Diam di hadapan ketidakadilan adalah pengkhianatan yang halus, tapi mematikan. Kita sering mengira bahwa sikap pasif adalah jalan aman, padahal justru di situlah kekuasaan tiran menemukan legitimasi. Penindasan tidak selalu lahir dari peluru atau palu godam; ia tumbuh dari keheningan massal, dari rakyat yang memilih tutup mata ketika kebenaran diseret ke pengadilan kepalsuan.
Di negeri ini, suara yang jujur kerap dibungkam dengan stigma, sementara kebohongan dirayakan di podium kekuasaan. Pertanyaannya: sampai kapan kita membiarkan diam menjadi bahasa yang memberi makan para penindas?
Tidak ada komentar
Posting Komentar