masih ketergantugan dati dari jawa, sumatra, kalimantan dll, untuk berusaha menciptan sesuatu hall.
Tetapi kolonialisme mengubah polah pikir kita untuk bagaimana kita bisa mendapatkan uang dari freepot dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi, di kasih rumah di suruh jual ke pendatang dengan harga murah
Akibatnya kami orang amungsa lari semua di kota karena di kampung kapung sudah tidak ada lagi tempat untuk hidup, karena semua sudah di jual habis ke pendatang.
Akibatnya saat ini, banyak sekali kaum miskin kota yang berkelebihan di kota timika dan itu adalah anak amungsa asli, ketergantungan ini di lakukan oleh kolonialisme indonesia menyuruh agar untuk dapat rakyat papua di suruh untuk tidak boleh maju.
Kolonialisme indonesia menciptakan ini, di bumi amungsa, membuat ketergantugan akan freepot dan pemeritah supaya orang papua tidak boleh bangkit
Kolonialisme dan kapitalisme di papua
Keduanya saling berhubugan dalam sisi lain saling melengkapi antara kekurangan dan kelebihan dalam menjalankan agenda tersebut.
Untuk lebih fokusnya, kehadiaran kolonial dan kapitalis dan menyingkirkan rakyat papua dalam setiap segi kehidupan dan melahirkan kelas kaum miskin kota di masyarakat kaum rendah di papua.
Dalam hal ini kolonialisme tak tinggal diam, tiap hari dalam kesibukan, kerjaan/pekerjaan/pegelolahan dll artinya setiap aspek kehidupan manusia papua, kolonialisme sudah ada lebih dulu entah itu di mana saja di bidang ekonomi, sosial, politik, hingga kehidupan sehari hari,
Dan kehidupan kita di kontrol oleh mereka.
Juga kapitalis, kapitalis berada di mana saja, di aspek/ segi mana saja, bahkan ia yang menjadi aktor penindas yang mengiginkan nilai lebih pada tiap saat.
Dalam hal penyikiran, kolonialsime berperan penting untuk menjalankan sistem yang lagi di jalankan dan yang di bekap adalah kapitalis agar mendapatka nilai lebih.
Sistem ketergantugan masyrakat papua di amungsa timika telah tumbuh subur, kolonialisme berperan aktiif agar rakyat papua yamg berada di timika tak mampu berfikir kedepan, tak mampu berfikir bagaimana akan nantinya nasib anak cucu, dan kolonialisme telah sukses dalam melaksanakan tugasnya untuk memberikan rakyat papua akan ketergantugan kepada akan orang pendatang, dan perusahan, bahkan freeport,
Dari kesuksesannya kolonial, dalam penyikiran rakyat papua maka kapitalisme dengan sistemnya, dan degan gampang menjalankan sistemnya tersebut yang unjung unjung mengginkan lebih dan yang kaum lemah tetap lemah dan kuat tetap kuat.
Akibatnya dari sestem ketegantugan kolonialisme yangbekerja untuk bagamana menguntunkan dirinya dan yang di inginkan kapitalis/watak kapitalis, keutungan akan dirinya sendiri maka Akibatnya kami di singkirkan, menjual sembarang semua tanah, rumah, karena yang ada di atur dalamnya sestem slow kolonial, dan itu tumbuh subur di west papua.
Akibatnya kami di pinggirkan di atas tanah yang mempuayai emas minyak dan kami seperti tidak ada tempat tinggal yang ada hanyalah di tempat perjuadian, mabukan, jalan bikin onar dll. Akhirnya kerja kolonial dan kapitalis telah sukses memberi ketegantugan, menyikirkan, di atas tanahnya sendiri.
Siapa Aktor penyingkiran rakyat papua.
Rakyat papua telah di warnai, di ajarkan, di beritahukan, di benarkan dengan sejarah silam yang lagi di rebut oleh rakyat papua itu sendiri
Dan di beritahukan secara terang terangan lewat sejarah maupun realitas penindas di west papua hari ini. Penindasan dapat terjadi adanya sebab akibat, adanya aksi maka adanya reaksi (penindasan).
Belajar dari pengalaman masa lalu dengan jelas kita dapat melihat bahwa aktor ketergantunggan hingga penyingkiran rakyat papua (kaum miskin kota di papua) bahkan rakyat papua secara menyeluruh yang di sponsori oleh elite elite lokal dan yang terus melanggengkan sestem slow kolonialisme yang terus di terapkan atas tanah papua dan menjembatani kapitalis global untuk dapat mengarap semua dan menyingkirkan rakyat yang sudah di godai , di stikmai separatis untuk dapat meninggalkan tempatnya tersebut. dan dengan cara slow sistem untuk dapat menjual, meninggalkan semua tempat tempatnya dan berpindah kampung ke kota, maupun daerah lain untuk mendapatkan hidup yang layak dan sejati, itulah polah pikir yang lagi di mainkan dikerjakan, di jalankan kolonialisme indonesia menyingkirkan rakyat papua dan mebawa dan memusnahkan rakyat papua deng neo riberalisme (penjajahan gaya baru) yang sekarang lagi di jalankan di bumi papua.
"Baku kas tau"
KETERGANTUGAN MASYARAKAT PAPUA DAN KAUM MISKIN KOTA
Oleh: Yesaya gobay
Hidup manusia pada umumnya, saling menghidupi menghidupkan di setiap lini kehidupan di masing masing wilayah, adat, klen/ suku dan budaya serta mempunyai tempat hidup yang layak, juga berbeda beda antara tiap klen/suku yang ada di bumi papua, tetapi saling melengkapi dan saling menjaga kekeluargaan, dan ketergantungan dengan alam di suatu wilayah yang ada di bumi papua.
Alam yang ada dan di miliki oleh setiap klen/suku yang ada, dan di wajibkan mempunyai tanggung jawab yakni untuk memantau, menjaga, melindugi, menghormati hingga mengelolah semua yang ada dan yang terdapat di muka bumi papua, juga Orang papua di jamin utuk menjaga secara baik, mengelolah secara baik untuk kedepannya, dan memelihara apa yang ada, itu adalah tanggung jawab setiap manusia manusia papua sebagai manusia yang sejatih.
Di lain sisi lain orang papua di haruskan untuk bisa membuat sesuatu dari alam yang ada menjadi barang jadi dan barang yang siap di pakai. Agar roda ketergantugan yang di alami rakyat papua dan yang di terapkan kolonialisme indonesia guna menghilagkan manusia papua dengan menjalankan slow sistem itu agar hilang dengan sendirinya dan tidak relevan lagi bagi rakyat papua, manusia papua, dan Pemikiran kita orang papua harus mampu untuk saling menghidupi dan bukan menjadi konsumtor saja melaikan menjadi produktor itulah hal utama yang harus di pikirkan di setiap lini agar kerja kerja kolonialisme di atas tanah papua tidak berjalan sesuai pikiran mereka yang rencananya memusnahkan rakyat papua.
Kenapa ada ketergantungan ?
Secara keseluruhan orang papua mempunyai tempat yang di tetapkan, tempatkan, menjaga melindunggi dan mengelolah alam kaya yang ada di bumi papua, seperti yang di ceritakan diatas. Wilayah wilayah yang ada di duduki orang papua pada umumnya adalah berkulit hitam berambut keriting, ras melanesia bangsa papua barat.
Sejarah mencatat tahun 60an, saat "sukarno suartho" mengumandangkan trikora di alun alun kota djogyakarta, kolonialisme indonesia menduduki wilayah west papua dengan ganas, membawa masuk beribuh militer, tni poli menduduki wilayah west papua hingga menduduki dan merampas merampok semua di bumi papua untuk menjadi bagian dari NKRI.
Akibatnya karena trauma militer, dan karena menganggap/di angap terbelakang maka orang papua sulit atau susah untuk maju, dan kedudukan migran melewati batas batas, artinya terlalu melebihi batas, memenuhi semua lini kehidupan, rakyat papua di buat tidak berdaya, untuk tidak harus mengolah yang ada melainkan menjadi konsumtif aktif dalam segala aspek kehidupan akibatnya ketergantugan terpelihara dan tumbuh subuh di kehidupan manusia papua maka secara tidak sadar maupun sadar rakyat papua di singgkirkan dari tempat, kampung, wilayah yang ada dan menggungsi ke tempat lain seperti orang mingran akhirnya apa yang terjadi, orang papua tidak dapat kesempatan, ruang, tempat, maka terjadilah ketergantugan terus terjaga rapi oleh kolonial, pengharapan dan hanya dapat lihat di pigiran jalan, yang lagi berjalan sembarang sebarang
Kehadiran militer, tni/porli ?
Militer indonesia merampas dan merampok memperkosa di seluruh tanah papua dan mengecap masyarakat adat sebagai masyarakat separatis dan mengistimakannya, seperti pakai pakean adat, dan budaya di ganti dengan ala modern. Juga menguasi di bagian bagian segi kehidupan masyarakat papua dalam bidang apa pun,
Sejak 1963 indonesia masuk menguasai papua dengan kata "integrasi" atau papua "aneksasi" rakyat papua ke dalam bingkai NKRI, saat itu juga indonesia menguasai seluruh wilayah yang ada, saat itulah rakyat papua di bunuh dengan dengan cara, menakut nakuti, mengistima, memperkosa, menyiksa dan membuat rakyat papua tidak dapat bangkit seperti dulu, untuk menjaga, melindungi alam yang ada, hingga memanfaat alam yang ada dengan sebaik mungkin seperti yang dulu sebeum di duduki kolonialisme indonesia atas west papua.
Akibat kehadiran militer indonesia menguasai di setiap segi kehidupan, menciptakan operasi operasi militer, memperaktekkan kekerasan kemanusiaan di atas tanah papua.
Membuat rakyat papua kehaburan, kehancuran, akan kehidupan rakyat papua dari segi kehidupannya, dan meninggalkan kehidupan yang sebenarnya dan mengikuti kehidupan modern alla kolonial yang di atur secara slow sistem. Akhirnya rakyat papua yang sebelumnya mempunyai tanah serta wilayah yang luas tidak lagi di tempati karena takut akan militer yang sudah mengistimakan rakyat papua sebagai objek, akibatnya rakyat papua meninggalkan tempat mereka dan bertahan hidup di kota dan dan jadi kaum miskin yang ada di kota, sedangkan tanah yang ia miliki di jual kepada militer yang telah mengistimakan rakyat tersebut.
Kehadiran pemekaran, menyingkirkan rakyat ?
Mulai masa reformasi, rezim juga di ganti sesuai pemimpinnya juga kepemimpinan. Pada tahun 2001 otsus di terbitkan bagi orang papua untuk memadamkan gerakan perjuangan papua merdeka, saat itu, isu pergerakan papua merdeka lagi panas di seluruh tanah air west papua, pada saat itu juga banyak terjadi teragedi tragedi berdara demi memadamkan gerakan tersebut, dan otsus juga salah satu rayuan dari pergerakan perjuangan tersebut yang di berikan dan di sahkan pada saat itu.
kehadiran pemekaran atau daerah otonomi baru DOB di papua paling ramai di lihat saat ini, banyak perlombahan mempejuangkan pemekaran baik itu provinsi, kabupaten/kota, desa, kampung.
Kasahan kami para elit elit papua di mana? Dan kesalahan kami rakyat tertindas di mana?, melihat dari kedua topik tersebut adalah para elit elit yang memperjuangkan, demi sebuah kursi kosong nantinya bahkan mementingkan diri pribadinya.
Seperti yang di ulas di atas tentang peningkiran rakyat papua dalam segala lini bahwa kehadiran pemekaran menyingkirkan rakyat papua entah dengan secara sadis di bidang apapun itu, ekonomi, sosial, politik, budaya.
Pemekaran membuka ruang untuk semua mingran untuk membuka tempat, dapat memenuhi tempat tempat yang masih kosong.
Dan memberi ruang, meberi tempat, untuk para minggran dapat menguasai tempat tempat tersebut.
Jadi tidak perlu mencari alansan jauh jauh pemekaran di lakukan, masyarakat papua di singkirkan dari tempat mereka, itulah kejahatan kolonialisme untuk meusnahkan orang papua dengan slow sistem, juga Kehadiran pemekaran ini menghancukan, membahayakan, menyigkirkan rakyat papua dari tempat semula, dan menghadirkan imigran dan mengisi semua orang, tempat, aspek, segi yang ada di papua. Itulah agenada kolonialisme.
Penyingkiran Amugme dan kamoro ?
Wilayah papua mempunyai tempat yang luas adanya, tempat tempat tersebut di huni klen/suku yang berada di wilayah tersebut, di timika juga demikan dan juga guna mengetahui penyingkiran amungme dan kamoro di kota timika papua tuan rumah bumi amungsa lebih yang lebih artinya melebih batas.
Kita melihat dan tahu bahwa Penyingkiran tersebut di buat oleh kolonialisme bodok indonesia yang terus merayu rayu dan membudak orang papua, menciptakan ketergantungg terhadap hal hal yang tidak harus rakyat lakukan.
Para imigran yang tadinya masuk dan memenuhi papua di kota timika, Berhasil membuat rayat papua ketergantungan, membuat rakyat papua tak mumpu untuk bangkit, kenapa demikian itu harus terjadi?
Amungme dan kamoro di manjakan dengan lipat lipatan uang di jamin semua segi kehidupan bahkan semuanya di tanggung oleh freeport dan membuat orang amungsa tak mampu berfikir jauh ke depan, bagaimana akan terjadi generasi ke depannya.
Melihat soal di jamin manja oleh freeport, sedangkan banyak peneliti mengatakan timika adalah pusat kemiskinan?
Apa yang terjadi dengan amungsa, kenapa amungsa tidak dapat maju maju, orang kamoro di mana ? Orang amungme di mana?,
Kolonialis, kapitalis menciptakan ketergantugan kepada kit untuk tidak dapat maju, kita hanya tunggu dana freeport kapan di kasih dan kita tidak tau bagaimana menciptakan sesuatu yang baru, menciptakan apa saja kita masih ketergantugan dati dari jawa, sumatra, kalimantan dll, untuk berusaha menciptan sesuatu hall.
Tetapi kolonialisme mengubah polah pikir kita untuk bagaimana kita bisa mendapatkan uang dari freepot dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi, di kasih rumah di suruh jual ke pendatang dengan harga murah
Akibatnya kami orang amungsa lari semua di kota karena di kampung kapung sudah tidak ada lagi tempat untuk hidup, karena semua sudah di jual habis ke pendatang.
Akibatnya saat ini, banyak sekali kaum miskin kota yang berkelebihan di kota timika dan itu adalah anak amungsa asli, ketergantungan ini di lakukan oleh kolonialisme indonesia menyuruh agar untuk dapat rakyat papua di suruh untuk tidak boleh maju.
Kolonialisme indonesia menciptakan ini, di bumi amungsa, membuat ketergantugan akan freepot dan pemeritah supaya orang papua tidak boleh bangkit
Kolonialisme dan kapitalisme di papua
Keduanya saling berhubugan dalam sisi lain saling melengkapi antara kekurangan dan kelebihan dalam menjalankan agenda tersebut.
Untuk lebih fokusnya, kehadiaran kolonial dan kapitalis dan menyingkirkan rakyat papua dalam setiap segi kehidupan dan melahirkan kelas kaum miskin kota di masyarakat kaum rendah di papua.
Dalam hal ini kolonialisme tak tinggal diam, tiap hari dalam kesibukan, kerjaan/pekerjaan/pegelolahan dll artinya setiap aspek kehidupan manusia papua, kolonialisme sudah ada lebih dulu entah itu di mana saja di bidang ekonomi, sosial, politik, hingga kehidupan sehari hari,
Dan kehidupan kita di kontrol oleh mereka.
Juga kapitalis, kapitalis berada di mana saja, di aspek/ segi mana saja, bahkan ia yang menjadi aktor penindas yang mengiginkan nilai lebih pada tiap saat.
Dalam hal penyikiran, kolonialsime berperan penting untuk menjalankan sistem yang lagi di jalankan dan yang di bekap adalah kapitalis agar mendapatka nilai lebih.
Sistem ketergantugan masyrakat papua di amungsa timika telah tumbuh subur, kolonialisme berperan aktiif agar rakyat papua yamg berada di timika tak mampu berfikir kedepan, tak mampu berfikir bagaimana akan nantinya nasib anak cucu, dan kolonialisme telah sukses dalam melaksanakan tugasnya untuk memberikan rakyat papua akan ketergantugan kepada akan orang pendatang, dan perusahan, bahkan freeport,
Dari kesuksesannya kolonial, dalam penyikiran rakyat papua maka kapitalisme dengan sistemnya, dan degan gampang menjalankan sistemnya tersebut yang unjung unjung mengginkan lebih dan yang kaum lemah tetap lemah dan kuat tetap kuat.
Akibatnya dari sestem ketegantugan kolonialisme yangbekerja untuk bagamana menguntunkan dirinya dan yang di inginkan kapitalis/watak kapitalis, keutungan akan dirinya sendiri maka Akibatnya kami di singkirkan, menjual sembarang semua tanah, rumah, karena yang ada di atur dalamnya sestem slow kolonial, dan itu tumbuh subur di west papua.
Akibatnya kami di pinggirkan di atas tanah yang mempuayai emas minyak dan kami seperti tidak ada tempat tinggal yang ada hanyalah di tempat perjuadian, mabukan, jalan bikin onar dll. Akhirnya kerja kolonial dan kapitalis telah sukses memberi ketegantugan, menyikirkan, di atas tanahnya sendiri.
Siapa Aktor penyingkiran rakyat papua.
Rakyat papua telah di warnai, di ajarkan, di beritahukan, di benarkan dengan sejarah silam yang lagi di rebut oleh rakyat papua itu sendiri
Dan di beritahukan secara terang terangan lewat sejarah maupun realitas penindas di west papua hari ini. Penindasan dapat terjadi adanya sebab akibat, adanya aksi maka adanya reaksi (penindasan).
Belajar dari pengalaman masa lalu dengan jelas kita dapat melihat bahwa aktor ketergantunggan hingga penyingkiran rakyat papua (kaum miskin kota di papua) bahkan rakyat papua secara menyeluruh yang di sponsori oleh elite elite lokal dan yang terus melanggengkan sestem slow kolonialisme yang terus di terapkan atas tanah papua dan menjembatani kapitalis global untuk dapat mengarap semua dan menyingkirkan rakyat yang sudah di godai , di stikmai separatis untuk dapat meninggalkan tempatnya tersebut. dan dengan cara slow sistem untuk dapat menjual, meninggalkan semua tempat tempatnya dan berpindah kampung ke kota, maupun daerah lain untuk mendapatkan hidup yang layak dan sejati, itulah polah pikir yang lagi di mainkan dikerjakan, di jalankan kolonialisme indonesia menyingkirkan rakyat papua dan mebawa dan memusnahkan rakyat papua deng neo riberalisme (penjajahan gaya baru) yang sekarang lagi di jalankan di bumi papua.
"Baku kas tau"
PUISI
SASTRA DAN BUDAYA
West Papua
Oleh : Yesaya gobay
Adakah keadilan?
Oleh : Yesaya gobay
Kehidupan ini yang terus ku alami
Papua penuh dengan isue, tidak mendidik.
Mengiring isi setiap bumi, menguling setiap petinggi.
Lihat sajalah apa yang beredar di layar kaca,
Gumuran darah meredar menimbulkan duka lara.
Saksikanlah tanpa kedip
Betapa sadisnya hidup
Di tengah tegah asap yang gelap
Di tengah tengah api yang bernyala nyala,
Bahkan, Di kampus kampus yang ada
Ku berlari lari..
Meminta keadilan di tegakan di muka bumi
Meminta demokrasi hadir hari ini
Tanpa kompromi logis
Senjata berkuasa jaya
Hoax beredar tak mendidik
Para Aktivist di culik, petinggi di ancam.
Ku bertanya..
seketika peluru menembus kulit
Alat negara di gunakan seakan binatang,
Keamanan pun berkelebiahan.
Dan aku pun di salahkan
Apakah tuhan adil kah ?
Semoga dunia ini melek
Memandang hidup ini
Yang diporak-porandakan
Kemanusiaan yang terluka
Dan lagi berduka
Bilur nanah yang meleleh
Di tenggah tenggah tetesan air mata
Cacian yang tak beradab
Pelaku rasis yang belum di usut tuntas
Bunyi peluru sini sana
Peluru yang menembus kulit
Nyawa ku,"papua" hanya seharga permen
Papua darurat kemanusiaan.
#jalanmenagis
PUISI
SASTRA DAN BUDAYA
West Papua
Oleh: Ardhy Murib*
Bilah kini darah menggalir menutupi bumi cendrawasih,
alam samudra kini menjadi saksi dibalik air mata. Demi kian lamah,
Kapan air mata ini akan berakhir.
Bilah hidup sensara di bumi Cendrawasih kini hati selaluh bertanya walau tak cukup di jelaskan dengan air mata.
Bilah kini menaru hati dibalik luka dengan nana yang tak bisa kering,
mencoba untuk sembu namun tak bisa berhasil.
Kini kembali menaru jiwa.
menenang luka bilah orang tua berburu tak balik balik hati selalu bertanya apaka orang tua ku akan membawa hasil berburu
Sengsara di bumi cendrawasih
Oleh: Ardhy Murib*
Bilah kini darah menggalir menutupi bumi cendrawasih,
alam samudra kini menjadi saksi dibalik air mata. Demi kian lamah,
Kapan air mata ini akan berakhir.
Bilah hidup sensara di bumi Cendrawasih kini hati selaluh bertanya walau tak cukup di jelaskan dengan air mata.
Bilah kini menaru hati dibalik luka dengan nana yang tak bisa kering,
mencoba untuk sembu namun tak bisa berhasil.
Kini kembali menaru jiwa.
menenang luka bilah orang tua berburu tak balik balik hati selalu bertanya apaka orang tua ku akan membawa hasil berburu
ARTIKEL
CERPEN
FREEPORT
MASYARAKAT ADAT
OPINI
West Papua
Oleh, Benny magal.
"Selokan curhatan anak 64"
kehidupan iyalah kisah kematian. Aku berusaha menulis setiap cerita dalam perjalanan hidupku bukan lain melainkan untuk aku tetap hidup, hidup dalam cerita. Ketika, Aku pergi meninggalkan bumi aku tetap ada dalam coretan kertas dan tersangkut dalam benak makhuluk indah dibumi.
Lewat cerita dari Mama Ema dan mama Yosepah
Saya adalah anak dari seorang ibu janda, ibu yang berjuang dengan keterbatasan dan spirit seorang feminis. Berbagai keterbatasan tidak membuat semangatnya pudar. Saya lahir di Timika, tanggal 12 Februari 1994 tempatnya Kwamki baru lorong Amole. Kwamki baru menjadi tempat satu satunya saya tumbuh dan besar bersama dinamika perubahan sosial serta fenomena globalisasi yang tidak dapat dibendung. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Inpres Kwamki Baru kemudian pada sekolah menengah St.Maria (unggulan) dan diasramakan di komplek mama Yosepah Alomang (YAHAMAK). Lalu melanjutkan pada SMA Sint louis Semarang Jawa Tengah melalui program LPMAK yang didanai oleh PT.Freeport Indonesia. Saya menamatkan dan melenjutkan perguruan tinggi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) hingga sekarang. Saya tidak bisa pungkiri rasa bersyukur saya terhadap perusahan ini karena sebagian dari kami anak – anak Amungme diperhatikan, khususnya pada pendidikan.
Mama dan Bapa saya berasal dari daerah yang saat ini sedang melakukan pengoperasian Perusahan Freeport McMerron. Perusahan yang dipeributkan oleh berbagai kalangan. Ketika besar, ternyata Perusahan ini menjadi biang kerok masalah integrasi Papua hingga saat ini, saya mengerti hal ini ketika masuk pada perguruan tinggi ditambah bacaan yang memadai. Kampung Tsinga menjadi satu – satu tempat klan dan marga kami berasal. Muda saja, jika mau melihat klasifikasi keturununan kami. Tempat kami hanya beberapa klan saja, seperti marga Magal, Beanal, Natkime, Alomang, kum/jawame, kelabetme, ogolmagai, eggarmang, dan beberapa Marga lain yang telah kawin masuk ditempat kami. Mama saya Ema Natkime dan bapa saya Markus Magal merupakan penghuni lembah Ongopsegel dan Yelsegel. Wilayah kami hampir semua telah dirusak oleh perusahan ini, dari Ongopsegel (Erstberg), Yelsegel (gresberg), Utekini (Camp 74), Mulkini (Tembagapura).
Tempat lahir mama di sungai yang mengalir dari tembagapura, dalam bahasa sungai itu disebut utekinogoung tepemoakjoagasie (otalipogg oma). Sedangkan bapa saya lahir di sekitar sungai ajikwa yang sedang turun aliran sungai limba dalam bahasa amungme disebut Wanalkie. Waa merupakan sebuah kampung di daerah banti pemukiman Freeport, sungai yang mengalir dari kepala air hingga sampai dikota. Waa artinya nama tempat sekarang banti dan Nal merupakan anak. Seingga Waanal merupakan anak sungai. Sungai yang turun dari gunung Nemangkawi itu turun membasahi setiap makhuluk hidup yang berada disekitar lembah
Nemangkawi. Setiap bantaran dan pinggiran sungai menjadi tempat tinggal kelompok/ klan marga tertentu, karena disitu memang menjadi sangat muda mencari air bersih dan mencari makanan. Hampir sertiap marga dan klan hidup selalu berpindah – pindah (nomaden) tidak menetap. Dalam setiap kisah yang diceritakan oleh Mama saya terlihat bahwa hidup mereka tidak menetap. Sebelum mengenal misionaris belanda (Zanding) hingga pemerintah dan gereja. Dalam bahasa Amungme Agama itu HAI, HAI menjadi sebuah kekuatan orang Amungme dan pengaruhnya sangat besar dalam pembentukan karakteristik, kepribadiaan dan sebuah proses perjuangan untuk tetap hidup.
Cerita Dari Mama, perjalanan panjang hingga sampai di Timika (Kwamki Baru)
Cerita ini bermula dari sebuah lembah dekat gunung Nemengkawi katanya penduduk setempat disebut Ongopsegel dan Yepsegel. Tempat yang sangat disakralkan oleh Orang Amungme saat itu.
Waktu itu, sekitar tahun 1950 Kakek dan nenek dari mama saya ke Notolanop. Mereka berdua pekerjaan sehari hari hanya mencari kodok air di sungai. kakek dan nenek saya jatuh dan terluka parah selama 4 hari tidak tertolong kemudian kakek saya meninggal dunia. Sementara itu, mama saya tinggal dgn adik bapa saya (newelameki) 3 tahun lebih kemudian mama saya pergi meninggalkan desa itu karena ikuti keluarga dari adik bapa saya menuju kampung Waa (Banti). Sampai di banti mama saya (nenek) kawin bapa kedua marga Omaleng kemudian adik dari mama (nenek) datang dan memarahinya akibat maskawin yang tidak memenuhi sehingga adik dari nenek mama datang menggambil mama dan adik kecil dengan paksa kemudian membawa kembali ke Aroanop.
Waktu kecil saya lihat pesawat terbang di awan biru biru naik turun kemudian saya tanya om om saya distiu. Om saya bilang tidak itu mereka mau survei Pejukate (Grasberg) “ nemengkawi ninggok aggelan wonpewiye” Artinya mau ambil kepala Nemangkawi jadi dong lihat to? Kemudian saya mendesak mama (nenek) untuk turun ke banti, kemudian mama berencana untuk pergi ke banti shingga nenek sembunyi- sembunyi untuk lari, dengan berbekal petatas (erom) dengan garam batu (kemabunok). Perjalanan kami hingga sampai di Aruanumon dan menanyai tanta – tanta namun tanta – tanta itu menggatakan cepat ko bawa anak (mama) ke Anggogin, tanta saya disitu marah – marah sehingga kami lari ke Wonggngomong (tempat daerah bandaran kali) ikuti kebun naik ke gunung cari rumah. Ternyata bapa dari adik (om) hampir ketahuan untungnya mama dan nenek yang melihat duluan sehingga kami sehingga kami terlepas dari om itu. Kami lari hingga sampai diopitawak dan sampai di rumah (itorinomon). Mama saya melihat karun goni yang digantung di rumah lalu mama saya bertanya ini, Ini barang apa ni? Ini karung karung goni isi kacang, perusahan datang jadi kami masak masak ni, kata beberapa tetua disitu. Lalu kami bertemu bapa adik di kampung banti di bawa (ikannoktama). Di banti, kami satu malam 2 minggu ternyata mama (nenek ) jatuh sakit sampai mama (nenek) meninggal. Mama dikubur disitu, adik mama menangis keausan susu mama saya hanya bisa kasih bibir dan air tebu berupa susu. Saya ke kebun untuk cari makanan namun saya bertemu Tuarek natkime dan Eromogoli mereka dua bawa lari adik kecil kemudian saya menggikuti mereka dari bawa ikanogtam, batiogom hingga sampai utekini. Kami kaget melihat rumah rumah terpal panjang – panjang yang pasang disitu dan melihat banyak orang bule yang memberikan makanan- makanan (kacang hijau, ikanbeleg, boebelek, garam,petsin dll) mereka hambur hambur makanan itu supaya orang tua dan msyarakat disitu pikiran mati.
Dorang tahu apa? Yang dong tahu itu nemankawi tapi isinya dong tidak tahu, jadi pemerintah, gereja, Masyarakat tidak tahu dengan keberadaan kandungan emas ini.
Memutuskan untuk Berpindah dari Tsinga menuju Agimuga, sekitar tahun 1950 an ..
“Bukan mama saja, banyak orang Amungme yang mendiami wilayah nemenkawi melakukan imigrasi di sekitar daerah Belakmakama hingga Agimuga. Kami keluar karena banyak diantara kami melihat bahwa Gereja mengajarkan kami banyak hal, tentang hal – hal baik. ”
Satu tahun kemudian bapa tua (mama) mengatakan kamu harus ikut bapa tua ke Tsinga untuk sekolah di sana. Sampai di Tsinga mama menghabis 3 tahun di sana. Banyak orang yang pergi ke kampung belakmakama karena disitu pelayanan dari pemerintah dan gereja terjangkau sehingga mama memutuskan untuk menggikuti kata hati hingga sampai di sana namun tidak sampai bulan mama memutuskan untuk pergi menuju kampung Agimuga. Ke Agimuga mama bersama keluarga dan beberapa orang orang yang memutuskan untuk diaspora. Mereka berjalan kaki melewati banyak sungai dari Tsinogong, Hopougoung, Hoenogoung hingga sampai di Agimuga.
Kontak langsung kami dengan pendatang (jawa) dari luar Papua ketika tahun 1960 an. Mereka masuk pakai kapal lewat kiliarma hingga sampai ke Agimuga. Orang kei, Ambon, Toraja, jawa, semua suku mulai hadir di tempat kami. Hampir sebagian masa kecil hingga dewasa mama habiskan diA gimuga. Mama sekolah hingga kelas 3 SD tidak melanjutkan. Mama nikah tahun 1972 dengan bapa markus magal di Agimuga setelah itu perusahan sudah beroperasi. Di Agimuga mama melahirkan 6 anak, Kris, Yhoanes, Yakoba, Servina,Berdetaha dan Natalia, mereka adalah anak anak yang lahir di tahun 80 an. Ketika peristiwa pemboman di wilayah Yubalia, Noema, Jila yang diduga tempat persembunyian TPN – OPM. Mama dan keluarga saat itu berada di Aramsolki. Ketika peristiwa itu terjadi banyak pengiriman tentara ABRI ke daerah pedalaman seperti tempat kami. banyak daerah juga yang dikasih Zone Merah.
Akibat peristiwa itu keberadaan kami masyarakat sipil menjadi ancamana karena waktu itu susah ABRI mau bedakan mana TPN – OPM dan Militan Combatan atau masyarakat sipil biasa. Akhirnya kami Transmigrasi lagi menuju Kwamki Baru dan menetap di sana. Satu tahun mama tinggal bersama bapa Thobias Magal hingga tahun berikut mama pindah karena sudah mendapat rumah di lorong Amole. Ketika masuk tahn 1984 bapak paulus Magal meninggal dunia sehingga kami berduka selama 4 hari.
Awal dari Perjuangan Mama- Mama.
Pada tahun 1980, situasi di kota Timika masih sepih dan rawan, hanya ada PT.Freeport Indonesia dan aparat (ABRI/ TNI) yang sedang berkuasa. Aparat digunakan untuk melindungi objek Vital di Wilayah pengoperasian PT.Freeport Indonesia. Daerah Timika menjadi tempat operasi Militer (DOM) dengan pasukan yang khusus Angkatan bersenjata (ABRI). PT.Freeport Indonesia datang dengan keuntungan (Profit) sehingga masyarakat Amungme dan Kamoro (AMOR) disitu tidak di anggap sebagai pribumi dan pemilik hak wilayat (Indegneouse People). Masyarakat pribumi dijadikan seperti binatang/dicap sebagai Tentara Pembebasaan Nasional (TPN), Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Pada tahun 1977 Militer Masuk di Kwamki Baru dan mendarat di Airport Timika dengan Pesawat Herkules besar. Saya tanya kepada bapa adik saya, “Bapa ini tentara dari mana yang masuk ini”? Bapa saya, Paulus Magal mengatakan bahwa “ Anak jaga lihat besok lusa tentara itu yang nanti makan kita“ kemudian saya bertanya lagi, kenapa mereka mau makan kita jadi? Bapa bilang, “mau mengamankan Timika jadi mereka datang” (Yosepah Alomang)
Percakapan diatas merupakan dialog seorang mama, Yosepah Alomang bersama Bapa adiknya Paulus Magal. Hal ini mendandai bahwa kehidupan pribumi masyarakat Amungme mulai terancam. Pengirimian terus dilakuakan untuk menjaga agar masyarakat atau Gerakan Pemberontak yang dicap oleh Aparat sebagai OPM tidak menggangu pengoperasian. Banyak sekali penembakan yang sering terjadi di daerah Pengoperasian Freeport yang menurut pendapat masyarakat Amungme itu sebuah rakayasa manipulatif. Keamanan diarea Freeport terus diperketat. Dari Mile 32 hingga tambang terbuka (overbound) sepanjang lika – liku jalan beberapa meter pasti ada post militer.
Kehadiran Militer dengan ditumpangi kepentingan ekonomi Negara ini. Mengundang kelu- kesah yang menyakitkan sebagian masyarakat asli Amungme dan Kamoro. Sejak itu, kehidupan Masyarakat Amungme dan Kamoro mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan itu terlihat pada formasi struktur kehidupan masyarakat Amungme & Kamoro yang dulunya adalah Pekerja keras untuk mendapatkan makanan namun hal itu telah hilang secara perlahan lahan, masyarakat sekarang hidupnya sangat Konsumtif. Freeport menciptakan situasi yang krusial, masuknya wanita – wanita PSK (KM 10) dari luar untuk memuaskan napsu para pekerja sudah menjadi gambaran umum. Banyak anak- anak muda yang suka Mabuk – mabuk, keluarga menjadi berantakan. Semua ini merupakan hasil dari hadirnya Perusahan Freeport ini.
Kelompok Doa Mama Melahirkan YAHAMAK
Karena itulah muncul seorang figur yaitu Yosepah Alomang dengan membentuk kelompok Mama – Mama Amungme dan Mulai membentuk kelompok Doa. Dari sini Mama saya bersama Mama lain bergabung dengan Kakak Yosepah mulai bersama sama memulai pergerakan ini lewat doa mama. Melihat situasi saat itu tidak dapat dibendung kekuatan ABRI yang begitu kecam. Karena situasi yang mencekam, kekerasaan yang sewenang – wenang oleh Aparat (ABRI). Pada tahun 1983 – 1985 kekerasaan secara fisik berupa Pemaksaan dan Penyiksaan terhadap Andreas Yeanem, Yakobus Alomang, Linus Kwalik dan Matias Kelanangame, tepatnya di pasar minggu (Jln Trikora). Membuat kelompok doa ini hadir karena memang satu – satunya kekuatan mama – mama hanyalah mengucap doa dan memohon Tuhan agar melindungi setiap keluarga yang disiksa dan dianiyaya. Kelompok ini berjalan dengan semangat doa dan menjadwalkan doa pada setiap lingkungan di Kwamki Baru. Sementara itu, pada tahun 1986 – 1989 Pater Nato Gobai yang sedang bertugas sebagai Diakon di Mapurujaya. Didatangani oleh kelompok mama – mama antara lain; Yosepah Alomang, Theresia I. Magal, Ema Natkime dan Elisabeth Beanal dan 13 Anggota lainnya. Kedatangan mereka membuat Pater Nato Gobai senang dan beliau mengusulkan untuk membentuk sebuah Koperasi melihat latar belakang mama – mama saat itu berprofesi sebagai petani. Akhirnya, kesepakatan pembentukan koperasi itu membuahi hasil yang baik, koperasi itu diberi nama Kulalok. Kemudian untuk modal awal setiap kelompok mama- mama
Apa yang diperjuangkan oleh kelompok Doa mama ini dibantu juga oleh pihak keuskupan Jayapura atas Berkat pemberitahuan pater Nato Gobay kepada pihak uskup Moninghof di Jayapura, akhirnya Uskup membantu modal sebesar 1.000.000,. berputar dengan modal itu, uskup menekankan untuk membantu suku kamoro. Agar mereka juga dapat membuat sebuah kelompok. Setahun berikutnya kelompok doa mama berhasil mendirikan Kios dengan struktur pengurus; Nikolaus Magal sebagai pengurus, Anton Onijoma sebgai sekretaris dan Theresia I. Magal sebagai Bendahara.memberikan sekitar Rp 84.000,.
Selain itu, Sekitar tahun 1986 bapak uskup Maninghof tiba di Timika, dari sinilah kelompok doa ini datang dengan aspirasi mereka melalui sebuah Noken yang berisi uang derma sebesar RP 500.000 dan satu butir telur bersama sebuah pesan kepada bapa suci yang berada di Vatikan, bpak Paus. Surat itu berbunyai “bapa tolong doakan orang Papua dan para pejuang yang berada di luar maupun dalam Papua serta para pejuang yang sudah mendahului kita”. Bapak uskup berjanji akan membawakan ini langsung ketangan bapa suci. Sekitar tahun 1987 uskup menerima surat dari bapa suci bahwa surat yang diisi di Noken telah diterima oleh Beliau. Hasil dari itu, 5 orang dari kelompok doa mama ini dipanggil oleh Uskup untuk membicarakan lebih lanjut. Kelima mama ini berhasil menerima sebuah penghargaan berupa sebuah YAYASAN LORENS, khusunya mama – mama Amungme dan Orang Papua pada Umumnya.
Hasil itulah, Mama Yosepah Alomang berusaha untuk melobi Gereja dan sahabat Aktivis lain di Jayapura. Akhirnya, apa yang dicari dijawab oleh Mama Yosepah Alomang dijawab oleh Gereja. Uskup Leo Laba Ladjar dan pendeta Herman Saud ketua Sinode GKI Tanah Papua bersama pendeta Ronsumber dan Robert Mandosir berhasil menghadirkan Yayasan Hak Asasi Manusia Ini hadir di Timika. Peresmian YAHAMAK pada tanggal 23 januari 2001 oleh pastor Nato Gobay waktu itu mewakili Uskup Jayapura setelah peresmian baru Uskup tiba di Timika. Sebagai badan pengurus YAHAMAK periode pertama, struktur organisasi seperti begini, Konsultan dipegang oleh Willy Mandowen, Direktur dijabat sebagai Yosepah Alomang lalu Wakil Arnol Rumaropen (merangkap sekretaris) dan Mama Theresia sebagai Bendahara.
Begitulah sedikit cerita dari kehidupan saya, kehidupan yang diwarnai situasi yang keras. Saya terbentuk dari setiap memori itu. Mama saya menjadi dasar motivasi saya terus berjuang dan bertahan. Saya melihat Indonesia dengan memori dan kenangan saya. Bagaiamana saya menjadi Indonesia? Tak ada yang lebih penting dari itu, karena sebenarnya Indonesia itu telah menunjukan wajahnya dalam kehidupan saya. Situasi dan keadaan waktu itu tidak berbeda jauh hingga saat ini. Nasionalismeku tidaklah berubah jika berubah mungkin saya telah pergi meninggalkan bumi ini yang penuh dengan manuisa yang tamak dan rakus.
Mama Ema dan mama Yosepah: Freeport Menghancuri kami
Oleh, Benny magal.
"Selokan curhatan anak 64"
kehidupan iyalah kisah kematian. Aku berusaha menulis setiap cerita dalam perjalanan hidupku bukan lain melainkan untuk aku tetap hidup, hidup dalam cerita. Ketika, Aku pergi meninggalkan bumi aku tetap ada dalam coretan kertas dan tersangkut dalam benak makhuluk indah dibumi.
Lewat cerita dari Mama Ema dan mama Yosepah
Saya adalah anak dari seorang ibu janda, ibu yang berjuang dengan keterbatasan dan spirit seorang feminis. Berbagai keterbatasan tidak membuat semangatnya pudar. Saya lahir di Timika, tanggal 12 Februari 1994 tempatnya Kwamki baru lorong Amole. Kwamki baru menjadi tempat satu satunya saya tumbuh dan besar bersama dinamika perubahan sosial serta fenomena globalisasi yang tidak dapat dibendung. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Inpres Kwamki Baru kemudian pada sekolah menengah St.Maria (unggulan) dan diasramakan di komplek mama Yosepah Alomang (YAHAMAK). Lalu melanjutkan pada SMA Sint louis Semarang Jawa Tengah melalui program LPMAK yang didanai oleh PT.Freeport Indonesia. Saya menamatkan dan melenjutkan perguruan tinggi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) hingga sekarang. Saya tidak bisa pungkiri rasa bersyukur saya terhadap perusahan ini karena sebagian dari kami anak – anak Amungme diperhatikan, khususnya pada pendidikan.
Mama dan Bapa saya berasal dari daerah yang saat ini sedang melakukan pengoperasian Perusahan Freeport McMerron. Perusahan yang dipeributkan oleh berbagai kalangan. Ketika besar, ternyata Perusahan ini menjadi biang kerok masalah integrasi Papua hingga saat ini, saya mengerti hal ini ketika masuk pada perguruan tinggi ditambah bacaan yang memadai. Kampung Tsinga menjadi satu – satu tempat klan dan marga kami berasal. Muda saja, jika mau melihat klasifikasi keturununan kami. Tempat kami hanya beberapa klan saja, seperti marga Magal, Beanal, Natkime, Alomang, kum/jawame, kelabetme, ogolmagai, eggarmang, dan beberapa Marga lain yang telah kawin masuk ditempat kami. Mama saya Ema Natkime dan bapa saya Markus Magal merupakan penghuni lembah Ongopsegel dan Yelsegel. Wilayah kami hampir semua telah dirusak oleh perusahan ini, dari Ongopsegel (Erstberg), Yelsegel (gresberg), Utekini (Camp 74), Mulkini (Tembagapura).
Tempat lahir mama di sungai yang mengalir dari tembagapura, dalam bahasa sungai itu disebut utekinogoung tepemoakjoagasie (otalipogg oma). Sedangkan bapa saya lahir di sekitar sungai ajikwa yang sedang turun aliran sungai limba dalam bahasa amungme disebut Wanalkie. Waa merupakan sebuah kampung di daerah banti pemukiman Freeport, sungai yang mengalir dari kepala air hingga sampai dikota. Waa artinya nama tempat sekarang banti dan Nal merupakan anak. Seingga Waanal merupakan anak sungai. Sungai yang turun dari gunung Nemangkawi itu turun membasahi setiap makhuluk hidup yang berada disekitar lembah
Nemangkawi. Setiap bantaran dan pinggiran sungai menjadi tempat tinggal kelompok/ klan marga tertentu, karena disitu memang menjadi sangat muda mencari air bersih dan mencari makanan. Hampir sertiap marga dan klan hidup selalu berpindah – pindah (nomaden) tidak menetap. Dalam setiap kisah yang diceritakan oleh Mama saya terlihat bahwa hidup mereka tidak menetap. Sebelum mengenal misionaris belanda (Zanding) hingga pemerintah dan gereja. Dalam bahasa Amungme Agama itu HAI, HAI menjadi sebuah kekuatan orang Amungme dan pengaruhnya sangat besar dalam pembentukan karakteristik, kepribadiaan dan sebuah proses perjuangan untuk tetap hidup.
Cerita Dari Mama, perjalanan panjang hingga sampai di Timika (Kwamki Baru)
Cerita ini bermula dari sebuah lembah dekat gunung Nemengkawi katanya penduduk setempat disebut Ongopsegel dan Yepsegel. Tempat yang sangat disakralkan oleh Orang Amungme saat itu.
Waktu itu, sekitar tahun 1950 Kakek dan nenek dari mama saya ke Notolanop. Mereka berdua pekerjaan sehari hari hanya mencari kodok air di sungai. kakek dan nenek saya jatuh dan terluka parah selama 4 hari tidak tertolong kemudian kakek saya meninggal dunia. Sementara itu, mama saya tinggal dgn adik bapa saya (newelameki) 3 tahun lebih kemudian mama saya pergi meninggalkan desa itu karena ikuti keluarga dari adik bapa saya menuju kampung Waa (Banti). Sampai di banti mama saya (nenek) kawin bapa kedua marga Omaleng kemudian adik dari mama (nenek) datang dan memarahinya akibat maskawin yang tidak memenuhi sehingga adik dari nenek mama datang menggambil mama dan adik kecil dengan paksa kemudian membawa kembali ke Aroanop.
Waktu kecil saya lihat pesawat terbang di awan biru biru naik turun kemudian saya tanya om om saya distiu. Om saya bilang tidak itu mereka mau survei Pejukate (Grasberg) “ nemengkawi ninggok aggelan wonpewiye” Artinya mau ambil kepala Nemangkawi jadi dong lihat to? Kemudian saya mendesak mama (nenek) untuk turun ke banti, kemudian mama berencana untuk pergi ke banti shingga nenek sembunyi- sembunyi untuk lari, dengan berbekal petatas (erom) dengan garam batu (kemabunok). Perjalanan kami hingga sampai di Aruanumon dan menanyai tanta – tanta namun tanta – tanta itu menggatakan cepat ko bawa anak (mama) ke Anggogin, tanta saya disitu marah – marah sehingga kami lari ke Wonggngomong (tempat daerah bandaran kali) ikuti kebun naik ke gunung cari rumah. Ternyata bapa dari adik (om) hampir ketahuan untungnya mama dan nenek yang melihat duluan sehingga kami sehingga kami terlepas dari om itu. Kami lari hingga sampai diopitawak dan sampai di rumah (itorinomon). Mama saya melihat karun goni yang digantung di rumah lalu mama saya bertanya ini, Ini barang apa ni? Ini karung karung goni isi kacang, perusahan datang jadi kami masak masak ni, kata beberapa tetua disitu. Lalu kami bertemu bapa adik di kampung banti di bawa (ikannoktama). Di banti, kami satu malam 2 minggu ternyata mama (nenek ) jatuh sakit sampai mama (nenek) meninggal. Mama dikubur disitu, adik mama menangis keausan susu mama saya hanya bisa kasih bibir dan air tebu berupa susu. Saya ke kebun untuk cari makanan namun saya bertemu Tuarek natkime dan Eromogoli mereka dua bawa lari adik kecil kemudian saya menggikuti mereka dari bawa ikanogtam, batiogom hingga sampai utekini. Kami kaget melihat rumah rumah terpal panjang – panjang yang pasang disitu dan melihat banyak orang bule yang memberikan makanan- makanan (kacang hijau, ikanbeleg, boebelek, garam,petsin dll) mereka hambur hambur makanan itu supaya orang tua dan msyarakat disitu pikiran mati.
Dorang tahu apa? Yang dong tahu itu nemankawi tapi isinya dong tidak tahu, jadi pemerintah, gereja, Masyarakat tidak tahu dengan keberadaan kandungan emas ini.
Memutuskan untuk Berpindah dari Tsinga menuju Agimuga, sekitar tahun 1950 an ..
“Bukan mama saja, banyak orang Amungme yang mendiami wilayah nemenkawi melakukan imigrasi di sekitar daerah Belakmakama hingga Agimuga. Kami keluar karena banyak diantara kami melihat bahwa Gereja mengajarkan kami banyak hal, tentang hal – hal baik. ”
Satu tahun kemudian bapa tua (mama) mengatakan kamu harus ikut bapa tua ke Tsinga untuk sekolah di sana. Sampai di Tsinga mama menghabis 3 tahun di sana. Banyak orang yang pergi ke kampung belakmakama karena disitu pelayanan dari pemerintah dan gereja terjangkau sehingga mama memutuskan untuk menggikuti kata hati hingga sampai di sana namun tidak sampai bulan mama memutuskan untuk pergi menuju kampung Agimuga. Ke Agimuga mama bersama keluarga dan beberapa orang orang yang memutuskan untuk diaspora. Mereka berjalan kaki melewati banyak sungai dari Tsinogong, Hopougoung, Hoenogoung hingga sampai di Agimuga.
Kontak langsung kami dengan pendatang (jawa) dari luar Papua ketika tahun 1960 an. Mereka masuk pakai kapal lewat kiliarma hingga sampai ke Agimuga. Orang kei, Ambon, Toraja, jawa, semua suku mulai hadir di tempat kami. Hampir sebagian masa kecil hingga dewasa mama habiskan diA gimuga. Mama sekolah hingga kelas 3 SD tidak melanjutkan. Mama nikah tahun 1972 dengan bapa markus magal di Agimuga setelah itu perusahan sudah beroperasi. Di Agimuga mama melahirkan 6 anak, Kris, Yhoanes, Yakoba, Servina,Berdetaha dan Natalia, mereka adalah anak anak yang lahir di tahun 80 an. Ketika peristiwa pemboman di wilayah Yubalia, Noema, Jila yang diduga tempat persembunyian TPN – OPM. Mama dan keluarga saat itu berada di Aramsolki. Ketika peristiwa itu terjadi banyak pengiriman tentara ABRI ke daerah pedalaman seperti tempat kami. banyak daerah juga yang dikasih Zone Merah.
Akibat peristiwa itu keberadaan kami masyarakat sipil menjadi ancamana karena waktu itu susah ABRI mau bedakan mana TPN – OPM dan Militan Combatan atau masyarakat sipil biasa. Akhirnya kami Transmigrasi lagi menuju Kwamki Baru dan menetap di sana. Satu tahun mama tinggal bersama bapa Thobias Magal hingga tahun berikut mama pindah karena sudah mendapat rumah di lorong Amole. Ketika masuk tahn 1984 bapak paulus Magal meninggal dunia sehingga kami berduka selama 4 hari.
Awal dari Perjuangan Mama- Mama.
Pada tahun 1980, situasi di kota Timika masih sepih dan rawan, hanya ada PT.Freeport Indonesia dan aparat (ABRI/ TNI) yang sedang berkuasa. Aparat digunakan untuk melindungi objek Vital di Wilayah pengoperasian PT.Freeport Indonesia. Daerah Timika menjadi tempat operasi Militer (DOM) dengan pasukan yang khusus Angkatan bersenjata (ABRI). PT.Freeport Indonesia datang dengan keuntungan (Profit) sehingga masyarakat Amungme dan Kamoro (AMOR) disitu tidak di anggap sebagai pribumi dan pemilik hak wilayat (Indegneouse People). Masyarakat pribumi dijadikan seperti binatang/dicap sebagai Tentara Pembebasaan Nasional (TPN), Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Pada tahun 1977 Militer Masuk di Kwamki Baru dan mendarat di Airport Timika dengan Pesawat Herkules besar. Saya tanya kepada bapa adik saya, “Bapa ini tentara dari mana yang masuk ini”? Bapa saya, Paulus Magal mengatakan bahwa “ Anak jaga lihat besok lusa tentara itu yang nanti makan kita“ kemudian saya bertanya lagi, kenapa mereka mau makan kita jadi? Bapa bilang, “mau mengamankan Timika jadi mereka datang” (Yosepah Alomang)
Percakapan diatas merupakan dialog seorang mama, Yosepah Alomang bersama Bapa adiknya Paulus Magal. Hal ini mendandai bahwa kehidupan pribumi masyarakat Amungme mulai terancam. Pengirimian terus dilakuakan untuk menjaga agar masyarakat atau Gerakan Pemberontak yang dicap oleh Aparat sebagai OPM tidak menggangu pengoperasian. Banyak sekali penembakan yang sering terjadi di daerah Pengoperasian Freeport yang menurut pendapat masyarakat Amungme itu sebuah rakayasa manipulatif. Keamanan diarea Freeport terus diperketat. Dari Mile 32 hingga tambang terbuka (overbound) sepanjang lika – liku jalan beberapa meter pasti ada post militer.
Kehadiran Militer dengan ditumpangi kepentingan ekonomi Negara ini. Mengundang kelu- kesah yang menyakitkan sebagian masyarakat asli Amungme dan Kamoro. Sejak itu, kehidupan Masyarakat Amungme dan Kamoro mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan itu terlihat pada formasi struktur kehidupan masyarakat Amungme & Kamoro yang dulunya adalah Pekerja keras untuk mendapatkan makanan namun hal itu telah hilang secara perlahan lahan, masyarakat sekarang hidupnya sangat Konsumtif. Freeport menciptakan situasi yang krusial, masuknya wanita – wanita PSK (KM 10) dari luar untuk memuaskan napsu para pekerja sudah menjadi gambaran umum. Banyak anak- anak muda yang suka Mabuk – mabuk, keluarga menjadi berantakan. Semua ini merupakan hasil dari hadirnya Perusahan Freeport ini.
Kelompok Doa Mama Melahirkan YAHAMAK
Karena itulah muncul seorang figur yaitu Yosepah Alomang dengan membentuk kelompok Mama – Mama Amungme dan Mulai membentuk kelompok Doa. Dari sini Mama saya bersama Mama lain bergabung dengan Kakak Yosepah mulai bersama sama memulai pergerakan ini lewat doa mama. Melihat situasi saat itu tidak dapat dibendung kekuatan ABRI yang begitu kecam. Karena situasi yang mencekam, kekerasaan yang sewenang – wenang oleh Aparat (ABRI). Pada tahun 1983 – 1985 kekerasaan secara fisik berupa Pemaksaan dan Penyiksaan terhadap Andreas Yeanem, Yakobus Alomang, Linus Kwalik dan Matias Kelanangame, tepatnya di pasar minggu (Jln Trikora). Membuat kelompok doa ini hadir karena memang satu – satunya kekuatan mama – mama hanyalah mengucap doa dan memohon Tuhan agar melindungi setiap keluarga yang disiksa dan dianiyaya. Kelompok ini berjalan dengan semangat doa dan menjadwalkan doa pada setiap lingkungan di Kwamki Baru. Sementara itu, pada tahun 1986 – 1989 Pater Nato Gobai yang sedang bertugas sebagai Diakon di Mapurujaya. Didatangani oleh kelompok mama – mama antara lain; Yosepah Alomang, Theresia I. Magal, Ema Natkime dan Elisabeth Beanal dan 13 Anggota lainnya. Kedatangan mereka membuat Pater Nato Gobai senang dan beliau mengusulkan untuk membentuk sebuah Koperasi melihat latar belakang mama – mama saat itu berprofesi sebagai petani. Akhirnya, kesepakatan pembentukan koperasi itu membuahi hasil yang baik, koperasi itu diberi nama Kulalok. Kemudian untuk modal awal setiap kelompok mama- mama
Apa yang diperjuangkan oleh kelompok Doa mama ini dibantu juga oleh pihak keuskupan Jayapura atas Berkat pemberitahuan pater Nato Gobay kepada pihak uskup Moninghof di Jayapura, akhirnya Uskup membantu modal sebesar 1.000.000,. berputar dengan modal itu, uskup menekankan untuk membantu suku kamoro. Agar mereka juga dapat membuat sebuah kelompok. Setahun berikutnya kelompok doa mama berhasil mendirikan Kios dengan struktur pengurus; Nikolaus Magal sebagai pengurus, Anton Onijoma sebgai sekretaris dan Theresia I. Magal sebagai Bendahara.memberikan sekitar Rp 84.000,.
Selain itu, Sekitar tahun 1986 bapak uskup Maninghof tiba di Timika, dari sinilah kelompok doa ini datang dengan aspirasi mereka melalui sebuah Noken yang berisi uang derma sebesar RP 500.000 dan satu butir telur bersama sebuah pesan kepada bapa suci yang berada di Vatikan, bpak Paus. Surat itu berbunyai “bapa tolong doakan orang Papua dan para pejuang yang berada di luar maupun dalam Papua serta para pejuang yang sudah mendahului kita”. Bapak uskup berjanji akan membawakan ini langsung ketangan bapa suci. Sekitar tahun 1987 uskup menerima surat dari bapa suci bahwa surat yang diisi di Noken telah diterima oleh Beliau. Hasil dari itu, 5 orang dari kelompok doa mama ini dipanggil oleh Uskup untuk membicarakan lebih lanjut. Kelima mama ini berhasil menerima sebuah penghargaan berupa sebuah YAYASAN LORENS, khusunya mama – mama Amungme dan Orang Papua pada Umumnya.
Hasil itulah, Mama Yosepah Alomang berusaha untuk melobi Gereja dan sahabat Aktivis lain di Jayapura. Akhirnya, apa yang dicari dijawab oleh Mama Yosepah Alomang dijawab oleh Gereja. Uskup Leo Laba Ladjar dan pendeta Herman Saud ketua Sinode GKI Tanah Papua bersama pendeta Ronsumber dan Robert Mandosir berhasil menghadirkan Yayasan Hak Asasi Manusia Ini hadir di Timika. Peresmian YAHAMAK pada tanggal 23 januari 2001 oleh pastor Nato Gobay waktu itu mewakili Uskup Jayapura setelah peresmian baru Uskup tiba di Timika. Sebagai badan pengurus YAHAMAK periode pertama, struktur organisasi seperti begini, Konsultan dipegang oleh Willy Mandowen, Direktur dijabat sebagai Yosepah Alomang lalu Wakil Arnol Rumaropen (merangkap sekretaris) dan Mama Theresia sebagai Bendahara.
Begitulah sedikit cerita dari kehidupan saya, kehidupan yang diwarnai situasi yang keras. Saya terbentuk dari setiap memori itu. Mama saya menjadi dasar motivasi saya terus berjuang dan bertahan. Saya melihat Indonesia dengan memori dan kenangan saya. Bagaiamana saya menjadi Indonesia? Tak ada yang lebih penting dari itu, karena sebenarnya Indonesia itu telah menunjukan wajahnya dalam kehidupan saya. Situasi dan keadaan waktu itu tidak berbeda jauh hingga saat ini. Nasionalismeku tidaklah berubah jika berubah mungkin saya telah pergi meninggalkan bumi ini yang penuh dengan manuisa yang tamak dan rakus.











