Tampilkan postingan dengan label WAWANCARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAWANCARA. Tampilkan semua postingan

Hugo Blanco Tentang ‘Ekososialisme’ Dan Perjuangan Masyarakat Adat

Hugo Blanco
. Pada pertemuan Jaringan Internasional Ekososialis baru-baru ini di Brasil, terjadi diskusi besar mengenai apakah kata “ekososialisme” sebaiknya digunakan di Amerika Latin. Khawatir bahwa kesulitan penerjemahan mungkin menyebabkan beberapa kesalahpahaman, pemimpin petani pribumi Peru Hugo Blanco mengirimkan pesan ini untuk memperjelas pandangannya

Kawan:

Pada pertemuan di Belem, saya menjelaskan penolakan penduduk pribumi terhadap kata ‘sosialisme’, namun baik saya maupun siapapun di sana tidak mengusulkan untuk mengganti nama tersebut. Sampai saat ini, ini adalah kata terbaik.

Kami memahami bahwa ‘ekososialisme’ adalah ide baru bagi masyarakat perkotaan. Hal ini tidak terjadi pada masyarakat adat di benua Amerika (saya tidak tahu tentang kelompok masyarakat adat lainnya, namun saya yakin hal serupa terjadi di benua lain) yang telah berjuang untuk ekososialisme selama lebih dari 500 tahun. Mengabaikan pernyataan ini akan menunjukkan bahwa sistem kepercayaan eurosentris(Eropasentris) Anda tetap menjadi pusat pemahaman Anda, sebuah kekurangan yang harus dilampaui oleh orang-orang revolusioner.

Saya memahami bahwa ekososialisme merupakan hal baru di kalangan penduduk perkotaan, namun hal ini tidak berlaku bagi banyak masyarakat adat. Kebangkitan gerakan masyarakat adat secara kontinental disebabkan oleh semakin intensifnya serangan kapitalis neoliberal terhadap dua pilar dasar budaya kita:

1.       Kolektivisme kita (yang merupakan kata lain untuk sosialisme); Dan

2.       Kecintaan kita terhadap alam, Ibu Pertiwi (yang merupakan bentuk lain dari ekspresi ekologi).

Perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan prinsip-prinsip tersebut, selama lebih dari 5 abad, bukanlah sebuah retorika; mereka telah menghasilkan kemenangan parsial namun juga kehilangan ribuan nyawa melalui pembantaian.

Kerangka kerja Masyarakat Adat tidak mengabaikan siapa pun, misalnya Pertemuan Internasional Pertama Melawan Neoliberalisme yang diselenggarakan oleh Masyarakat Adat Chiapas, sebelum Forum Sosial Dunia Pertama, sebuah pertemuan “Demi Kemanusiaan, Melawan Neoliberalisme’ yang melibatkan lebih dari 70 negara.

Dalam World Social Forum, untuk pertama kalinya diadakan partisipasi Masyarakat Adat yang terorganisir. Berkat hal tersebut, kami dapat memasukkan kesepakatan untuk merayakan tanggal 12 Oktober sebagai Hari Internasional Pertahanan Tanah Air, yang bertentangan dengan Oktober 1492, ketika “Amerika menemukan kapitalisme,” sebagaimana dikemukakan oleh Eduardo Galiano dari Uruguay.

Begitu para ekososialis perkotaan memahami kerangka masyarakat adat, akan lebih baik lagi jika kita semakin dekat dan berkoordinasi dengan masyarakat adat di benua ini, yang saya ulangi, telah berjuang selama 5 abad untuk prinsip-prinsip ekososialis.

Sebagai solidaritas,

Hugo Blanco

 

Alasan Keresahan Masyarakat Adat dengan Kata Sosialisme:

Kegelisahan dalam konteks Peru disebabkan oleh gerilyawan Shining Path (SP) yang menamakan dirinya ‘sosialis’ dan membunuh para petani yang menuduh mereka sebagai pengkhianat atau mata-mata padahal mereka tidak mendukung perjuangan SP. Pada saat yang sama, pemerintah menggunakan penyamaran – dengan menjadi anggota SP – untuk membunuh, memenjarakan, menyiksa dan menghilangkan petani, khususnya para pemimpin mereka. Perang ini – antara SP, Movimiento Revolutionario Tupac Amaru – melawan negara Peru berlangsung selama 20 tahun, dan merenggut hampir 70.000 nyawa orang Peru, sebagian besar dari mereka adalah masyarakat adat.

Di Kolombia, masyarakat adat berada di antara tiga kekuatan – tentara, paramiliter, dan FARC (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia). Pada awalnya, ketika FARC menduduki wilayah masyarakat adat, mereka diperintah oleh anggota FARC dengan pengecualian penduduk lokal, itulah sebabnya ketika pemerintah mengambil alih tanah tersebut mereka tidak melakukan perlawanan. FARC menyebut dirinya ‘sosialis’. Saat ini, ketika FARC melemah, mobilisasi masyarakat adat diperkuat.

Di Chili, pemerintahan Bachelet disebut sebagai pemerintahan ‘sosialis’; sebaliknya dia menggunakan metode Pinochet terhadap masyarakat adat Mapuche yang membela ekologi mereka.

Di Ekuador, Correa menyebut pemerintahannya sebagai ‘Sosialisme Abad XXI’. Masyarakat adat mendukung pemerintah, namun menentang kebijakan tersebut ketika pemerintah mengizinkan perusahaan pertambangan untuk merusak alam dan tanah mereka tanpa persetujuan mereka sebagaimana diatur dalam Kovenan 169 OIT.

Saya menjelaskan kegelisahan masyarakat adat yang telah berjuang selama berabad-abad untuk prinsip-prinsip yang sama yang diusulkan oleh para ekososialis, namun saya tidak menyarankan untuk mengubah nama tersebut. Nama tersebut adalah yang terbaik untuk penduduk perkotaan.

Namun, izinkan saya memberikan pendapat saya tentang sikap ekososialis perkotaan terhadap gerakan masyarakat adat?

Saya bisa melihat seberapa dalam sistem kepercayaan eurosentris(Eropa Sentris) dalam gerakan revolusioner perkotaan.

Oleh karena itu, tersebarlah gagasan bahwa prinsip-prinsip tersebut pertama kali diperlihatkan. Mereka buta terhadap perjuangan panjang masyarakat adat di benua ini untuk memperjuangkan prinsip-prinsip ekososialis; dan mereka juga tidak dapat melihat keberadaan pemerintahan ekososialis yang sudah ada di Chiapas, di pinggiran Meksiko.

Saya percaya bahwa jika gerakan ekososialis perkotaan mampu memahami realitas ini, maka mereka akan lebih dekat dengan mereka yang membangun ekososialisme melalui tindakan, bukan melalui deklarasi. Ekososialis perkotaan dapat memperkenalkan perjuangan sehari-hari masyarakat adat kepada masyarakat perkotaan yang kurang berpengalaman dan juga mengorganisir kegiatan solidaritas dengan mereka.

Terlepas dari apa yang saya katakan, saya setuju dengan dokumen yang saya tandatangani. Saya tertarik dengan perkembangan gerakan kami. Ketika saya tenggelam dalam perjuangan masyarakat adat, saya dapat menjembatani gerakan ini antara masyarakat adat dan kaum ekososialis perkotaan. Perjuangan kita sama. Masing-masing pihak perlu mengatasi prasangka masing-masing untuk mendukung pemerintahan dunia yang akan menyelamatkan umat manusia dari bencana ekologis yang akan segera menghancurkan spesies kita dalam waktu kurang dari satu abad.

Hugo Blanco


Hugo Blanco adalah tokoh sentral dalam pemberontakan petani di Cuzco, Peru, pada tahun 1960an, dan masih aktif dalam perjuangan tersebut hingga saat ini. Dia menerbitkan surat kabar Lucha Indigena

 


BEM UT: Nobar dan Diskusi Film Memperingati Rasis dan Mutilasi

Brosu Nobar dan Diskusi Film Mutilasi 4 Warga Sipil Papua Di Timika.
( Foto Dok BEM UT)
Timika, KoranMAI-P – Dari hasil pantaun KoranMAI-P.  Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Timika (BEM UT)  melakukan Diskusi dan Pemutaran Filem dengan berjudul “ RASIS dan MUTILASI . Diskusi ini dilumai dengan pengenal istilah RASIS oleh kawan Freedom sebagai pematik Diskuysi. Rasisme adalah perbedaan perilaku dan ketidaksetaraan berdasarkan warna kulit, ras, suku, dan asal-usul seseorang yang membatasi atau melanggar hak dan kebebasan seseorang. Sabtu, 22/09/2023.

“ Rasisme juga sering diartikan sebagai keyakinan bahwa manusia dapat dibagi menjadi kelompok terpisah berdasarkan ciri biologis yang disebut “ras”. Gagasan ini juga meyakini ada hubungan sebab akibat antara ciri fisik suatu ras dengan kepribadian, kecerdasan, moralitas, dan ciri-ciri budaya dan perilaku lainnya, yang membuat beberapa ras secara ‘bawaan’ lebih unggul dari yang lain”.

Persentuhan orang Indonesia dengan rasisme bisa ditelusuri setidaknya sejak masa penjajahan Belanda, ketika Dutch East India Company (Vereenigde Oostindische Compagnie/ VOC) menetapkan penggolongan kelas dan melegalkannya. 

Bangsa Eropa menaklukkan Indonesia dengan menyerang dimensi paling mendasar dari eksistensi manusia, yaitu fisik dan rasnya. Sebutan ‘bangsa kuli’ juga dilekatkan penjajah pada masyarakat saat itu. Sebutan yang merendahkan itu menjadi strategi penjajah untuk mempermudah penguasaan ekonomi dan politik di Indonesia. 

Lepas dari penjajahan asing, warga Indonesia sendiri pun tidak lepas dari perilaku diskriminatif. Beberapa insiden yang pernah meledak belum lama ini menguak perilaku rasis sebagian warga Indonesia kepada orang Papua. 

Misalnya, pada Agustus 2019, sebuah organisasi masyarakat menyerang asrama mahasiswa Papua di Surabaya, menuduh mereka membuang bendera ke selokan sebelum perayaan kemerdekaan, dan menghina dengan kata-kata seperti “monyet,” “anjing,” “binatang,” dan “babi.” Insiden ini mendorong orang Papua turun ke jalan memprotes tindakan diskriminatif itu di beberapa kota. Ironisnya, beberapa peserta aksi tersebut lalu justru ditangkap atas tuduhan makar. Victor Yeimo yang merupakan juru bicara Komite Nasional Papua Barat (KNPB)   didakwa makar karena dianggap memotori mendalam yang terjadi di Kota Jayapura pada 19 dan 29 Agustus 2019. Terdakwa kasus rasisme, Victor Yeimo akhirnya divonis delapan bulan penjara oleh Majelis Hakim dalam peradilan di Pengadilan Negeri Jayapura, Papua ,   Victor Yeimo dibebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan Abepura, Kota Jayapura, pada Sabtu (23/9/2023).

Dalam diskusi itu ada salah satu pesera diskusi yang tidak mau namanya disebut dengan suara yang tegas mengatakat “Kami Bangsa West Papua akan mendapatkan perlakukan Rasis oleh Bangsa Indonesia,  Jika Kami masih hidup dalam Negara Kolonil Indonesia ini”

Ada Kawan perempuan yang tak mau juga namanya disebukan mengatakan “ Ingat kawan Rasisme itu adalah anak kandung dari Kapitalisme dan Kolonial Indonesia, mereka lakukan ujaran Rasis kepada bangsa West Papua ada alasan yang mendasar dalam Penjajahan. Dengar ucapan Rasis kami pun akan menjadi manusia yang takut.

Dikusi yang sangat serius dengan Topik Rasis, namun waktu pun berjalan sekitar jam 20;00 malam. Diskusi pun dilanjutakan dengan Pemutara Film Mutilasi Timika yang diproduksi oleh SKPKC Fransiskan Papua pada Agustus 2023. Sutradara: Yokbeth Felle & Bernard Koten Durasi: 43:02 Menit Produksi: SKPKC Fransiskan Papua, Tahun Produksi: Agustus 2023.

Film ini menceritakan tentang Mutilasi di Timika, Papua adalah salah satu tragedi kemanusiaan yang sangat mengerikan. Tepat pada tanggal 22 Agustus 2022, empat warga sipil tewas dengan cara ditebas menggunakan parang, ditembak, lalu dimutilasi. Pelaku kasus mutilasi ini terdiri dari 6 anggota TNI dan 4 warga sipil. Peristiwa ini menggegerkan Papua bahkan dunia internasional. Kasus ini menjadi salah satu kasus yang disinggung dalam Sidang Dewan HAM PBB pada September 2022 lalu.

Film Mutilasi Timika yangdiproduksi oleh SKPKC Fransiskan Papua pada Agustus 2023 adalah sebuah upaya pendokumentasian pelanggaran HAM di Tanah Papua, yang disebabkan karena pelabelan atau stigma separatis dan KKB terhadap orang Papua. Stigmatisasi ini telah menyebabkan kekerasan dan pembunuhan sewenang-wenang. Kejahatan kemanusiaan ini menambah memoria passionis kemanusiaan di Tanah Papua. Bagaimana kejahatan tersebut terjadi dan bagaimana perjuangan keluarga korban dalam memperjuangkan keadilan bagi keempat korban? Silahkan ikuti cerita lengkapnya dan berbagi.


Setelah akhir dari pemutara film ini adapun banyak kesedian, kesal, dan marah yang terbangun dalam setiap hati peserta dikusi malam itu. Pematik Diskusi kawan Freedom pun memberikan pandangan singkat tentang film Mutilasi” Sampia kapan pun kami akan diangkap sebagai binatang yang harus di bunuh “

Diskuis film Mutilasi saya berikan untuk kita semua di forum ini silakn “ Kata Freedom

 

Iren : menagapi film mutilasi dengan suara dan tangisan ketika menglihat orang papua yang di potong-potong seperti ayam potong di pasar baru timika. “ Saya sakit Hati sekali sebagai Perempuan yang melahirkan anak Manusia Papua, tapi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan seenaknya membunuh anak-anak yang saya kandung selam 9 bulan dan saya lahirkan mereka , itu semua menjadi makan bagi Militer Indonesia. Kami dibunuh dengan berbagai alasan dan kami akan menjadi minoritas diatas tanah Papua ini kawan-kawan. Mari kita bersatu untuk melawan Penindasan diatas tanah Papua.

Lanjut Iren”  Di negara Indonesia Demo mati,  banyak yang mereka lakukan untuk Pembungkaman suara rakya papua dengan alasan suipin ddl ,ketika kita orang Papua mau aksi damai”.

Ada juga salah satu kawan namanya Wenda menyampaikan “ Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini dipimpin oleh Orang Indonesia yang juga berkulit putih, maka  kasus ini mereka tangani tidak serius. Kita Papua tetap Papua, kalua Indonesia itu semua orang oyame yang ada di Papua.  Dalam hati kecil orang Indonesia mereka tu sangat benci kepada kita orang Papua Pemilik Tanah Ini kawan.

Pinus  : Film itu sangat luar biasa, karena mereka buat flem itu dalam tekanan penjajahn, flem ini juga tidak terlepas dari rasisme. Kita ini belum lahir dalam perbudakan jadi kita rasa biasa-biasa saja, karena perbudakan itu hidup diatas ketergantugan. Kita ini sudah tidak diangkap lagi. Saya sakit hati sekali karena kami orang papua dari berbagai suku tahu masalah Mutilasi 4 warga sipil dari Nduga tetapi kami diam, seharusnya kami bersatu melawan ketidak adilan yang terjadi pada kita orang Papua , Kalua masalah peran suku antar kelompok kita cepat sekali respon untuk baku bunuh. Sial.

Lanjut Pinus “ Begimanakah mau bangun persatuan sedangkan kita saja tidak bersatu melawan kasus Mutilasi 4 Warga Sipil di Timika yang Tubuhnya di potong-potong . Memanasnya kasus mutilasi Timika Negara Indonesia membuat Tuan Rumah PON Di Papua . Fokusinya rakyat Papua mengikuti perkembangan masalah Mutilasi , malahan dibelokan ke PON Papua dan itu bagian dari pengalihan isi Mutilari. Kegiatan olaraga baru kita rame-rame . “Sekarang ini kita generasi Papua adalah generasi galau”.

Otis : Kasus mutilasi yang terjadi di Timika terhadap 4 warga sipil asal ndugama ini saya pikir belum sampai di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), karena PBB tidak pernah memuat kasus dan suarakan isu-isu seperti ini. Kita sebagai mahasiswa/I Papua pu tugas dan tangung Jawab untuk Menyuarakan  Aspirasi Orang Papua . Di Intan Jaya banyak masyarakat sipil Papua yang dibunuh sekita 71 orang, tapi kami mahasis diamkan dan tidak pernah bangun dikusi seperti ini . semoga kedepan kita lebih aktif melakukan dikusi di kapus ini.  

Eton : Rasis masuk pas orang kulit patih masuk dengan rasis di Papua . Saya bersyukur karena ada yang buat  video documenter tentang Mutilasi 4 warga sipil Papua asal Ndugam oleh SKPKC Fransiskan Papua.  Dari film ini Soal penegak hukum juga sangan rasisme, karena pelaku pembunuhn di hukum dengan penjara 10-15 tahun . Penerapan UU Indonesia tidak adil di terhadap orang Papua. Kasus pembunuhan itu banyak yang dilakukan oleh Indonesia melali aparat Militernya TNI dan POLRI di Papua tetapi selalu di benarkan oleh Hukum Indonesia . “ Film sudah jelas, tapi satu yang belum saya lihat ketika Para Pembunuha 4 warga sipil dalam penjara .

Belau : orang tua kami melahir kami dengan organ tubuh yang lengkap, tapi setelah dengan Indonesia kami pu tubuh tadak lengkap. Hukum Indonesia tidak bermanfaat bagi orang Papua dan tidak bisa melindungi orang Papua. “ walaupun kita orang Papua yang melakukan baik dalam Indonesia , tetap saya kita salah. Film itu luar biasa.

Setelah dikusi selesai di tutup dengan pembacaan puis oleh kawan Freedom yang berjudul

 

 “NKRI HARGA MUTILASI ”

Di hari itu bulan Agustus

6 Hari setelah HUT RI

22 Agustus 2022

Nyawa menjadi Kado Spesial

 

4 korban di Mutilasi

Dari agendanya terstruktur rapi

Dengan sengaja menyalakan api

Entah apa motifnya, kami bingung

 

Berita tersebar luas

Mengertak pintu-pintu emosi

Mengikis habis lapisan kesabaran

Menampung porsi emosi yang tinggi

 

Sungguh BIADAB....

Apakah Aparat adalah Keparat?

Mengapa Polisi Menjadi Polusi

Keadilan itu apa sebenarnya?

 

Hegemoni kembali beraksi

Kematian mengertak rakyat

Lagu lama kembali diputar

Irama-irama kemunafikan terdengar

 

Menyebarkan udara pada menampung minyak

Tercampur namun mereka tak bersatu

Namun dipaksakan,

Udara bukan minyak dan begitu

sebaliknya

 

Aku sepertinya tak bisa tidur

Berhalusinasi pada sejarah kelam

Menghayati luka-luka terpendam

Sepertinya ini sudah saatnya

Aku telah berdiri

Mencoba mempersiapkan diri

Sudah tak ada lagi pintu kebebasan

sepertinya aku harus

BERDIKARI

Berdiri di Kaki Sendiri


Kota Kapital, 14 September 2022

Kebebasan  Karya  Kobogau

 

Doa Penutuk . Sekian dan terimaksi kedepan kita akan bertemu lagi Tutur Freedom.

Editor : WK