Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Tanah Dan Mama

Foto Ilustrasi. Mama Etina Mirip yang tertenbak mati oleh Militer Indonesia
di Intan Jaya - west Papua 

Tanah & Mama

Katulistiwa pasti tak akan diam
Ketika daging mu harus terluka
Di makan Seonggok peluru militerisme
Tubuh mu kembali kepada semesta

Bintang dan bulan pun berduka
Menyaksikan darah mu
Yang berteriak meminta tolong
Di tengah keheningan malam

Mati di Cengkareman kolonialisme
Bersandiwara dengan kata cinta nasionalisme
Tanah mu di nodai tamak nya kapitalisme
Nyawa di tukar emas tanah di bayar darah

Pergi tanpa berucap mati tak bersuara
Kepergian mu menyiksa Atma
Amarah bergojolak menyiksa batin
Kau pergi membawa duka bukan sukacita

Sampai jadi debu walau tinggal lara
Bagi ku kau abadi selamanya
Sebab dirimu adalah mama
Engkau Tanah dan mama
Sumber Kehidupan.

Karya : Misela Tabuni
Sabtu,24/05/2025

Perempuan Pu Masa Lalu Aib

Iliustrasi, Kegitan Lapak Baca Agamua(Dok,Misela Tabuni)

PEREMPUAN PU MASA LALU AIB ⁉️

Oleh : Misela Tabuni

Di beberapa kasus Perempuan yang kebanyakan lebih memilih untuk tidak bercerita tentang masa lalunya,di karenakan karena menurut masyarakat ketika perempuan yang mempunyai masa lalu kelam adalah "Aib".

Banyak di luar sana perempuan yang mau speak up,ingin untuk bersuara tentang apa yang mereka rasa tapi, tidak banyak dari mereka memilih diam,hanya karena masa lalu adalah "Aib."

Di tengah masyarakat kita ada standar dan spesifikasi.untuk perempuan menyandang predikat, "Baik" dan "Buruk". Perempuan yang baik, sudah pasti yang sesuai dengan imajinasi masyarakat,apa lagi di pupuk dengan pemahaman "Agama."

Di mana realitas yang kita tahu ketika perempuan,kehilangan "Keperawanannya" maka,sudah pasti akan menjadi aib di tengah masyarakat,akan muncul narasi-narasi yang berkaitan langsung. dengan kehidupan nya secara, tidak langsung mengintervensi ruang privasi yang seharusnya bukan jadi Rana kita.

Contoh sederhana saja, sa sudah biasa bahas ini tentang perempuan. yang sering punya hubungan toxic,di posisi ini banyak perempuan yang tidak mau bicara. karena dong rasa itu "aib", sesuatu yang "memalukan", karena dalam dong pu pikiran itu,pasti tentang anggapan orang lain terhadap dirinya sendiri.

"Adoh nanti orang bilang sa buruk,dong pasti cerita sa nanti,pasti dong sebar kan dll."
Belum lagi penekanan dari dalam keluarga ketika perempuan di cap Buruk.

Karena punya kebiasaan jalan malam,isap rokok,mabuk ataupun having sex diluar ketika, perempuan sampai ke tahap ini.Percayalah "harga diri" perempuan itu sudah tidak ada apa-apanya yang di anggap merusak nama baik keluarga.

Seakan-akan Perempuan harus menjaga dirinya agar suatu saat ketika,de cari suami itu de punya latar belakang yang baik, punya masa lalu yang tidak di nilai buruk oleh standar masyarakat.

Yang jadi inti sari nya adalah, kita tidak melihat secara dekat bagaimana. jiwa seorang perempuan, harus terus terluka hanya karena harus memenuhi standar tersebut,di tambah lagi kita hidup di tengah masyarakat Patriarki.

Siang bolong terang juga, jalan dengan kawan laki-laki. di anggap perempuan, yang buruk gonceng dengan laki-laki, di kira baku bawa pulang nongkrong,dengan teman-teman di kira habis pulang hotel.

Jadi perempuan sesusah itu kah? maksudnya kenapa perempuan harus di beratkan dalam kehidupan sosial masyarakat.Seakan-akan ini semakin membenarkan kalau perempuan hanya manusia kelas dua.

Beban trauma yang harus di tanggung ketika kita membudayakan. budaya bisu itu berat nya bukan main.Apa lagi kalau,kita menganggap perempuan hanya dapur,rumah dan kasur.

Sampai kapanpun masyarakat akan buta dalam memahami trauma yang di alami perempuan, justru masa lalu itu harus jadi sesuatu yang punya "makna".Kita tidak hidup untuk masa lalu, kita hidup untuk masa depan.

Kalau ko nilai perempuan hanya dari masa lalu berarti ko pu kacamata belum terlalu tajam untuk melihat perempuan secara utuh.Ketika perempuan punya,kepingan-kepingan masa lalu yang buat de drop,cemas, takut seharusnya kita berikan ruang untuk bisa bicara.

Kasih dia tempat untuk bercerita bahwa,apa yang jadi masa lalu. itu bukan untuk di sesali juga bukan Aib, yang harus di sembunyikan ujung-ujungnya merusak mental, psikis dan fisik.

Sa cuman mau,bilang bahwa masa lalu bukan Aib. tapi mari kita, sama-sama untuk diskusi kita berbagi,kita berani untuk bicara,bahwa kita sebagai perempuan. tidak bisa di ukur nilainya hanya, karena masa lalu kita buruk lalu,kita di nilai belum menjadi perempuan yang "Bermoral."

Kalau ko punya masa-masa yang berat ketika harus mempunyai pasangan yang memperlakukan ko dengan sangat posesif, bicara lah,kalau ko mengalami kekerasan fisik bicara, kekerasan Non-verbal bicara, punya kekerasan seksual bicara dan apapun itu kita berhak untuk bersuara.

Bersuara bukan untuk mendapatkan validasi,kita bersuara ketika tubuh kita di rusak,kita berbicara ketika batin kita di buat trauma dan pikiran kita di jajah dengan standar masyarakat yang melahirkan penindasan.

Jadi berhenti berpikir masa lalu itu "Aib"
Mulai dengan diri sendiri, bicara sama diri sendiri, lalu diskusikan dengan teman di sekitar, berbagai tanpa kita harus menghakimi satu sama lain, berhenti bersikap seolah-olah orang harus lihat ko sebagai perempuan yang baik.

Membaca buku bisa memberikan tempat tersendiri untuk curhat, membaca buku juga bukan tentang mencari validasi tapi perempuan yang membaca sudah pasti memberikan ruang positif bagi tubuh dan jiwanya.

Penulis Adalah Anggota Komunitas Lapak Baca Jalan Kota Agamua

Tanya ?

Ilustrasi, Misela Tabuni

TANYA ?
Waktu itu kau terlihat terburu-buru
dari cara mu menyapa aku mengira kau kembali untuk yang kesekian kalinya.

Lalu hanyut dalam bualan imaji naratif mu
Terlalu cepat jatuh dalam dekapan yang ternyata hanya fatamorgana

ku kira kau memang benar
nyatanya kau hanya teka-teki yang
sempat hilang lalu datang
bawa ratapan bukan harapan

Kini kau biarkan aku berharap
akan kehadiran mu
Membuat ku berlarut dalam keinginan
Yang menyiksa atma

Bunuh saja aku dengan kata-kata mu
Jangan batin yang tersiksa di tengah malam
ketika rembulan menyendiri di antara bintang-bintang

Apa lagi untuk sebuah rindu yang harus di balas dengan kata aku cinta kamu
maka sudah pasti aku menanti mu
Dalam ketidakpastian.

Karya : Misela Tabuni
Agamua, Selasa,20/05/2025

Kepada Cinta

Aktivitas Lapak Baca Agamua(Foto,Misela Tabuni)

Kepada Cinta
Kepada Cinta aku bertanya
Mengapa benci marak disini
Kepada doa aku bertanya
Mengapa dusta laris disini
Kepada berita aku bertanya
Mengapa fakta dihiyanati
Kepada sastra aku bercerita tentang
Kata-kata yang berubah arti

Cinta berbisik kepada sunyi
Banyak orang gelap nurani
Doa berpesan kepada sepi
Banyak orang berlagak suci

Berita diam tak berbunyi
Tanpa fakta ia pun mati
Sastra pancarkan kisah-kisah berani
Seorang penyiar dan indahnya misi

Karya :Teguh Esha
Agamua,Jumat 23 Mei 2025

Senjata Kita



Kawan...
Apa gunanya senjatamu ?
jika kau hanya menyimpan lalu diam...
jika kau duduk tak berkata...
jika kau duduk lalu menyaksikan...
jika kau duduk membaca lalu mengangguk...

diammu membunuh kami...
diammu membunuh dirimu...

kau sebenarnya sudah tau kami...
tiap hari kau baca berita...
mengapa hari ini kau diam...

semua sudah nampak dimatamu...
semua sudah kau dengar dengan baik...
kurang apa lagi kawan ?

senjatamu adalah mulutmu kawan !!!
kenapa tidak kau gunakan ?
apakah kau takut dengan kematian ?
apakah kau dibayar penguasa ?

Apa perlu aku beritahu kepadamu...
tentang apa yang terjadi di kita...

kawan...
diammu menambah kematian...
diammu mengundang penjajah...
diammu menghadirkan malapetaka...

kawan...
senjata kami tak cukup kuat...
hari demi hari tanah kami dikikis...
hutan kami di kuras...
tanah kami di rampas...
rumah kami di gusur...
lalu kamu masih mau diam saja, kawan ?


Karya stella tebai
Amungsa, 28 April 2020

Ingatan Yang Terlupakan

Penulis : Kawan Andi Isoga


Aku kembali menentang sebuah peraduan hingga ke peradaban. Gunung dan lembah menjadi saksi misteri leluhur bersemedi. Sehingga aksara risalah dan sejarah menjadi saksi untuk orang-oramg pribumi.
ku simpan rapat ke dalam otak dan fikiran hati hingga menerobos masuk ke perasaan. 
Aku tidak lahir dan tumbuh bersama leluhurku, tapi aku bisa mengetahui karena aku ada dan melihat eksistensi yang terjadi. 
Dari gunung lembah hingga ke tanjung menjadi saksi peradaban bumi manusia. Sebelum dan setelah malam menjemput siang untuk pulang. Bapak sering bercerita tentang  masa lampau  leluhurku. Bagaimana menjaga alam dan bumi manusia agar tetap ada. Maka itu terus ku ingat dan sampai kapan selalu ku ingat. 

Ada satu Risalah yg masih ku ingat, teruslah bercerita tentang leluhurmu Kau boleh saja tak percaya Tapi yakinlah,
“aku ada maka alam dan bumi pasti akan selalu ada. Bumi dan alam selalu ada karnah aku ada, bumi dan alam selalu ada walau aku telah tiada.”

Ini sebuah pembeda yang aku tuang dalam cerita. Setiap kali aku menulis kembali tentang leluhur memakai bahasa ibu. Membuatku menjadi tahu dan patuh bahwa sebuah amanah harus disampaikan dan tersampaikan untuk anak bumi manusia di manapun berada. 

Aku bercerita tentang alamku, Cendrawasih. Dari kecil aku diajarkan untuk mencintai dan peduli antar sesama.  
Adat dan budaya sekitar menjadi pendongkrak tumbuh dewasaku untuk tetap tegak berdiri dan bersikap dewasa menghadapi penguasa yang selalu menjadi maha untuk bumi manusia.

Dan ini untuk penguasa. Janji tinggallah janji. Semua harapan menuju kesejahteraan hanyala ilusi, memaksa indrawi untuk berintuisi hanyala halusinasi. Tuan dan Puan hadir mempromosikan jualan visi untuk mendapatkan kursi serta jabatan. Lalu asik menertawakan rakyat sampai lupa diri.
Menyampaikan risalah tentang cinta dan kasih yang menyayat hati. Bergelora tiada tara memakai retorika yang sulit dipahami. 
Memaksa pribumi harus berdamai  dengan dirinya sendiri, sendangkan alamnya dengan sadar mata terbuka melihat terus menerus diekslpoitasi. Dan kita menjadi anak tiri yang hidup di negeri kaya raya.

Berjanji memberikan tawaran murah untuk berdiskusi dari hati ke hati. Sungguh bengis kita dipaksa untuk dewasa dan mengerti. Membuat konflik sehingga saling membenci dan mengais sungguh tragis. 
Darah dan air mata bagai air hujan yang terus saja mengalir. Luka dan duka masih terus saja menganga. Tanah dan hak-hak ulayat di rampok lalu di diamkan dengan intimidasi dan moncong senjata.
Begitu banyak air mata yang menetes dari orang tua kami. Begitu banyak darah  yang tertumpah hinggah membanjiri bumi kami yang di berkati. Begitu banyak nyawa yang berguguran ulah tuan - puan yang mempropaganda kami hingga menjadi konflik yg tidak kami ingini. Tuan dan puan memainkan permainan begitu apik, begitu asik menertawakan sampai menghina kami yg berbeda Ras dengan bahasa Rasis. Sungguh, ini sebuah ketertindasan yang memaksa harus bebas dan berdiri sendiri demi kebenaran dan kemanusiaan. 

Kami ingin bebas dan terlepas karena mata hati tdk bisa menipu akal budi. Cermati dan imani lalu berikan perlawanan agar mereka tau kita ada dan berlipat ganda. Menangis untuk negri, menangis untuk bumi manusia yg di tindas semenah menah untuk kepentingan sendiri. Punya hati tapi tdk di gunakan untuk kasih. 

Aku kembali untuk menjadi bacaan setiap isi kepala dan isi dada. Peringatan untuk yg duduk manis menuang kopi dan bermain gadis. isi kepala yang ku tuang dalam kata bahasa.
Rasakan isi dada agar kau bisa merasakan perasaan yang sama dengan Pribumi. Aku abadi bersama alam bumi manusia yang berakal Budi pekerti.

Yang terlupakan 


Sedikit cerita tentang negeriku yang dibutakan oleh politik, sehingga sejarahku dibutakan oleh negara. Kaimana nama kotanya, "senja indah"  julukannya.


Negeri para leluhur
Negeri para raja
Negeri penuh sejarah

Di sana keberagaman suku bangsa adat budaya serta agama masih di pertahankan oleh rakyat menjunjung tinggi nilai leluhur adat budayanya. Indah memang alamnya. Keberagaman dan kekayaan alam Tuhan titipkan di kota kecil yang usinya masih sangatlah remaja: masih sangat belia untuk malu diceritakan. Tapi ketika aku bertolak untuk mengesampingkan malu dan ego. Tiba-tiba aku meneteskan air mata, rasa bangga yang tiada tara. Begitulah kota kecil yang masih remaja di bagian selatan Papua

Berbagai literatur menjelaskan tentang sejarah penjajahan koloni Hindia Belanda pertama kali ke Papua Barat. Tapi tidak menjelaskan dengan detail dimanakah benteng pemerintahan Belanda pertama kali di dirikan di masa itu. Terlepas dari itu, benteng pemerintahan yang didirikan di kampug Lobo/ Triton "Fort Du Bus nama bentengnya 24 Agustus 1828" menandakan ekspansinya koloni Hindia Belanda di tanah Papua pertama kali. Kita mesti berbangga diri karena dari senjahnya kita tercatat di dunia. Namun dibutakan oleh sejarah koloni Indonesia sendiri.
Nama kota dan sejarah kita memang tidak pernah diperkenalkan oleh koloni Indonesia. Atau dibukukan kemudian diajarkan di bangku sekolah. Tapi ingat, sejarah kita tertulis rapi dan tersimpan di perpustakaan Belanda. Kita sebagai generasi yang besar dan tumbuh bersama alamnya. Jangan merasa peka dada dan besar kepala, kalau tidak mengetahui sejarah bangsa sendiri.

Para tetua mengajarkan kita, “bacalah dan sampaikan setiap risalah dan sejarah”. Jangan sampai kita menyesal ketika orang lain yang akan menceritakan dan menjelaskan sejarah bangsa kita. Karena aku sudah merasakan ketika kita buta untuk mencari ilmu pengetahuan. Dan sedihnya lagi ketika orang lain yang menceritakan sejarah kita. Aku hanya tunduk dan patuh, setelah itu aku mencari dan sampaikan seperti para leluhur, para raja, para tetua sampaikan.


Kita adalah anak cucu leluhur. Yang tidak pernah meminta dilahirkan di negara mana. Di daerah mana dengan keadaan apa. Sejatinya kuasa Tuhan telah mengizinkan kita untuk menikmati ciptaa-Nya yang hanya sementara ini. 

Kebenaran di tunjang oleh eksistensi ide dan realita yang terjadi. Dunia adalah bahan mentah yang digunakan manusia untuk menciptakan sejarah dan perjalanan kehidupan anak bumi manusia.

Bangunku Terlalu Siang


Penulis :Kawan Andi Isoga


Untuk kesekian kalinya ? bangunku kurang pagi. Aku cemas karena tidak sempat menikmati mentari yang terbias di alam Cendrawasih. Tak ada lagi sagu dan kopi untuk  temani roko gulung kakek. Artinya tidak ada lagi cerita tentang bumi surga dan burung kuning yang menari nari di dahan pohon Matoa dan kayu besi. sudah tidak pernah kita jumpai lagi. Gunung gunung dan lembah lembah menjadi misteri pribumi bersaksi. 

Sejarah mencatat, Cina mengenal bulu-bulu burung eksotis seperti Cendrawasih dan Kasuari. 
Sekarang tak pernah kujumpai lagi, Ataukah sudah habis diburuh oleh para pedebah penebang hutan. negara Cina Tiongkok dibawa kerajaan Sriwijaya ‘Maharaja Sri indrawarman’. 
Memperkenalkan  Lewat perdagangan rempah-rempah bulu burung kuning dan Kasuari juga menjadi daya Tarik Papua di abad ke 17 dan 18. Bahkan dicari dan diburu oleh negara-negara lain. Salah satunya yang dipakai oleh “Putri Marie Antoinette” yang kerap dijadikan fashion kaum bangsawan dan Dipakai juga dalam seragam militer untuk menjadi hiasan pada masa itu.

Pada tahun 1904-1908 terdata 155.000 burung Cendrawasih terlelang di London, Belum termasuk perdagangan di negara-negara besar lainnya. Jangan menyesal  ketika sekarang masi dilakukan pemburuan terhadap burung kuning yang semakin langka. Seperti benalu, ketika ia tumbuh di suatu dahan atau tempat ia akan merusak keindahan yang sudah menjadi surga bagi bumi manusia. Aku takut ketika esok anak cucu generasi tak sempat menikmatinya lagi seperti hari ini yang aku alami. Mari kita jaga alam dan eksistensinya Tuhan!. Dunia adalah bahan mentah yang digunakan manusia untuk menciptakan sejarah. Maka itu mari kita buat sejarah kita sendiri demi menjaga alam dan bumi Cendrawasih.

Tiba tiba aku teringat lagi dengan satu kisah antropologi yang mencatat tentang sejarah kita.  “Mari bercerita” ini yang selalu kutuangkan sebelum masuk ke dalam tulisan cerita.

Hallo, kelihatan kau baik baik saja nenek. Kulitmu hitam, rambutmu keriting, matamu berkaca kaca ketika melihat alammu diboyong pergi tanpa meninggalkan sedikit hak untuk memiliki. Sepertinya kau bukan dari Ras Melayu, melainkan Ras Melanesia. Ada satu suku di pedalaman Papua tepatnya pegunungan tengah Papua. Ada budaya adat dari mereka yang menarik untuk diceritakan. Di mana ketika ada seorang dari mereka kerabat atau saudara dekat mereka meninggal dunia, mereka memotong satu dari jari mereka menggunakan kapak tradisional yang terbuat dari batu. Pasti teman-teman masih ingat film Denias Indonesa Bapa, hormat.

Dengan cara itu mereka meluapkan rasa kesedihan kehilangan dan emosional yang mereka rasakan. Selain itu ada juga yang mereka rasa. Rasa sakit yang hampir sebanding dengan cerita yang di atas. Yah benar, alam Papua yang semakin dieksploitasi  mulai dari perampasan tanah adat, hutan adat, suku-suku asli pribumi terisolir ke kaki gunung dan pantai. Sampai mereka mempropaganda pribumi yang katanya kulitnya hitam, rambutnya keriting, makan makan manusia(kanibal), dan sebagainya. 

Suku Amungme dan Kamoro menjadi saksi kebiadaban para kapitalisme. Mereka terisolir satu ke kaki gunung satu ke bibir pantai. Apa yang lagi kalian rencanakan duluh, mau memusnahkan manusia Papua atau mau merampas kekayaan alam di dalamnya atau keduanya. Sangat miris kebiadaban dan kebencian yang selalu kalian tanamkan untuk kami bangsa Papua. Ketika kami meneriakan kemanusiaan dan ketidakadilan, kalian menganggap kami sebagai separatis. ketika satu orang kulit putih mati di Papua, kalian hujat kami dengan kata caci makian yang jauh dari peri kemanusiaan dan peri keadilan. Sangat sadis hanya kebencian yang kalian berikan. 

“Dugu-Dugu sebagai tempat peristirahatan sang ibu di puncak gunung. “Bagaimana persaan anda jika kami mengambil ibu anda dan kami belah payudaranya?” Kami menganggap gunung adalah ibu kami. Dan alam sebagai tenpat bersemedi para leluhur. 

Papua itu bumi damai  bumi yang di berkati. keberagaman suku, bangsa, adat, budaya, serta agama masih erat dan asik untuk diceritakan. Hey… tidak perlu kalian ajarkan kami tentang cinta kasih Kita lebih paham soal itu.  apalagi tentang toleransi  kami adalah bumi manusia yang menjunjung tinggi nilai leluhur.  Maka dari itu mari kita semua jaga dan rawat alam bumi kita. Papua, Menolak semua investasi-unvestasi yang merugikan rakyat Yang menindas hak hak kami. 

 jangan bungkam suaraku, jangan bungkam kebenaran yang selalu di perjuangkan atas dasar kemanusiaan. Pensilku sedang di raut dan bacaanku sedang di rawat agar menjadi pendoa di kala penguasa lagi menindas kebenaran. 
Aku sampaikan salam untuk para leluhur, para moyang, para raja, para pahlawan, dan untuk pewaris generasi bangsa.

Ini bukan sekedar bacaan, tapi ini adalah sebagian sejarah yang harus disampaikan. Kutitipkan setiap risalah patuhi para tetua. Karena dari mereka kita belajar menjaga keberagaman, toleransi, alam, dan juga budaya. 

Semoga sejarah mengajarkan torang bagaimana mengimbangi akal, hati dan perasaan yang menjadikan tindakan itu berlaku pada kehakikian hidup, bukan jadi paka dada dan besar kepala. Maka, bacalah setiap aksara dan jangan lupa pada sejarah bangsa sendiri!
merawat ingatan dan melanjutkan Risalah dari leluhur.

Sekian

Salam Lestari

Makassar 
12 Mei 2020